Hamid Rizal Lubis dan Gagasan Mengembalikan KAHMI sebagai Rumah Besar Alumni HMI
Oleh: Ade Azmil Azhary Nasution
Medan ( Mediaistana) – Musyawarah Daerah Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Medan pada 19–20 September 2026 seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai agenda rutin lima tahunan untuk memilih ketua baru.
Musda adalah momentum untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar: KAHMI Medan mau dibawa ke mana?
Pertanyaan itu penting karena KAHMI memiliki modal yang tidak kecil. Di dalamnya berhimpun alumni HMI dari berbagai generasi, profesi, latar belakang pendidikan, dunia usaha, birokrasi, politik, akademisi, hukum, pendidikan, media dan berbagai bidang kehidupan lainnya.
Potensi tersebut merupakan modal intelektual dan sosial yang luar biasa.
Masalahnya, apakah potensi itu sudah terkonsolidasi menjadi kekuatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat Kota Medan?
Di sinilah Musda 2026 harus menjadi titik balik.
KAHMI Tidak Boleh Hanya Menjadi Tempat Bernostalgia
KAHMI lahir dari tradisi intelektual HMI. Karena itu, keberadaan KAHMI tidak boleh berhenti pada kegiatan silaturahmi, seremoni atau nostalgia masa lalu.
Alumni HMI sudah menyebar ke berbagai ruang kehidupan. Mereka memiliki ilmu, pengalaman, jaringan, sumber daya dan kemampuan untuk melakukan perubahan.
Maka KAHMI seharusnya menjadi ruang bertemunya gagasan dengan persoalan nyata masyarakat.
Kota Medan membutuhkan itu.
Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Medan pada 2025 tumbuh 5,10 persen dan kemiskinan turun menjadi 7,25 persen. Tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 7,99 persen. Namun angka-angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Di tengah capaian pembangunan tersebut, persoalan sosial tetap membutuhkan perhatian: kemiskinan, kesempatan kerja, ketimpangan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, banjir, narkoba, kriminalitas, UMKM dan berbagai persoalan perkotaan lainnya.
KAHMI seharusnya tidak hanya menjadi penonton.
KAHMI harus menjadi bagian dari solusi.
Dari Komentar Menuju Gagasan
KAHMI Medan ke depan harus berani mengambil posisi sebagai kekuatan intelektual masyarakat sipil.
Bukan berarti KAHMI harus menjadi oposisi pemerintah.
Bukan pula berarti KAHMI harus menjadi bagian dari kekuasaan.
Posisi yang lebih terhormat adalah menjadi mitra kritis dan konstruktif.
Jika kebijakan pemerintah baik, KAHMI harus memberikan apresiasi.
Jika terdapat kebijakan yang perlu dikritisi, KAHMI harus menyampaikan kritik.
Tetapi kritik KAHMI harus berbeda dengan kritik di media sosial.
Kritik KAHMI harus berbasis data, kajian dan alternatif solusi.
Inilah tradisi intelektual yang harus dikembalikan.
KAHMI dapat membentuk forum kajian kebijakan publik, pusat data dan gagasan, diskusi lintas profesi, forum ekonomi alumni, lembaga pengabdian masyarakat, hingga kelompok kerja yang secara khusus mengkaji persoalan Kota Medan.
Dengan demikian, KAHMI bukan hanya bertanya:
“Apa yang salah dengan Medan?”
Tetapi mampu menjawab:
“Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?”
*Mengapa Hamid Rizal Lubis?*
Di tengah kebutuhan tersebut, sosok pemimpin menjadi sangat menentukan.
KAHMI Medan tidak membutuhkan sekadar ketua yang mampu menjalankan administrasi organisasi.
KAHMI membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan potensi.
Dalam konteks itulah Hamid Rizal Lubis menjadi salah satu figur yang relevan untuk memimpin KAHMI Medan periode 2026–2031.
Dukungan terhadap Hamid Rizal Lubis dalam kontestasi MD KAHMI Medan juga mulai terlihat dari sejumlah alumni lintas komisariat. Alumni HMI Komisariat Teknik USU, misalnya, menyebut pengalaman organisasi, integritas dan kemampuan membangun kolaborasi sebagai alasan mendukung Hamid.
Yang menarik, gagasan Hamid tidak berhenti pada jargon persatuan.
Ia membawa konsep B.E.Y.O.N.D, yang terdiri atas Brotherhood, Empowerment, Youth & Experience, Open Collaboration, Networking, dan Development.
Enam gagasan tersebut pada dasarnya menawarkan satu hal penting: bagaimana seluruh potensi alumni HMI dapat dihubungkan dan dikembangkan menjadi kekuatan bersama.
Ini relevan dengan kebutuhan KAHMI Medan hari ini.
KAHMI Membutuhkan Pemimpin yang Bisa Menyatukan
Persoalan terbesar organisasi besar sering kali bukan kekurangan sumber daya.
Persoalannya adalah bagaimana sumber daya yang banyak itu dapat disatukan.
Alumni HMI memiliki banyak potensi, tetapi potensi tersebut tersebar.
Ada yang kuat dalam pemerintahan.
Ada yang kuat di dunia usaha.
Ada yang kuat di kampus.
Ada yang bergerak di dunia pendidikan.
Ada yang memiliki jaringan politik.
Ada yang bergerak di bidang sosial.
Ada yang memiliki kemampuan teknologi.
Ada pula alumni yang mungkin tidak memiliki jabatan apa pun, tetapi memiliki kepedulian sosial dan semangat pengabdian yang besar.
Semuanya penting.
Karena itu, pemimpin KAHMI Medan harus mampu mengatakan:
Tidak ada alumni yang terlalu kecil untuk berkontribusi, dan tidak ada alumni yang terlalu besar untuk membutuhkan persaudaraan.
Di sinilah kepemimpinan Hamid Rizal menjadi menarik untuk diperhitungkan.
Bukan karena ia harus menjadi pusat dari seluruh aktivitas KAHMI.
Justru sebaliknya.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu membuat banyak orang merasa memiliki organisasi.
*KAHMI Harus Mandiri Secara Finansial*
Ada satu agenda yang tidak boleh lagi ditunda: kemandirian ekonomi organisasi.
KAHMI yang ingin berbicara tentang kemandirian masyarakat harus terlebih dahulu memiliki fondasi kemandirian organisasi.
KAHMI tidak boleh terus bergantung pada bantuan personal atau sumber dana yang tidak berkelanjutan.
KAHMI perlu membangun ekosistem ekonomi alumni.
Bisa melalui badan usaha, koperasi, kemitraan profesional, forum bisnis alumni, pengembangan usaha bersama, pelatihan kewirausahaan maupun berbagai bentuk usaha lain yang dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel.
Dengan demikian, organisasi memiliki kemampuan membiayai program-programnya sendiri.
Lebih penting lagi, kemandirian finansial akan memperkuat independensi sikap KAHMI.
KAHMI dapat bekerja sama dengan pemerintah tanpa menjadi subordinat pemerintah.
KAHMI dapat bekerja sama dengan dunia usaha tanpa kehilangan idealisme.
KAHMI dapat berdialog dengan kekuatan politik tanpa kehilangan independensi.
Mandiri secara finansial berarti lebih merdeka dalam berpikir dan bersikap.
*Rumah Besar yang Tidak Bertanya Status Sosial*
Ada satu hal yang jauh lebih penting daripada program.
Yaitu suasana kebatinan organisasi.
KAHMI harus menjadi rumah besar.
Rumah besar berarti tidak boleh ada alumni yang merasa menjadi orang luar di rumahnya sendiri.
Tidak boleh ada pertanyaan:
“Kamu alumni komisariat mana?”
“Kamu dari kampus mana?”
“Kamu punya jabatan apa?”
“Kamu orang siapa?”
“Kamu punya apa?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru akan mempersempit makna KAHMI.
Yang harus dikedepankan adalah:
Kita pernah belajar di rumah yang sama. Kita pernah ditempa dalam tradisi intelektual yang sama. Dan hari ini kita mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memberikan manfaat.
Karena itu, KAHMI Medan harus menjadi rumah besar bagi seluruh alumni HMI.
Baik yang berada di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.
Baik pengusaha maupun pekerja.
Baik akademisi maupun praktisi.
Baik yang memiliki jabatan maupun yang tidak memiliki jabatan.
Baik senior maupun generasi muda.
Semua memiliki hak yang sama untuk berkontribusi.