Oleh: Drs. Muz Latuconaina, MF
Di balik lembar-lembar revisi skripsi, ada air mata yang tidak pernah masuk ke ruang sidang. Ada orang tua yang terus mengirim uang meski harus berutang. Ada mahasiswa yang setiap malam berjuang melawan rasa cemas, takut gagal, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
Karena itu, ketika publik dihebohkan dengan kisah seorang mahasiswi bernama Jessica Sofia Tunarjo di Universitas Nusa Cendana yang disebut dua belas kali mengajukan skripsi dan mendapat penolakan oleh dosen pembimbingnya yang akhirnya mengalami depresi berat, peristiwa tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bagi seluruh dunia pendidikan, bukan sekadar tontonan di media sosial. Identitas dan detail kasusnya masih perlu dipastikan, tetapi persoalan tentang tekanan dalam proses bimbingan skripsi adalah isu yang nyata dan layak mendapat perhatian.
Tidak ada yang salah dengan dosen yang menjaga standar akademik. Kampus memang harus melahirkan lulusan yang berkualitas. Skripsi bukan formalitas, melainkan karya ilmiah yang harus dipertanggungjawabkan.
Namun, ada perbedaan besar antara mendidik dengan tegas dan mempersulit tanpa arah.
Dosen bukan hanya penguji kemampuan akademik. Dosen adalah pendidik. Seorang pendidik tidak sekadar menunjukkan kesalahan, tetapi juga membimbing mahasiswa menemukan jalan keluar. Jika setiap revisi hanya melahirkan revisi baru tanpa kepastian, maka yang tumbuh bukan kualitas, melainkan keputusasaan.
Barangkali ada sebagian dosen yang merasa semakin sulit mereka meluluskan mahasiswa, semakin tinggi pula wibawa akademiknya. Padahal kewibawaan seorang dosen tidak diukur dari berapa banyak mahasiswa yang gagal di hadapannya, tetapi dari berapa banyak mahasiswa yang berhasil ia antarkan menuju keberhasilan.
Ingatlah, setiap dosen hari ini pernah duduk di bangku yang sama. Pernah menjadi mahasiswa yang menunggu dosen pembimbing. Pernah gugup menghadapi sidang. Pernah merasakan cemas ketika revisi belum selesai. Pengalaman itu seharusnya melahirkan empati, bukan membuat seseorang lupa bahwa di hadapannya ada manusia yang juga sedang berjuang.
Di balik setiap mahasiswa ada keluarga yang menaruh harapan. Ada ayah yang bekerja dari pagi hingga malam agar biaya kuliah tetap terbayar. Ada ibu yang menyisihkan kebutuhan rumah tangga demi uang bimbingan, fotokopi, penelitian, dan wisuda. Ketika proses akademik berlangsung berlarut-larut tanpa kejelasan, bukan hanya mahasiswa yang menanggung beban, tetapi seluruh keluarganya.
Dunia pendidikan membutuhkan dosen yang tegas, tetapi juga bijaksana. Keras pada prinsip ilmiah, namun lembut dalam memperlakukan manusia. Sebab ilmu tanpa empati akan kehilangan makna, dan pendidikan tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan rasa takut.
Mempermudah bukan berarti meluluskan mahasiswa yang tidak layak. Mempermudah berarti memberi arahan yang jelas, membimbing dengan sungguh-sungguh, memberikan penilaian yang objektif, dan tidak menjadikan kewenangan akademik sebagai alat untuk menunjukkan superioritas.
Tidak ada kebanggaan menjadi dosen yang dijuluki “killer”. Kebanggaan sejati adalah ketika puluhan tahun kemudian, para alumni masih mengenang dosennya sebagai sosok yang disiplin, adil, menginspirasi, dan membimbing mereka hingga berhasil.
Mahasiswa mungkin akan melupakan isi setiap revisi yang pernah ditulis dosennya. Namun mereka tidak akan pernah melupakan bagaimana mereka diperlakukan ketika sedang berjuang menyelesaikan mimpi. Sebab ilmu melahirkan sarjana, tetapi empati melahirkan manusia.
Karena pada akhirnya, gelar profesor, doktor, atau jabatan akademik akan berakhir. Tetapi jejak kemanusiaan seorang pendidik akan terus hidup dalam hati para mahasiawanya….
Ambon, (3/8/2026)