Ritual Sunat yang Membekas di Ingatan
Delina Wamese menceritakan kisah itu dengan sorot mata yang jauh, seolah menarik kembali kenangan yang telah lama ia kubur dalam diam. Subuh itu, langit masih gelap. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, ketika ia bersama kakak perempuannya dan puluhan gadis seusianya digiring ke tepi sungai oleh para perempuan tua adat.
Mereka disuruh berendam dalam air sungai yang mengalir langsung dari Danau Rana—airnya dingin menggigit, menusuk tulang. Sunyi. Hanya suara gemerisik dedaunan dan desir air yang terdengar samar-samar. Di bawah cahaya bulan yang remang, Delina melihat wajah kakaknya memucat, bibirnya menggigil, dan mata yang berkaca menahan rasa sakit yang belum datang.
“Itu bagian dari ritual,” ucapnya pelan. “Sunat perempuan. Kami tidak tahu kenapa harus begitu. Hanya diajarkan bahwa itu adalah cara menjadi ‘perempuan seutuhnya’.”
Ia sendiri tak ingat jelas bagian mana yang dipotong. Yang ia ingat hanya sembilu—bilah bambu tajam yang digunakan oleh para perempuan adat. Rasa sakitnya tajam, menusuk, membekas hingga hari ini. Bukan hanya pada tubuh, tapi juga pada ingatan.
“Kami tidak bisa melawan,” lanjut Delina. “Kami patuh, karena itulah yang diwariskan. Karena di kampung, tidak ada ruang untuk bertanya. Hanya untuk tunduk.”
Delina yang mendengar kisah itu hanya diam. Tapi di matanya menyala perlawanan yang sunyi. Ia tahu, adat adalah pusaka—tapi tidak semua pusaka perlu diwariskan tanpa tanya. Ia tidak ingin generasi setelahnya harus menahan sakit yang sama dalam diam, atas nama kesucian, atas nama warisan yang tak pernah diminta.
Dan di balik sunyi danau itu, Delina Wamese, si perempuan penjaga, mulai menanam benih pertanyaan:
Perlukah adat yang menyakiti terus dijaga?
Atau haruskah ia menjaga danau ini dengan cerita baru—cerita tanpa sembilu dan tangis di balik cahaya bulan?
Namlea, 26 Juli 2026