Bulan Merah Darah, Antara Pertanda Bencana dan Doa

 

Malam ini, bulan tampak berbeda.

Cahayanya tidak lagi putih keperakan seperti biasanya. Ia menjelma merah, pekat, menyerupai warna darah yang menggantung di langit malam.

Pemandangan itu tentu mengundang decak kagum, tetapi sekaligus membangkitkan kembali cerita-cerita lama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Orang-orang tua dahulu punya cerita sendiri tentang bulan berwarna merah darah. Dalam tutur mereka, bulan merah kerap dikaitkan dengan datangnya musibah, bencana, atau peristiwa besar yang tidak diharapkan.

Benarkah demikian?

Kita tidak perlu tergesa-gesa mempercayainya, tetapi juga tidak perlu mencibirnya. Sebab cerita orang tua adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Ia lahir dari pengalaman, kekhawatiran, dan cara manusia zaman dahulu membaca tanda-tanda alam dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Hari ini, ilmu pengetahuan memberi kita penjelasan tentang fenomena bulan yang tampak kemerahan. Namun, di balik penjelasan ilmiah itu, manusia tetaplah manusia—makhluk yang selalu mencari makna dari apa yang dilihatnya di langit.

Karena itu, biarlah bulan merah malam ini menjadi pengingat, bukan ketakutan.

Semoga warna merah di langit bukan pertanda musibah akan datang.

Semoga ia bukan alamat bagi bencana, bukan kabar buruk bagi negeri ini, dan bukan pembuka bagi kesedihan yang harus kita tanggung bersama.

Kalaupun dahulu para leluhur membaca bulan sebagai pertanda, maka malam ini kita memilih membacanya sebagai doa.

Doa agar tanah tetap kokoh dipijak.Agar laut tetap bersahabat.Agar keluarga-keluarga tetap berkumpul dalam keadaan sehat.

Agar negeri ini dijauhkan dari bencana, pertikaian, keserakahan, dan segala sesuatu yang dapat melukai kehidupan manusia.

Bulan boleh merah.

Langit boleh menyimpan warna yang tidak biasa.

Tetapi hati kita jangan ikut menjadi merah oleh amarah, kebencian dan pertikaian.

Semoga tidak terjadi apa-apa.

Semoga cerita lama itu berhenti sebagai cerita.

Dan semoga ketika matahari kembali terbit esok pagi, kita masih menemukan kehidupan berjalan seperti biasa—anak-anak berangkat sekolah, para petani menuju kebun, nelayan melaut, pasar kembali ramai, dan keluarga-keluarga kembali bercengkerama di rumah masing-masing.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah ketakutan terhadap tanda-tanda di langit, melainkan doa yang tulus agar bumi tempat kita berpijak senantiasa berada dalam lindungan Tuhan.

Bulan merah telah lewat di atas kepala kita. Semoga musibah tidak ikut bersamanya. Semoga yang tinggal hanyalah doa, harapan dan keselamatan.

Masarete, Teluk Kaiely 29 September 2026 (Mus Latuconsina)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!