Editorial oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Di tengah riuh tawa peserta olahraga bersama dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 di Polres Buru, terselip sebuah pesan yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada sekadar aktivitas fisik dan kebersamaan. Pesan itu datang dari Kepala BNN Kabupaten Buru, Syarifah Lulu Asagaff, S.Psi, yang mengajak masyarakat untuk menjauhi narkoba.
Ajakan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan peringatan yang sangat serius.
Narkoba tidak pernah datang dengan wajah menakutkan. Ia sering hadir dalam bentuk pergaulan, rasa penasaran, ajakan teman, atau janji kenikmatan sesaat. Namun ketika seseorang terjebak, yang hilang bukan hanya kesehatan. Yang dirampas adalah masa depan, harga diri, keharmonisan keluarga, bahkan kehidupan itu sendiri.
Kita sering membaca berita tentang penangkapan pengedar dan pengguna narkoba. Kita mendengar tentang anak-anak muda yang kehilangan arah hidupnya. Kita menyaksikan keluarga yang hancur karena salah satu anggotanya terjerat barang haram tersebut. Namun ironisnya, banyak orang masih menganggap narkoba sebagai masalah orang lain.
Padahal sesungguhnya, narkoba adalah ancaman bagi semua.
Ia bisa masuk ke lingkungan mana saja. Tidak mengenal status sosial, tingkat pendidikan, usia, maupun profesi. Hari ini mungkin terjadi di rumah orang lain. Besok bisa saja mengetuk pintu rumah kita sendiri jika kewaspadaan mulai hilang.
Karena itu, perang melawan narkoba tidak boleh hanya dibebankan kepada BNN dan kepolisian. Aparat bisa menangkap pelaku, tetapi mereka tidak mungkin mengawasi setiap sudut kehidupan masyarakat. Tugas terbesar justru berada di tangan keluarga, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Kabupaten Buru.
Orang tua harus lebih peduli terhadap pergaulan anak-anaknya. Guru harus lebih peka terhadap perubahan perilaku peserta didiknya. Tokoh agama harus terus menyuarakan nilai-nilai moral. Pemerintah desa harus berani menjadikan pencegahan narkoba sebagai agenda bersama. Dan masyarakat harus memiliki keberanian untuk melaporkan jika mengetahui adanya peredaran gelap narkotika.
Jangan pernah memberi ruang sedikit pun bagi narkoba untuk tumbuh.
Sebab ketika narkoba mulai menguasai generasi muda, sesungguhnya yang sedang dirusak bukan hanya individu, melainkan masa depan daerah. Tidak ada pembangunan yang akan berhasil jika generasi penerusnya kehilangan akal sehat, produktivitas, dan harapan hidup akibat penyalahgunaan narkotika.
Kabupaten Buru membutuhkan generasi yang kuat, sehat, cerdas, dan berkarakter. Generasi yang mampu menjadi pelaku pembangunan, bukan korban dari kejahatan narkoba.
Pesan yang disampaikan Kepala BNN Kabupaten Buru pada momentum Hari Bhayangkara ke-80 patut menjadi renungan bersama. Jangan menunggu ada anggota keluarga yang menjadi korban baru kita sadar akan bahayanya. Jangan menunggu penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat.
Mari menjaga Buru dari ancaman narkoba. Mari menjaga anak-anak kita dari pergaulan yang menyesatkan. Mari menjaga masa depan daerah ini dengan keberanian berkata:
Tidak untuk Narkoba. Tidak Hari Ini. Tidak Besok. Tidak untuk Selamanya.
Karena masa depan Kabupaten Buru terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh barang haram yang hanya menawarkan kehancuran.