NAMLEA — Ada peringatan yang sekadar mengisi kalender keagamaan. Namun ada pula peringatan yang menjadi ruang untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana ajaran Rasulullah SAW benar-benar hadir dalam kehidupan kita?
Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Perkumpulan Arabian Bupolo (Aljamiah I.B. Buru) bersama Pengajian Ibu-Ibu Albarakah, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di kediaman Wakil Ketua DPRD Kabupaten Buru, Jaidun Sa’anun, tersebut turut dihadiri Ibu Bupati Buru dan Ibu Wakil Bupati Buru. Kehadiran para tokoh tersebut bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi menjadi bagian dari suasana silaturahmi yang dibangun dalam semangat kebersamaan.
Di sinilah Maulid menemukan maknanya yang lebih dalam.
Maulid Nabi sejatinya tidak cukup dipahami sebagai seremoni tahunan, apalagi sekadar kemeriahan acara. Ia adalah muhasabah, sebuah kesempatan untuk mengukur kembali kualitas diri dengan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai cermin keteladanan.
Kejujuran, kesabaran, kasih sayang, persaudaraan, kepedulian terhadap sesama dan sikap menghormati orang lain adalah nilai-nilai yang tidak pernah kehilangan relevansinya.
Sebab, apa arti mencintai Rasulullah jika akhlaknya tidak menjadi bagian dari perilaku kita?
Apa arti bershalawat jika persaudaraan justru mudah retak?
Dan apa arti memperingati Maulid jika setelah acara selesai, tidak ada perubahan dalam cara kita memperlakukan sesama?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang seharusnya menjadi ruh setiap peringatan Maulid.
Dari Silaturahmi Menuju Kebersamaan Membangun Daerah
Peringatan Maulid yang digelar Arabian Bupolo bersama Pengajian Albarakah juga membawa pesan sosial yang tidak kalah penting.
Keluarga besar Arabian Bupolo menyatakan komitmennya untuk terus membangun kebersamaan dan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Buru di bawah kepemimpinan Bupati Ikram Umasugi dan Wakil Bupati Sudarmo dalam upaya mewujudkan cita-cita pembangunan Buru Berseri.
Komitmen tersebut merupakan bentuk kesadaran bahwa pembangunan daerah bukan hanya urusan pemerintah.
Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan pemerintahan yang hadir, terbuka dan mampu merangkul seluruh elemen.
Karena itu, silaturahmi seperti ini memiliki nilai strategis. Ia mempertemukan pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi, kaum ibu dan berbagai elemen masyarakat dalam satu ruang kebersamaan.
Dari ruang-ruang seperti inilah kepercayaan publik dapat dirawat.
Terima Kasih untuk Kehadiran Pemerintah Daerah
Pengurus dan seluruh anggota Arabian Bupolo menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Bupati Buru dan Ibu Wakil Bupati Buru yang telah hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.
Kehadiran keduanya dipandang sebagai bentuk perhatian sekaligus penghargaan terhadap kegiatan keagamaan dan silaturahmi yang tumbuh di tengah masyarakat Bumi Bupolo.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Peringatan Maulid ini digerakkan oleh Ketua Arabian Bupolo, Al-Ustadz Ali Bafagi, Sekretaris Hal Saanun, serta Ketua Pengajian Albarakah, Ibu Sifa Alatas, bersama seluruh pengurus dan anggota.
Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan tentang seberapa megah acara diselenggarakan. Bukan pula tentang siapa yang hadir dan siapa yang duduk di barisan terdepan.
Maulid adalah tentang apa yang berubah setelahnya.
Jika setelah Maulid kita menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli, lebih menghargai sesama dan semakin kuat menjaga persaudaraan, maka sesungguhnya pesan Maulid telah menemukan jalannya.
Dan jika semangat keteladanan Rasulullah SAW itu kemudian diterjemahkan menjadi semangat membangun daerah, menjaga persatuan dan berjalan bersama pemerintah demi kepentingan masyarakat, maka Maulid tidak berhenti sebagai seremoni.
Ia menjelma menjadi gerakan moral.
Dari kediaman Jaidun Sa’anun, Minggu, 30 Agustus 2026, pesan itu terasa sederhana namun kuat:
Meneladani Rasulullah dalam akhlak, merawat silaturahmi dalam persaudaraan, dan bersama-sama membangun Buru menuju Buru Berseri
(Mus Latuconsina)