Mediaistana.com||SIDOARJO — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sidoarjo terus memperkuat program ketahanan pangan melalui budidaya ikan lele. Dari kegiatan tersebut, sebanyak 35 kilogram lele berhasil dipanen sebagai hasil pembinaan dan pengelolaan budidaya secara berkelanjutan.
Budidaya lele menjadi salah satu upaya pemanfaatan lahan di lingkungan Lapas secara produktif. Warga binaan turut dilibatkan dalam berbagai tahapan, mulai dari pemberian pakan, perawatan kolam, pemantauan pertumbuhan ikan hingga proses panen.

Kalapas Kelas IIA Sidoarjo, Disri Wulan Agus Tomo, mengatakan kegiatan ketahanan pangan akan terus dikembangkan dengan mengoptimalkan berbagai potensi yang tersedia di lingkungan Lapas.
“Panen 35 kilogram lele ini menjadi salah satu bukti bahwa kegiatan ketahanan pangan di Lapas Sidoarjo terus berjalan dan memberikan hasil. Kami akan terus mendorong agar kegiatan seperti ini dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang semakin besar,” ujar Disri.

Menurutnya, budidaya lele tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. Melalui kegiatan tersebut, warga binaan mendapatkan pengalaman dan keterampilan praktis yang diharapkan dapat menjadi bekal setelah menyelesaikan masa pidana.
Kegiatan budidaya lele ini juga menjadi bagian dari dukungan Lapas Sidoarjo terhadap Program Akselerasi (Star Proaksi) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
Hasil panen 35 kilogram lele tersebut menjadi capaian positif sekaligus bukti bahwa lahan dan potensi yang tersedia di lingkungan Lapas dapat dikelola menjadi kegiatan produktif.

Ke depan, Lapas Sidoarjo berkomitmen menjaga keberlanjutan program dengan mengembangkan berbagai kegiatan ketahanan pangan yang melibatkan warga binaan secara aktif.
Melalui kegiatan tersebut, pembinaan di Lapas diharapkan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga membentuk keterampilan, kemandirian, dan produktivitas warga binaan sebagai bekal untuk kembali ke tengah masyarakat.