30.4 C
Jakarta
BerandaInfoJejak Tuhan di Antara yang Terlupakan: Mendekat Lewat Kasih Bukan Sekedar Kata

Jejak Tuhan di Antara yang Terlupakan: Mendekat Lewat Kasih Bukan Sekedar Kata

 

Oleh: Muhamad Daniel Rigan

Di tengah riuhnya percakapan tentang Tuhan di ruang-ruang digital, kita menyaksikan sesuatu yang menarik sekaligus membingungkan. Banyak orang, dari tokoh besar hingga mereka yang baru belajar, berlomba-lomba merumuskan siapa Allah dan bagaimana cara mengenal-Nya. Setiap suara membawa sudut pandang, setiap penjelasan menawarkan pemahaman. Namun di balik semua itu, tak sedikit yang justru merasa semakin jauh, bukan semakin dekat.

Mungkin persoalannya bukan pada kurangnya penjelasan, melainkan pada cara kita mencari. Kita terbiasa mengira bahwa segala hal bisa dipahami lewat kata-kata, dirumuskan lewat teori, atau diperdebatkan hingga menemukan kesimpulan. Padahal, tidak semua yang paling hakiki bisa dijangkau dengan cara seperti itu.

Ada jalan yang lebih sunyi, lebih sederhana, namun sering terlewatkan: mengenal Allah melalui mereka yang dicintai-Nya. Bukan lewat wacana yang panjang, tetapi lewat perjumpaan yang nyata. Bukan melalui perdebatan, tetapi melalui rasa yang tumbuh tanpa dipaksa.

Ketika seseorang mendekat kepada mereka yang lemah, yang membutuhkan, yang sering luput dari perhatian, di situlah ia mulai belajar sesuatu yang tak tertulis. Ada getaran halus yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. Keinginan tulus untuk melihat orang lain bahagia, tanpa pamrih, tanpa ego—itulah bahasa hati yang sering kali lebih jujur daripada seribu kata.

Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai konsep, tetapi sebagai kesadaran. Bukan sesuatu yang harus dicari dengan keras, melainkanq sesuatu yang perlahan disadari kehadirannya. Kita mungkin bisa mempelajari sifat-sifat-Nya, menghafal penjelasan tentang-Nya, tetapi inti dari semuanya tetap berada di luar jangkauan logika semata.

Kesadaran itu tidak datang dari banyaknya dalil, melainkan dari keberanian untuk turun, menyentuh@ kehidupan, dan merasakan. Saat hati benar-benar terlibat, saat empati menjadiq jembatan, di situlah pemahaman mulai@ tumbuh—pelan, dalam, dan nyata.

Mungkin pada akhirnya, mengenal Allah bukan tentang siapa yang paling benar dalam menjelaskan, tetapi siapa yang paling tulus dalam merasakan. Bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa dalam kita mampu menyadari. Dan kesadaran itu, sering kali, justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana: kasih, kehadiran, dan kepedulian.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!