AMBON — Senin sore, 31 Agustus 2026, ketika hiruk-pikuk urusan pemerintahan mulai mereda dan jam kantor telah usai, suasana Ambon menghadirkan sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama mantan Gubernur Maluku Murad Ismail terlihat menikmati waktu sore dengan secangkir kopi di Rumah Kopi Lela, Ambon.
Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Tidak ada meja rapat dengan tumpukan dokumen pemerintahan.
Hanya kopi, percakapan, dan suasana sore Kota Ambon.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah sebuah pesan terasa begitu kuat: politik boleh memiliki ruangnya sendiri, tetapi persaudaraan tidak seharusnya kehilangan tempat.
Pertemuan dua figur yang pernah dan sedang memimpin Maluku itu menjadi gambaran bahwa perbedaan posisi, perjalanan politik, bahkan dinamika kekuasaan tidak harus menghapus hubungan kemanusiaan.
Hendrik Lewerissa berada pada posisi sebagai Gubernur Maluku saat ini. Murad Ismail adalah mantan Gubernur yang pernah memegang mandat rakyat Maluku. Keduanya memiliki perjalanan dan pengalaman masing-masing dalam panggung pemerintahan daerah.
Tetapi sore itu, keduanya hadir bukan dalam suasana kompetisi.Mereka duduk sebagai sesama anak Maluku.Secangkir kopi terkadang memang lebih jujur daripada pidato panjang.
Di sebuah rumah kopi, sekat-sekat formalitas pemerintahan menjadi lebih tipis. Percakapan berlangsung lebih cair. Dan manusia bertemu dengan manusia, bukan sekadar jabatan dengan jabatan.
Bagi publik, pertemuan seperti ini tentu menarik perhatian. Bukan semata karena siapa yang duduk di satu meja, melainkan karena pesan kesejukan yang dapat lahir dari sebuah perjumpaan sederhana.
Maluku membutuhkan suasana seperti itu.
Di tengah berbagai perbedaan pilihan politik, perdebatan kepentingan, dan dinamika pemerintahan, masyarakat tentu berharap para pemimpinnya mampu menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan.
Sebab setelah semua jabatan selesai, yang tersisa adalah hubungan antarmanusia.
Dan sejarah pemerintahan daerah tidak hanya dibangun melalui keputusan-keputusan besar di kantor gubernur.
Kadang, ia juga menemukan sisi manusianya melalui percakapan sederhana di sebuah meja kopi.
Senin sore itu, Rumah Kopi Lela menjadi saksi sebuah pertemuan kecil yang menyimpan pesan besar.
Bahwa Maluku tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu berbeda pendapat, tetapi juga pemimpin yang mampu tetap duduk bersama setelah perbedaan itu berlalu.
Kopi mungkin akan habis dalam hitungan menit.
Namun jika pertemuan itu melahirkan silaturahmi, keteduhan, dan komunikasi yang baik, maka maknanya bisa jauh lebih panjang daripada secangkir kopi.
Dari Ambon, sore itu, dua gubernur memperlihatkan satu hal sederhana: jabatan memiliki batas waktu, tetapi persaudaraan seharusnya tidak mengenal batas.
(Mus Latuconsina)