
Goresan: Yakob Metboki, S.Pd., M.Pd., Ph.D
Motivator Muda UKAW Kupang ( Dosen Pendamping KBPM UKAW 2026)
Mediaistana,com. NTT, 28/07/2026. Pembangunan suatu bangsa tidak dapat diukur hanya dari kemajuan di kota. Titik ukurnya justru ada di desa. Di sanalah persoalan paling mendasar bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat: pangan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Merespon realitas tersebut, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang [UKAW] melalui Kegiatan Belajar dan Pendampingan Masyarakat [KBPM] 2026 hadir di Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Selama 21 Juli hingga 31 Agustus 2026, 30 mahasiswa lintas fakultas ditugaskan di Desa Naukae, Tetaf, dan Lakat dengan membawa tema:
“Optimalisasi dan Inovasi Pemanfaatan Sumber Daya Lokal bagi Keberlanjutan UKAW serta Penuntasan Stunting dan Ketahanan Pangan Masyarakat”.
Pertama, Persoalan Multidimensi Butuh Solusi Terintegrasi
Selama turun lapangan, satu hal yang kami temukan: semua isu saling berkaitan. Stunting misalnya. Ia bukan semata persoalan kurang gizi.
“Stunting tidak bisa hanya diselesaikan dengan makanan. Harus dibarengi dengan pendidikan, lingkungan bersih, dan ekonomi. Itu sebabnya semua isu ini ada kaitan satu sama lain dan harus dikerjakan bersama,”
Artinya, program pemberian makanan tambahan tanpa diiringi edukasi pola asuh, akses air bersih, dan penguatan ekonomi keluarga, akan sia-sia. Begitu juga ketahanan pangan. Ia tidak akan lestari jika sumber daya alam dirusak dan masyarakat tidak memiliki keterampilan untuk mengelolanya.
Kedua, Inovasi Dimulai dari Menghargai Potensi Lokal
Kuatnana memiliki potensi besar. Lahan pertanian, laut, sumber air, dan kearifan lokal adalah modal utama. Namun potensi tanpa inovasi akan tetap stagnan.
Di sinilah peran mahasiswa. Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Perikanan mendorong diversifikasi pangan berbasis jagung dan ikan. Mahasiswa Ekonomi mendampingi UMKM agar produk lokal punya nilai jual. Mahasiswa FKIP memperkuat literasi anak dan orang tua. Mahasiswa Hukum menyosialisasikan pencegahan perkawinan dini. Semua ini adalah bentuk optimalisasi SDA lokal untuk keberlanjutan.
Pendekatan ini penting agar solusi tidak bersifat karitatif sesaat, melainkan membangun kemandirian masyarakat.
Ketiga, Keberlanjutan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Program KBPM hanya berlangsung 1 bulan 10 hari. Namun dampaknya harus jauh lebih panjang.
“Seluruh program ini sangat sesuai dengan kebutuhan dan persoalan masyarakat di setiap desa. Untuk itu diharapkan kerja sama yang baik dari semua elemen masyarakat bersama mahasiswa KBPM UKAW agar dapat memberi asas manfaat dan terus berlanjut setelah kegiatan ini selesai,”
Keberlanjutan hanya mungkin terjadi jika ada kolaborasi. Pemerintah desa, tokoh masyarakat, orang tua, dan mahasiswa harus berjalan dalam satu visi. Mahasiswa hadir sebagai katalisator, bukan pengganti. Tugas kami adalah memantik, mendampingi, dan memastikan program bisa dilanjutkan oleh masyarakat sendiri.
Catatan Akhir
Anak muda adalah agen perubahan. Kampus adalah rumah ilmu. Dan desa adalah laboratorium pengabdian. Ketika ketiganya bertemu dalam satu semangat pengabdian, maka kita sedang membangun masa depan NTT dari akar rumput.
Semoga melalui KBPM 2026, UKAW tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas, tetapi juga melahirkan lulusan yang peduli, yang berani turun, dan yang mau menjadi bagian dari solusi bangsa.
Kupang, 28 Juli 2026
Tentang Penulis:
Yakob Metboki, S.Pd., M.Pd., Ph.D adalah Dosen UKAW Kupang dan Dosen Pendamping KBPM UKAW 2026 di Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, Provinsi NTT.
#MotivatorMuda#DosenUKAWKupang#KBPM2026#