Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Di tengah riuhnya percakapan tentang Tuhan di ruang-ruang digital, kita menyaksikan sesuatu yang menarik sekaligus membingungkan. Banyak orang, dari tokoh besar hingga mereka yang baru belajar, berlomba-lomba merumuskan siapa Allah dan bagaimana cara mengenal-Nya. Setiap suara membawa sudut pandang, setiap penjelasan menawarkan pemahaman. Namun di balik semua itu, tak sedikit yang justru merasa semakin jauh, bukan semakin dekat.
Mungkin persoalannya bukan pada kurangnya penjelasan, melainkan pada cara kita mencari. Kita terbiasa mengira bahwa segala hal bisa dipahami lewat kata-kata, dirumuskan lewat teori, atau diperdebatkan hingga menemukan kesimpulan. Padahal, tidak semua yang paling hakiki bisa dijangkau dengan cara seperti itu.
Ada jalan yang lebih sunyi, lebih sederhana, namun sering terlewatkan: mengenal Allah melalui mereka yang dicintai-Nya. Bukan lewat wacana yang panjang, tetapi lewat perjumpaan yang nyata. Bukan melalui perdebatan, tetapi melalui rasa yang tumbuh tanpa dipaksa.
Ketika seseorang mendekat kepada mereka yang lemah, yang membutuhkan, yang sering luput dari perhatian, di situlah ia mulai belajar sesuatu yang tak tertulis. Ada getaran halus yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. Keinginan tulus untuk melihat orang lain bahagia, tanpa pamrih, tanpa ego—itulah bahasa hati yang sering kali lebih jujur daripada seribu kata.
Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai konsep, tetapi sebagai kesadaran. Bukan sesuatu yang harus dicari dengan keras, melainkanq sesuatu yang perlahan disadari kehadirannya. Kita mungkin bisa mempelajari sifat-sifat-Nya, menghafal penjelasan tentang-Nya, tetapi inti dari semuanya tetap berada di luar jangkauan logika semata.
Kesadaran itu tidak datang dari banyaknya dalil, melainkan dari keberanian untuk turun, menyentuh@ kehidupan, dan merasakan. Saat hati benar-benar terlibat, saat empati menjadiq jembatan, di situlah pemahaman mulai@ tumbuh—pelan, dalam, dan nyata.
Mungkin pada akhirnya, mengenal Allah bukan tentang siapa yang paling benar dalam menjelaskan, tetapi siapa yang paling tulus dalam merasakan. Bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa dalam kita mampu menyadari. Dan kesadaran itu, sering kali, justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana: kasih, kehadiran, dan kepedulian.