Catatan Editorial
Di tengah semarak pembukaan Pesparawi Nasional di Manokwari, Papua Barat, ada satu momen yang menarik perhatian banyak mata. Saat Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama istri tiba di lokasi kegiatan, panitia dan tuan rumah menyambut mereka dengan penuh kehangatan melalui pemasangan syal kehormatan khas Papua.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya sebuah prosesi penyambutan. Namun sesungguhnya, penghormatan seperti itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia merupakan simbol penghargaan kepada seorang pemimpin yang hadir membawa nama daerah dan mewakili harapan masyarakat yang dipimpinnya.
Kehadiran Hendrik Lewerissa di Manokwari bukan sekadar memenuhi undangan seremonial. Kehadirannya menunjukkan bahwa Maluku mengambil bagian penting dalam setiap ruang kebangsaan yang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan persatuan Indonesia.
Sebagai gubernur yang baru memimpin Maluku, Hendrik Lewerissa memperlihatkan komitmennya untuk memastikan bahwa Maluku tidak hanya hadir dalam pembangunan ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga hadir dalam ruang-ruang kebudayaan, keagamaan, dan kehidupan sosial bangsa.
Syal kehormatan yang disematkan di pundaknya seolah menjadi simbol penghormatan kepada seluruh rakyat Maluku. Sebab setiap langkah seorang gubernur di forum nasional sesungguhnya adalah langkah daerah yang dipimpinnya. Setiap penghargaan yang diterima seorang gubernur adalah penghargaan bagi masyarakat yang diwakilinya.
Di arena Pesparawi Nasional, Hendrik Lewerissa hadir bersama para kepala daerah, tokoh gereja, dan pemimpin dari berbagai provinsi. Namun kehadirannya memiliki makna tersendiri. Ia membawa identitas Maluku sebagai daerah yang sejak lama dikenal sebagai laboratorium kerukunan, tanah persaudaraan, dan negeri yang tumbuh dalam keberagaman.
Pesparawi bukan hanya panggung perlombaan paduan suara gerejawi. Ia adalah panggung persatuan bangsa. Dan kehadiran Gubernur Maluku dalam perhelatan nasional tersebut memperlihatkan bahwa Maluku ingin terus menjadi bagian dari harmoni Indonesia.
Di tengah nyanyian pujian yang menggema dari Manokwari, terselip pesan penting bahwa seorang pemimpin tidak hanya hadir di ruang-ruang birokrasi. Ia juga harus hadir di tengah peristiwa-peristiwa yang memperkuat persaudaraan antardaerah dan memperkokoh kebangsaan.
Karena itu, penyambutan hangat yang diterima Hendrik Lewerissa dan istri bukan sekadar penghormatan pribadi. Ia adalah penghormatan kepada Maluku. Sebuah pengakuan bahwa negeri para raja, negeri rempah-rempah, dan negeri orang basudara terus memiliki tempat terhormat dalam perjalanan Indonesia.
Dari Manokwari, kehadiran Gubernur Hendrik Lewerissa mengirimkan pesan sederhana namun kuat: Maluku hadir, Maluku mengambil bagian, dan Maluku terus berdiri bersama seluruh anak bangsa dalam menjaga persatuan Indonesia.
(M.Ltc)