JAKARTA, Mediaistana.com — Pesan tegas disampaikan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, kepada sekitar 300 jemaat Gereja “Jemaat Petrus”, Senin (14/9/2026), Ia menegaskan kehidupan beragama di balik tembok pemasyarakatan harus mampu melahirkan perubahan nyata dalam sikap dan perilaku.
Syarpani tidak ingin ibadah berhenti sebagai agenda rutin, Menurutnya nilai-nilai keagamaan justru harus tercermin melalui kedisiplinan, kepedulian, kepatuhan terhadap aturan hingga keberanian menjadi teladan bagi warga binaan lainnya,“Jadilah corong kebaikan di Lapas, Tunjukkan bahwa kehidupan beragama mampu membentuk pribadi yang disiplin, tertib, peduli, dan bertanggung jawab,” tegas Syarpani.
Ia juga menyoroti persoalan lingkungan dan fasilitas gereja yang digunakan bersama,Jemaat didorong tidak hanya memanfaatkan tempat ibadah, tetapi ikut menjaga kebersihan, ketertiban serta merawat fasilitas sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Bagi Syarpani, gereja di lingkungan Lapas bukan sekadar ruang untuk menjalankan ibadah, Tempat tersebut juga menjadi bagian dari proses pembinaan kepribadian warga binaan,“Gereja ini adalah rumah bersama, Mari kita jaga dan perbaiki bersama-sama, Makin nyaman tempat ibadah, makin baik pula suasana pembinaan yang kita bangun,” ujarnya.
Dorongan serupa disampaikan Kepala Bidang Pembinaan, Bambang Setiawan, Ia menekankan bahwa keberhasilan pembinaan keagamaan seharusnya dapat dilihat dari perubahan perilaku, bukan hanya dari kehadiran dalam kegiatan ibadah,“Pembinaan agama harus terlihat dalam sikap dan tindakan, Mari bersama-sama menjaga ketertiban, kebersihan, fasilitas, dan menjadi teladan yang baik bagi sesama,” katanya.
Ajakan tersebut mendapat respons positif dari salah seorang warga binaan jemaat gereja, MN, Ia menyatakan siap menjalankan arahan jajaran Lapas dengan ikut menjaga ketertiban dan kebersihan serta mendukung pembenahan gereja,
“Kami akan berusaha menjaga ketertiban, kebersihan, menaati aturan, dan ikut berkontribusi dalam perbaikan gereja agar lebih nyaman untuk beribadah,” tuturnya.
Langkah Lapas Kelas I Cipinang ini memperlihatkan bahwa pembinaan kehidupan beragama diarahkan tidak berhenti pada aktivitas spiritual, tetapi menjadi instrumen pembentukan karakter warga binaan.
Melalui kedisiplinan, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan dan kepatuhan terhadap aturan, nilai-nilai keagamaan diharapkan menjadi energi perubahan menuju kehidupan warga binaan yang lebih tertib, humanis, bertanggung jawab, dan siap kembali ke tengah masyarakat.