MEDIAISTANA.COM | BANYUWANGI -Markas Balai Aspirasi Banyuwangi Selatan di sebuah warung kopi pinggiran kota Genteng, Banyuwangi, Jum’at pagi (2/10/2026). Dari meja kayu sederhana inilah warga pinggiran merumuskan 3 agenda besar untuk Banyuwangi:
Penertiban dan Penindakan *Penyerobotan Aset Negara* 1001meteran di Genteng Kulon belum kelar, *Sungai di Pagar* , penegakan perda, Penegakan hukum, surat penegasan RDPU, evaluasi BMD, aturan zona RDTR dan KTR yang merupakan bagian dari sumber PAD, Pembenahan layanan Publik di ASDP Ketapang hingga kebutuhan pupuk bersubsidi bagi pahlawan pangan di banyuwangi.
*”Bagaimana penyeberangan jika pengusaha B kuasai dermaga dengan kapal bertenaga kecil,apakah layak?”*
*Banyuwangi selatan-* Ada pemandangan yang tak pernah berubah di warung kopi pinggiran kota bayangan ini. Meja kayu yang mulai lapuk, cangkir kopi hitam yang mengepul, sepiring pisang goreng, dan selembar kertas bertuliskan *BALAI ASPIRASI BANYUWANGI SELATAN*.
Ini bukan warung kopi biasa. Ini adalah ruang sidang rakyat.
Dari sinilah, warga masyarakat banyuwangi selatan selama berbulan-bulan menyusun data, mengumpulkan bukti, dan merumuskan aspirasi untuk dibawa ke DPRD.
“Kami tidak punya ruang rapat ber-AC. Warung kopi inilah DPRD kami,” kata M. Rofiq Azmi, Koordinator Balai Aspirasi Banyuwangi Selatan.
Tiga isu besar lahir dari warung ini:
*1. Aset Negara 1001m² di Genteng Kulon* yang bersertifikat tapi diduga dikuasai pihak tertentu.
*2. Lapangan Maron Genteng* yang jelas-jelas Kawasan Tanpa Rokok (KTR) tapi dipakai konser Funfest 2026 dan promosi rokok terang-terangan.
*Diduga tak berporporasi tp,bilang rugi?*
*3. ASDP Ketapang* yang fasilitasnya tidak layak untuk rakyat kecil.
Semua berkas sudah siap untuk RDPU.
Namun Jum’at pagi ini, 2 Oktober 2026, suasana warung kopi itu senyap.
Kabar dari Surabaya datang seperti petir. Tiga oknum DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra, salah satunya Bendahara DPC Gerindra Banyuwangi ADR, digerebek di Hotel.
“Kami tidak sedang merayakan orang jatuh. Kami sedang bersedih karena amanah yang kami titipkan dari warung pinggiran kota bayangan ini, justru tumpah karena kamar hotel digrebek” ujar Rofiq lirih.
Menurut Rofiq, ini bukan lagi soal kasus hukum pribadi. Ini soal tanggung jawab moral sebuah keluarga besar partai yang selama ini menjadi panutan di Banyuwangi Selatan.
“Kami menghormati Bapak Sumail Abdullah sebagai tokoh senior, DPR RI 3 periode dari Wongsorejo. Justru karena beliau senior dan kami hormati, kami berharap ada pembinaan, ada klarifikasi, ada tanggung jawab moral, ada kekecewaan serius, pondasi yang dibangun tidak untuk kepuasan pecandu narkoba.
*”Bukan diam, tapi. Copot!!!”* Karena diamnya tokoh yang dihormati itu menyakitkan bagi kami yang di bawah,” tegasnya.
Balai Aspirasi menegaskan, mereka tetap akan mengawal 3 agenda kerakyatan tersebut, terlepas dari siapa yang duduk di kursi dewan.
*”Warung kopi ini akan tetap buka. Kopi pahit ini akan tetap kami minum. Sampai aspirasi warga pinggiran dari kota bayangan didengar,”* tutup Rofiq.