Rabu, sebuah hari di awal Oktober 2026, rumah Muhamad Daniel Rigan (MDR) di Desa Kumarasa, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, kembali menjadi ruang perjumpaan.
Bukan untuk membicarakan pertarungan politik, bukan pula untuk menghitung siapa menang dan siapa kalah. Melainkan untuk merawat sesuatu yang sering kali lebih mahal daripada kemenangan: silaturahmi dan persaudaraan.
Anggota DPRD Kabupaten Buru dari Partai NasDem, Roby Nurlatu, bersama keluarga besar Nurlatu, datang menemui MDR.
Kehadiran mereka membawa pesan sederhana, namun sarat makna: ucapan terima kasih kepada MDR dan Bella Shofie atas keputusan Bella mengundurkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Buru.
Dalam percakapan itu, MDR justru memilih merendahkan ego politik. Baginya, sebuah kursi parlemen tidak pernah lahir dari satu nama saja.
Kursi itu adalah akumulasi suara.
Ada suara Roby. Ada suara Bella. Ada suara para caleg NasDem lainnya. Ada pula suara rakyat yang memilih partai.
Karena itu, menurut MDR, tidak tepat jika keberhasilan memperoleh satu kursi dipersempit menjadi jasa seorang atau dua orang.
“Tanpa Roby, tanpa Bella, dan tanpa caleg-caleg lainnya, kursi itu mustahil diperoleh.”
Itulah filosofi politik yang hendak ditegaskan MDR: bahwa politik pada akhirnya adalah kerja kolektif, bukan panggung untuk mengabadikan jasa pribadi.
Di titik inilah politik menemukan wajahnya yang lain.
Politik tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Perbedaan pilihan tidak harus berubah menjadi dendam. Dan sebuah keputusan politik tidak semestinya menghapus hubungan kemanusiaan yang telah dibangun jauh sebelumnya.
Bagi MDR, kedatangan keluarga besar Nurlatu adalah sesuatu yang manusiawi. Ia meresponsnya dengan tangan terbuka, bukan dengan membuka kembali lembaran-lembaran lama.
Sebab bagi seseorang yang telah lama berada di jalan politik, kemenangan terbesar bukanlah ketika lawan jatuh.
Kemenangan terbesar adalah ketika hati mampu tetap bersih setelah melewati pertarungan.
Foto yang Beredar Bukan Deklarasi Politik
Pertemuan di Kumarasa itu kemudian menjadi perhatian setelah sejumlah foto beredar di media sosial, termasuk Facebook dan berbagai platform lainnya.
Namun satu hal perlu diluruskan: foto-foto tersebut bukanlah deklarasi politik.
Tidak ada deklarasi pencalonan. Tidak ada pengumuman pasangan politik. Tidak ada keputusan resmi tentang Pilkada Buru.
Yang ada adalah silaturahmi.
Foto hanyalah rekaman sebuah perjumpaan. Ia mengabadikan manusia yang sedang duduk, berdiri, bersama, berbicara, tertawa dan saling menghormati.
Jangan setiap pertemuan politik dibaca sebagai deklarasi, dan jangan setiap foto bersama diterjemahkan sebagai koalisi.
Sebab sebelum seseorang menjadi politisi, ia terlebih dahulu adalah manusia yang memiliki keluarga, sahabat dan saudara.
Silaturahmi tidak harus kehilangan maknanya hanya karena orang-orang yang duduk bersama memiliki latar belakang politik.
Justru dalam politik yang sering penuh prasangka, kemampuan untuk tetap bersalaman adalah sebuah kemewahan moral.
Silaturahmi di Kumarasa itu pun kemudian mengalir ke pembicaraan yang lebih jauh.
Di penghujung perbincangan, keluarga besar Nurlatu menyampaikan harapan agar MDR bersedia mencalonkan diri sebagai Bupati Buru pada Pilkada berikutnya.
Sebuah permintaan yang tentu bukan kalimat biasa.
Namun MDR tidak menjawabnya dengan ambisi. Tidak pula dengan deklarasi.
Ia menyerahkan kemungkinan itu kepada kehendak Yang Maha Kuasa.
“Kalau Allah berkehendak,” menjadi jawaban yang mengandung banyak arti.
Bagi MDR, politik bukan semata soal keberanian maju. Ada banyak hal yang harus disiapkan ketika seseorang hendak memikul amanah yang lebih besar: kesiapan ekonomi, kesehatan, mental, serta yang paling utama adalah kesiapan hati untuk menerima petunjuk Allah.
Sebab jabatan, dalam pandangan seperti itu, bukan sekadar kursi yang diperebutkan.
Ia adalah amanah yang suatu hari harus dipertanggungjawabkan.
Maka dari Kumarasa, pesan yang muncul bukan sekadar tentang kemungkinan seorang politisi maju sebagai calon bupati.
Ada pesan yang lebih dalam: politik boleh keras, tetapi hati jangan ikut menjadi keras.
Hari ini mereka datang mengucapkan terima kasih. Besok mungkin mereka kembali berhadapan dalam pilihan politik yang berbeda. Tetapi persaudaraan tidak harus ikut dikuburkan bersama perbedaan.
Dan mungkin, justru di sanalah kedewasaan politik diuji.
Bukan pada seberapa keras seseorang memenangkan pertarungan, tetapi pada seberapa lapang ia membuka pintu rumah setelah pertarungan selesai.
Kumarasa hari itu menjadi saksi: bahwa politik masih bisa memiliki ruang untuk saling menghormati, saling memaafkan, dan saling mendoakan.
Sedangkan soal Pilkada Buru berikutnya?
MDR memilih tidak mendahului takdir.
Jika Allah berkehendak, jalan itu akan terbuka. Jika belum, mungkin ada jalan lain yang sedang dipersiapkan.
Sebab pada akhirnya, manusia boleh menyusun rencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan ke mana langkah harus diarahkan.
Dan mungkin, foto yang beredar hari ini bukanlah tanda sebuah deklarasi.
Ia hanya sebuah gambar sederhana tentang satu hal yang semakin mahal dalam politik:
orang-orang yang pernah berbeda masih memilih untuk duduk bersama.