Editorial Redaksi
Sering kali sebuah daerah berkembang bukan karena besarnya anggaran yang dimiliki, melainkan karena keberanian membuka diri terhadap dunia. Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat, Kabupaten Buru tampaknya sedang berupaya mengambil jalan itu: membangun jejaring, memperkenalkan potensi, dan mencari mitra yang mampu membawa kekayaan daerah melampaui batas-batas geografisnya.
Keikutsertaan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buru, Iwan Tiapon, dalam Wonderful Indonesia Sustainable Tourism Industry Forum di Bali pada 30–31 Mei 2026 bukan sekadar menghadiri sebuah agenda seremonial. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara gagasan, peluang, dan masa depan.
Di forum yang mempertemukan pemerintah, investor, pelaku ekonomi kreatif, dan pemangku kepentingan pariwisata dari seluruh Indonesia itu, Kabupaten Buru tidak datang hanya sebagai peserta. Buru hadir membawa cerita tentang pulau yang kaya akan keindahan alam, sejarah, budaya, dan sumber daya unggulan yang selama ini belum sepenuhnya dikenal dunia.
Hasil yang diperoleh pun patut diapresiasi. Kesepahaman yang terbangun dengan Five Pilar Experience, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengembangan pariwisata dan jejaring promosi internasional yang dipimpin oleh co-founder I Putu Wira Guna, menunjukkan bahwa potensi Kabupaten Buru mulai mendapat perhatian dalam peta promosi wisata global. Melalui jejaring yang dimiliki organisasi tersebut, terbuka peluang untuk memperkenalkan destinasi wisata Buru ke pasar
Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.
Langkah ini menjadi bukti bahwa upaya promosi yang dilakukan Dinas Pariwisata Kabupaten Buru mulai menemukan momentum yang tepat.
Apresiasi layak diberikan kepada Kepala Dinas Pariwisata, Iwan Tiapon, yang terus berupaya membuka ruang investasi dan memperluas promosi daerah melalui pendekatan Eco Tourism (Ekowisata) yang berkelanjutan. Di tengah meningkatnya tren wisata dunia yang mengedepankan kelestarian lingkungan, keterlibatan masyarakat lokal, dan keberlanjutan ekonomi, pendekatan ini menjadi strategi yang relevan untuk memperkenalkan Buru sebagai destinasi yang tidak hanya indah, tetapi juga bertanggung jawab terhadap alam dan budaya yang dimilikinya.
Ini bukan semata soal mendatangkan wisatawan asing. Lebih jauh dari itu, promosi internasional adalah upaya memperkenalkan identitas daerah kepada dunia. Sebab pariwisata modern tidak lagi hanya menjual pemandangan, tetapi juga menjual cerita, budaya, pengalaman, dan karakter sebuah daerah.
Pulau Buru memiliki semua itu.
Hamparan pantai yang masih alami, pegunungan yang hijau, hutan-hutan yang menyimpan kekayaan hayati, sejarah yang kuat, tradisi masyarakat yang tetap terjaga, hingga keramahan warga yang menjadi kekayaan sosial yang tidak bisa dibeli dengan uang. Semua itu adalah aset yang layak diperkenalkan kepada dunia internasional.
Di sisi lain, penjajakan kerja sama dengan perusahaan SOOTIKA terkait produk minyak kayu putih juga memberikan harapan baru. Selama ini minyak kayu putih Buru telah dikenal luas sebagai salah satu produk unggulan daerah dengan kualitas yang baik. Namun tantangan terbesar bukan lagi pada produksi, melainkan bagaimana produk tersebut mampu menembus pasar yang lebih luas dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Rencana kedatangan founder SOOTIKA ke Kabupaten Buru untuk melakukan survei kualitas produk menjadi sinyal positif bahwa komoditas lokal mulai menarik perhatian pelaku usaha dari luar daerah. Jika dikelola dengan baik, kerja sama semacam ini dapat membuka peluang investasi, meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, bahkan membuka akses ekspor yang selama ini masih terbatas.
Namun yang lebih penting dari semua capaian itu adalah tumbuhnya optimisme bahwa Kabupaten Buru tidak boleh terus berdiri di pinggir panggung pembangunan pariwisata nasional. Buru harus berani tampil, berani memperkenalkan dirinya, dan berani dikenal dunia.
Forum di Bali mungkin hanya berlangsung dua hari. Tetapi jika hasil-hasil yang diperoleh dapat ditindaklanjuti secara serius dan berkelanjutan, dampaknya bisa dirasakan dalam waktu yang jauh lebih panjang.
Karena sesungguhnya, masa depan pariwisata Buru tidak ditentukan oleh seberapa sering daerah ini disebut dalam forum nasional. Masa depan itu ditentukan oleh seberapa jauh peluang yang diperoleh mampu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan warga, dan menjaga warisan alam yang menjadi identitas Pulau Buru.
Dan dari Bali, secercah harapan itu tampak mulai menemukan jalannya menuju Pulau Buru. Sebuah harapan yang lahir dari pertemuan gagasan, kolaborasi, dan keberanian membangun jejaring. Harapan bahwa keindahan alam, kekayaan budaya, serta produk unggulan Kabupaten Buru suatu hari nanti tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga mendapat tempat terhormat di mata dunia.
Sebab ketika investasi, promosi, dan konsep ekowisata berjalan beriringan, maka yang dibangun bukan sekadar destinasi wisata, melainkan masa depan daerah yang berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.