MBG Bukan Sekadar Makan Gratis, Ini Investasi Gizi dan Masa Depan Anak
Medan ( Media Istana) — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semestinya dipandang hanya sebagai program pemberian makanan kepada peserta didik. Lebih dari itu, MBG merupakan bagian dari ikhtiar membangun generasi yang sehat, memiliki energi untuk belajar, dan tumbuh dengan kualitas gizi yang lebih baik.
Di lingkungan MUTU SCHOOL (SMP Muhammadiyah 7 Medan), kehadiran program MBG mendapat respons positif dari para siswa. Menu makanan yang disalurkan menjadi tambahan asupan bagi peserta didik sekaligus momentum untuk mengenalkan pentingnya pola makan sehat dan bergizi sejak usia sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Muhammadiyah 7 Medan, Selamet Untung Suropati, S.Pd.I, mengatakan bahwa pemenuhan gizi anak tidak boleh dianggap sebagai persoalan sederhana. Menurutnya, anak yang belajar dalam kondisi tubuh yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk mengikuti pembelajaran secara optimal.
“MBG bukan sekadar memberikan makanan gratis kepada anak-anak. Di dalamnya ada ikhtiar untuk memastikan kebutuhan gizi mereka mendapat perhatian. Anak yang sehat, cukup energi dan gizinya, tentu akan lebih siap mengikuti pembelajaran dan beraktivitas di sekolah,” ujar Selamet.
Ia menambahkan, respons positif para siswa terhadap MBG menjadi indikator bahwa program tersebut memiliki manfaat yang dirasakan langsung oleh peserta didik. Bahkan, menurutnya, kualitas pelayanan dan penyajian makanan yang semakin baik turut memberikan pengalaman positif bagi anak-anak.
“Beberapa minggu ini anak-anak terus memberikan apresiasi. Mereka menyampaikan bahwa makanan yang diberikan semakin baik, rasanya enak, penyajiannya baik, dan tim yang mengantarkan juga ramah. Hal-hal sederhana seperti ini penting karena anak merasa diperhatikan,” katanya.
Menurut Selamet, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, tetapi juga oleh kualitas menu, kebersihan, ketepatan distribusi, pelayanan, serta pengawasan bersama.
Sekolah, kata dia, memiliki peran penting untuk memastikan program tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter. Anak-anak dapat dibiasakan untuk mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan, menghabiskan makanan secukupnya, tidak menyia-nyiakan makanan, serta mengenal pentingnya makanan bergizi.
“Jangan sampai MBG hanya berhenti pada kegiatan makan. Kita harus menjadikannya bagian dari pendidikan. Anak belajar bersyukur, menjaga kebersihan, menghargai makanan, sekaligus memahami bahwa kesehatan adalah modal utama untuk belajar dan meraih cita-cita,” tuturnya.
Program MBG dengan demikian memiliki makna yang lebih luas. Ia menyentuh persoalan kesehatan, pendidikan, pembentukan kebiasaan, hingga pembangunan sumber daya manusia.
Sebab, sekolah tidak hanya bertugas mencetak anak yang pintar secara akademik. Sekolah juga berkewajiban membantu melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, mandiri, dan mampu berkembang secara optimal.
MBG pada akhirnya bukan hanya tentang sepiring makanan hari ini. Ia adalah bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi yang lebih sehat untuk menghadapi masa depan.(su16)