Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi wilayah pesisir Indonesia, secercah harapan datang dari Pulau Buru. Wanadri Women Divers (WWD) bersama Komando Daerah Maritim (Kodaeral) IX TNI AL memulai sebuah gerakan konservasi laut bertajuk “Rediscover Buru Moving Forward”, sebuah ekspedisi yang tidak hanya berbicara tentang terumbu karang, tetapi juga tentang masa depan masyarakat pesisir.
Ekspedisi yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, ini merupakan kolaborasi besar lintas sektor yang melibatkan TNI AL, Universitas Pattimura, BRIN, BNPB, Kementerian Pariwisata, Basarnas Ambon, Pemerintah Provinsi Maluku, Korem 151/Binaiya, serta Pemerintah Kabupaten Buru melalui sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.
Program tersebut lahir dari hasil temuan lapangan dalam kegiatan Buru Expedition yang menemukan indikasi kerusakan ekosistem terumbu karang di sejumlah wilayah pesisir Pulau Buru. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan menurunnya kualitas lingkungan laut yang berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.
Sebagai langkah nyata, tim ekspedisi akan melaksanakan berbagai kegiatan konservasi dan penelitian lingkungan laut di kawasan pesisir Desa Jikumerasa dan Desa Hatawano pada 1 hingga 10 Juni 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia.
Salah satu fokus utama program ini adalah restorasi ekosistem laut melalui transplantasi 2.500 fragmen terumbu karang. Upaya tersebut menjadi langkah awal dalam pemulihan habitat bawah laut yang selama ini menjadi rumah bagi berbagai biota laut dan penopang kehidupan nelayan pesisir.
Selain itu, tim juga akan melakukan pemetaan kondisi terumbu karang, dokumentasi biodiversitas laut, analisis kualitas air, serta identifikasi berbagai potensi pencemaran lingkungan pesisir. Data yang diperoleh nantinya diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi kebijakan konservasi laut yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Yang menarik, program ini tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga pada pembangunan manusia. Melalui program unggulan “IBU KARANG”, Wanadri Women Divers memberikan pelatihan konservasi, pendidikan lingkungan, pengembangan kader perempuan pesisir, hingga sertifikasi selam Open Water berstandar internasional bagi perempuan lokal.
Dengan pendekatan tersebut, perempuan pesisir tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga dan mengelola ekosistem laut di daerahnya sendiri.
Program ini juga membuka peluang pengembangan ekowisata bahari berbasis masyarakat yang diharapkan mampu menciptakan sumber ekonomi baru tanpa merusak lingkungan.
Lebih dari sekadar ekspedisi, “Rediscover
Buru Moving Forward” adalah pesan bahwa laut Pulau Buru masih memiliki harapan untuk dipulihkan.
Ketika banyak orang berbicara tentang eksploitasi sumber daya alam, kolaborasi ini justru berbicara tentang pelestarian, pendidikan, dan keberlanjutan.
Pulau Buru selama ini dikenal karena kekayaan alamnya. Kini, melalui kerja sama antara komunitas penyelam perempuan, TNI AL, akademisi, pemerintah, dan masyarakat lokal, muncul sebuah gerakan yang mengingatkan bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang diambil dari alam, tetapi juga oleh apa yang dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Laut bukan hanya ruang kehidupan, tetapi juga warisan yang harus dijaga bersama.”
Kalimat yang diusung Wanadri Women Divers itu menjadi pengingat bahwa menjaga laut sesungguhnya adalah menjaga masa depan Pulau Buru itu sendiri.