Editorial oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Di Gunung Botak, kehidupan berjalan dengan ritme yang tidak pernah benar-benar tenang, dan pemerintah harus punya kepedulian bukan cuma datang dan menertibkan. Debu, lumpur, dan suara mesin bercampur dengan harapan yang menggantung di udara. Di sana, kepedulian bukan sekadar kata—ia adalah napas yang sering kali terasa sesak.
Pemerintah datang dengan wacana penertiban, dengan bahasa aturan dan ketertiban yang terdengar tegas. Namun, di balik setiap langkah penertiban itu, ada pertanyaan yang belum terjawab: setelah ini, bagaimana mereka hidup? Karena Gunung Botak bukan sekadar persoalan tambang ilegal atau kerusakan lingkungan. Ia adalah ruang hidup bagi banyak orang yang menggantungkan nasib pada ketidakpastian.
Di lubang-lubang yang menganga, para penambang kecil mempertaruhkan nyawa. Setiap longsor adalah ancaman nyata, setiap hari adalah kemungkinan terakhir. Namun mereka tetap turun, bukan karena mereka tidak tahu bahaya, melainkan karena pilihan hidup mereka telah lama menyempit. Kepedulian seharusnya hadir di sini—bukan hanya dalam bentuk larangan, tetapi dalam keberanian untuk menyediakan jalan keluar.
Lebih dari itu, Gunung Botak adalah ekosistem sosial. Ada tukang ojek yang setia mengantar dari pagi hingga malam, menggantungkan penghasilan dari lalu-lalang pekerja. Ada pedagang kecil yang menjajakan kopi, roti, sayur, ikan, dan kebutuhan sehari-hari, menjaga agar dapur tetap mengepul. Mereka bukan bagian dari kerusakan, tetapi korban dari keadaan yang belum pernah benar-benar diselesaikan.
Ketika penertiban dilakukan tanpa solusi yang jelas, yang terjadi bukanlah perbaikan, melainkan perpindahan luka. Kepedulian tidak cukup berhenti pada tindakan menghentikan. Ia harus berlanjut pada merawat—menyediakan alternatif pekerjaan, pelatihan keterampilan, hingga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Solusi jangka pendek dibutuhkan untuk memastikan mereka tetap bisa makan hari ini. Solusi jangka menengah diperlukan agar mereka bisa berdiri lebih mandiri. Dan solusi jangka panjang adalah janji bahwa generasi berikutnya tidak perlu kembali ke lubang yang sama.
Karena pada akhirnya, kepedulian adalah tentang melihat manusia, bukan sekadar masalah. Gunung Botak tidak hanya membutuhkan penertiban. Ia membutuhkan kehadiran yang utuh—yang mau mendengar, memahami, dan bertindak dengan hati.