Brigjen Said Latuconsina: Antara Pengabdian, Keteladanan, dan Harapan Rakyat Maluku

 

Oleh: Redaksi

Maluku tidak pernah kekurangan putra-putri terbaik.

Dari tanah kepulauan yang kaya sejarah, adat, budaya, dan tradisi perjuangan ini, lahir banyak anak negeri yang kemudian mengabdi di berbagai bidang—militer, pemerintahan, pendidikan, dunia usaha, politik, maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.

Di antara nama-nama yang kini mulai kembali diperbincangkan dalam ruang publik Maluku adalah Brigjen TNI (Mar) Dr. Said Latuconsina, SE, MM, MT, M.Tr.Opsla.

Dorongan sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Maluku Bersatu (AMB) agar Said Latuconsina mempertimbangkan maju sebagai calon Gubernur Maluku pada periode mendatang bukan sekadar persoalan siapa yang akan bertarung dalam sebuah kontestasi politik.

Lebih jauh dari itu, aspirasi tersebut dapat dibaca sebagai bentuk penghargaan terhadap perjalanan pengabdian seorang putra terbaik Maluku yang telah meniti karier panjang di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Putra Maluku yang Meniti Jalan Pengabdian Said Latuconsina bukanlah nama yang lahir secara tiba-tiba di ruang politik.Ia telah melewati perjalanan panjang sebagai prajurit.

Sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Laut dari Korps Marinir, Said menjalani berbagai penugasan dan tanggung jawab yang membentuk dirinya sebagai seorang pemimpin.

Pengalaman memimpin, mengambil keputusan, membangun komunikasi, menjaga disiplin organisasi, serta menghadapi berbagai persoalan dalam lingkungan tugas merupakan modal kepemimpinan yang tidak lahir dalam waktu singkat.

Lebih istimewa lagi, sebagian perjalanan pengabdiannya pernah bersentuhan langsung dengan tanah Maluku.

Ketika dipercaya memimpin Lantamal IX/Ambon, Said bukan hanya hadir sebagai seorang pejabat militer.

Ia hadir sebagai seorang anak negeri yang kembali mengabdi di tanah kelahirannya. Di situlah masyarakat Maluku mengenal sosok Said lebih dekat.

Bukan semata dari seragam dan pangkat yang disandangnya, tetapi dari bagaimana seorang perwira tinggi menjalankan tugas, membangun hubungan dengan masyarakat, dan menempatkan dirinya di tengah kehidupan sosial daerah. Pangkat Tinggi Bukan Segalanya

Namun, memberikan apresiasi kepada Said Latuconsina tidak berarti harus memandang pangkat sebagai ukuran tunggal kepemimpinan.Justru sebaliknya.Pangkat hanyalah bagian dari perjalanan.

Yang lebih penting adalah pengalaman, integritas, keteladanan, kemampuan membaca persoalan, serta kesediaan mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat.

Jika suatu saat Said benar-benar mempertimbangkan masuk ke dalam politik praktis, maka masyarakat tentu akan menilainya bukan lagi hanya sebagai seorang jenderal.

Ia akan dinilai sebagai calon pemimpin sipil.Di situlah tantangannya menjadi jauh lebih besar.

Seorang gubernur harus mampu berbicara dengan petani, nelayan, masyarakat adat, kaum muda, perempuan, pelaku usaha, akademisi, tokoh agama, tokoh adat, birokrasi, DPRD, pemerintah kabupaten/kota hingga pemerintah pusat.

Seorang gubernur harus mampu memahami kemiskinan, pendidikan, kesehatan, konektivitas antarpulau, pengelolaan sumber daya alam, investasi, lingkungan hidup, serta masa depan generasi muda Maluku.

Karena itu, jika kelak Said memilih jalan politik, pengalaman militernya harus diterjemahkan menjadi kepemimpinan sipil yang demokratis, humanis, terbuka dan berpihak kepada rakyat.

Maluku Membutuhkan Pemimpin yang Mengerti Kepulauan Maluku bukan sekadar sebuah provinsi.

Maluku adalah gugusan pulau yang dipisahkan laut tetapi disatukan oleh sejarah, adat, budaya dan persaudaraan.

Tantangan terbesar Maluku adalah bagaimana menjadikan laut bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai penghubung.

Bagaimana anak-anak di pulau-pulau kecil memperoleh pendidikan yang layak. Bagaimana nelayan mendapatkan perlindungan dan akses pasar.

Bagaimana masyarakat adat memperoleh kepastian atas hak-haknya. Bagaimana sumber daya alam dikelola secara adil.Bagaimana investasi dapat masuk tanpa mengorbankan masyarakat.

Dan bagaimana Maluku memiliki posisi tawar yang kuat di hadapan pemerintah pusat.

Di sinilah pengalaman seorang pemimpin yang pernah berada dalam lingkungan nasional dapat menjadi salah satu modal yang menarik untuk diperbincangkan.

Bukan berarti pengalaman tersebut otomatis menjadikan seseorang paling tepat.

Tetapi pengalaman itu layak diuji, didiskusikan dan dipertimbangkan secara terbuka oleh masyarakat.

Said dan Harapan Anak Negeri

Dorongan Aliansi Maluku Bersatu agar Said Latuconsina mempertimbangkan maju dalam Pilgub mendatang harus ditempatkan dalam kerangka demokrasi.

Masyarakat berhak menyampaikan aspirasi.Masyarakat berhak menyebut nama tokoh yang mereka anggap memiliki kapasitas.Namun masyarakat juga berhak memberikan penilaian kritis.

Sebab Maluku tidak membutuhkan sekadar figur yang populer.Maluku membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja.Pemimpin yang mampu mendengar.Pemimpin yang mampu merangkul.Pemimpin yang mampu berdiri di tengah perbedaan.

Dan yang paling penting, pemimpin yang mampu menjadikan jabatan sebagai jalan pengabdian, bukan jalan kekuasaan semata.Dalam konteks itulah nama Said Latuconsina patut ditempatkan.

Sebagai salah satu putra terbaik Maluku yang perjalanan pengabdiannya telah memberikan pengalaman panjang, dan yang kini mulai diminta oleh sebagian masyarakat untuk mempertimbangkan pengabdian melalui jalur pemerintahan daerah.Dari Seragam Prajurit Menuju Pengabdian Sipil?

Pertanyaan terbesar bukanlah apakah Said memiliki pangkat dan pengalaman. Pertanyaan terpenting adalah: Apakah Said Latuconsina bersedia?

Sebab pada akhirnya, keputusan tersebut bukan berada di tangan kelompok masyarakat yang mendorongnya.

Bukan pula berada di tangan mereka yang ingin mencalonkannya. Keputusan itu berada di tangan Said sendiri.

Jika suatu saat ia memilih turun ke gelanggang politik, maka rakyat Maluku akan memiliki hak penuh untuk menilai gagasan, visi, integritas dan program yang ditawarkannya.

Jika ia memilih tetap berada di luar politik praktis, maka pengabdiannya sebagai prajurit pun tetap merupakan bagian dari sejarah perjalanan seorang anak Maluku.

Karena pengabdian kepada negeri tidak selalu harus melalui kursi gubernur. Maluku Tidak Kekurangan Anak Negeri Yang harus kita bangun sejak sekarang adalah budaya politik yang sehat.

Jangan karena seseorang didorong menjadi calon gubernur lalu semua kritik terhadapnya dianggap sebagai permusuhan.

Jangan pula karena seseorang berasal dari latar belakang tertentu kemudian seluruh kemampuannya ditolak sebelum diuji.

Masyarakat Maluku harus mampu melihat calon pemimpin dengan kepala dingin dan hati terbuka.

Biarkan gagasan berhadapan dengan gagasan.

Biarkan rekam jejak berhadapan dengan rekam jejak.Biarkan integritas diuji oleh waktu.Dan biarkan rakyat menentukan pilihan secara bebas dan bermartabat.

Dalam kerangka itulah, dorongan kepada Brigjen Said Latuconsina dapat menjadi sebuah awal dari percakapan yang lebih besar:

Maluku ingin dipimpin oleh siapa?Pemimpin seperti apa yang dibutuhkan Maluku?

Dan siapa anak negeri yang memiliki keberanian, kapasitas, integritas serta ketulusan untuk mengabdikan dirinya bagi seluruh rakyat Maluku?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang paling cepat mendeklarasikan diri.

Sang Jenderal dan Tanah Maluku Pada akhirnya, seorang anak negeri tidak pernah benar-benar jauh dari tanah yang membesarkannya.

Said Latuconsina telah melewati perjalanan panjang dalam pengabdian.

Kini, ketika namanya mulai disebut dalam percakapan politik Maluku, sejarah akan mencatat bahwa ada masyarakat yang melihat dirinya sebagai salah satu figur yang patut dipertimbangkan.

Apakah kelak ia akan menjawab panggilan tersebut? Tidak seorang pun dapat memastikan hari ini.Tetapi satu hal patut kita hormati:

setiap anak Maluku yang telah mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara layak mendapatkan penghargaan atas pengabdiannya.

Dan ketika masyarakat kemudian berharap agar pengalaman itu kembali diberikan untuk membangun tanah leluhur, harapan tersebut pun patut didengar.

Sebab Maluku membutuhkan banyak putra terbaiknya untuk pulang membawa pengalaman, ilmu, jaringan dan semangat pengabdian.

Bukan untuk membanggakan pangkat.Bukan untuk mengejar kekuasaan.Tetapi untuk menjawab satu panggilan yang jauh lebih mulia:

mengabdi kepada tanah tumpah darah dan seluruh rakyat Maluku.Jika suatu hari Said Latuconsina memilih jalan itu, maka masyarakatlah yang akan menilai.

Dan jika ia benar-benar maju, biarlah ia datang bukan hanya sebagai seorang jenderal.Datanglah sebagai anak Maluku.Datanglah membawa pengalaman.Datanglah membawa ketulusan.Dan datanglah untuk mengabdi.

Karena pada akhirnya, Maluku tidak hanya membutuhkan seorang gubernur.

Maluku membutuhkan seorang pemimpin yang merasa bahwa rakyat adalah alasan mengapa ia harus berada di sana.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!