Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Sebenarnya setiap hari itu berkah. Tidak ada hari yang kosong dari kebaikan. Hanya saja, aku memilih Jumat sebagai pengingat yang paling keras—hari di mana aku sengaja meluangkan waktu untuk berbagi, untuk kembali menyadari bahwa hidup ini bukan hanya tentang diriku dan lingkaran kecilku.
Jumat berkah, begitu aku menyebutnya.
Aku membuat konten bukan untuk siapa-siapa. Ini 100 persen untuk diriku sendiri. Untuk melawan ego yang sering kali diam-diam tumbuh, membisikkan rasa cukup hanya untuk diri sendiri, membuatku lupa bahwa di luar sana ada tanggung jawab lain yang juga harus disentuh.
Konten ini jadi semacam cermin. Kalau suatu hari aku mulai serakah, mulai lupa berbagi, maka apa yang pernah kubuat akan menamparku kembali. Mengingatkan: kamu pernah tahu rasanya memberi, kenapa sekarang berubah?
Mungkin ada yang tidak setuju. Katanya memberi itu sebaiknya diam, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. Dulu aku berpikir begitu. Tapi sekarang aku meninggalkan konsep itu.
Karena bagiku, memberi bukan soal pencitraan, bukan soal pahala, bukan juga tiket menuju surga. Memberi adalah tentang kemauan. Tentang rasa suka. Tentang kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Pahala dan surga—itu bukan transaksi.
Apa yang bisa kuberikan hari ini, sejatinya bukan milikku. Bahkan tidak pernah jadi milikku. Semua yang ada hanyalah titipan. Seribu persen datangnya bukan dariku. Jadi untuk apa disembunyikan seolah-olah aku pemiliknya?
Biar dunia tahu pun tidak masalah. Justru aku ingin menunjukkan bahwa kebaikan itu nyata, bahwa ada tangan-tangan yang bergerak karena Allah memang menyediakan jalannya. Dia adalah sumber. Dia adalah pemilik. Dia adalah kemurahan itu sendiri.
Lalu aku ini apa?
Aku hanya sarana.
Dan sarana tidak pernah punya hak untuk merasa lebih, apalagi bertransaksi dengan Sang Pemilik. Itu hanya akan jadi kebodohan yang halus.
Jadi, kalau hari ini aku bisa berbagi, aku memilih untuk bergembira. Aku memilih untuk bahagia bersama mereka yang dititipkan rezeki melalui tanganku.
Karena pada akhirnya, bukan aku yang memberi.Aku hanya diberi kesempatan.