BerandaInfoMansyur Latakka dan Babak Baru Pengolahan Tailing Ramah Lingkungan di Kali Anhoni

Mansyur Latakka dan Babak Baru Pengolahan Tailing Ramah Lingkungan di Kali Anhoni

 

Ada orang-orang yang memilih berhenti ketika pintu kesempatan tertutup. Ada pula yang tetap bertahan, menyimpan keyakinan bahwa waktu memiliki caranya sendiri untuk mengembalikan kesempatan yang pernah hilang.

Mansyur Latakka tampaknya berada dalam kelompok yang kedua.

Bagi sebagian masyarakat Pulau Buru, khususnya mereka yang mengikuti perjalanan panjang sektor pertambangan daerah ini, nama Mansyur bukanlah nama yang muncul tiba-tiba. Ia telah menjadi bagian dari dinamika pertambangan Buru jauh sebelum istilah hilirisasi, reklamasi, atau pengelolaan lingkungan menjadi agenda utama dalam berbagai diskusi pembangunan.

Perjalanannya di sektor pertambangan dimulai ketika banyak orang masih melihat Buru hanya sebagai pulau dengan potensi yang belum tergarap sepenuhnya. Ketika geliat pertambangan mulai tumbuh pada 2014, terutama di kawasan Gunung Botak, Mansyur termasuk di antara sedikit investor lokal yang berani mengambil risiko besar dengan menanamkan modal dalam jumlah yang tidak sedikit.

Di kawasan Kubalahin, ia mengembangkan areal sekitar 100 hektare dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp 30 miliar. Saat itu, langkah tersebut dianggap sebagai terobosan yang cukup berani. Tidak hanya karena nilai investasinya, tetapi juga karena upaya yang dilakukan untuk menerapkan pola pengelolaan yang memperhatikan aspek lingkungan.

Namun dunia usaha sering kali tidak berjalan sesuai rencana. Berbagai perubahan kebijakan dan dinamika yang berkembang pada masa itu membuat proyek yang telah dirintis tidak dapat berkembang sebagaimana yang diharapkan. Investasi besar yang telah ditanamkan tidak berlanjut menjadi pengembangan yang lebih luas.

Banyak orang mungkin akan memilih meninggalkan sektor yang pernah menghadirkan kekecewaan. Tetapi tidak demikian dengan Mansyur.

Ia memilih menunggu.

Bukan menunggu tanpa arah, melainkan menunggu momentum yang tepat ketika pengalaman, pengetahuan, dan kebutuhan zaman kembali bertemu pada satu titik yang sama.

Momentum itu kini mulai terlihat.

Ketika isu lingkungan menjadi perhatian utama dan kebutuhan akan pengelolaan sumber daya yang lebih bertanggung jawab semakin menguat, Mansyur kembali hadir melalui PT Global Emas Bupolo (GEB).

Perusahaan ini disiapkan untuk mengambil bagian dalam salah satu tantangan terbesar pasca-pertambangan di kawasan Gunung Botak, yakni penanganan tailing yang selama bertahun-tahun menumpuk di sejumlah lokasi, termasuk di kawasan Kali Anhoni.

Melalui PT GEB, Mansyur berencana melakukan kegiatan pengolahan tailing sekaligus ekstraksi logam emas yang masih terkandung di dalam material sisa tambang tersebut.

Namun yang menjadi pembeda dari langkah ini bukan semata-mata nilai ekonominya. Fokus utama yang ingin diwujudkan adalah bagaimana aktivitas tersebut dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga dan memulihkan kualitas lingkungan.

Bagi PT Global Emas Bupolo, keberhasilan sebuah investasi tidak hanya diukur dari berapa banyak logam yang berhasil diproduksi, tetapi juga dari seberapa besar kontribusinya dalam menjaga keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang. Karena itu, aspek perlindungan lingkungan ditempatkan sebagai fondasi utama dalam setiap rencana kegiatan yang akan dijalankan.

Perusahaan menyadari bahwa Pulau Buru bukan hanya wilayah yang menyimpan sumber daya mineral, tetapi juga rumah bagi masyarakat yang bergantung pada sungai, hutan, tanah, dan sumber daya alam lainnya untuk menopang kehidupan mereka.

Karena itu, pengelolaan tailing di Kali Anhoni dipandang bukan sekadar aktivitas industri, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan yang sehat demi masa depan generasi masyarakat Pulau Buru dan masyarakat Maluku secara umum.

Komitmen tersebut bukan sekadar slogan.

PT Global Emas Bupolo menunjukkan keseriusannya dengan menggandeng Universitas Pattimura sebagai mitra akademik dalam memberikan dukungan ilmiah, kajian lingkungan, serta pendampingan berbasis keilmuan. Keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting agar seluruh tahapan kegiatan dapat berjalan berdasarkan data, penelitian, dan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Langkah ini sekaligus menjadi pesan bahwa PT GEB tidak ingin terjebak pada pola lama yang menempatkan lingkungan sebagai aspek pelengkap.

Sebaliknya, lingkungan menjadi bagian utama yang harus dijaga bersamaan dengan pemanfaatan sumber daya yang ada.

Di sinilah pengalaman menjadi penting.

Pertambangan bukan hanya soal alat berat, izin, dan produksi. Pertambangan adalah soal memahami karakter wilayah, membaca dinamika sosial masyarakat, mengelola risiko lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan.

Pengalaman panjang yang dimiliki Mansyur memberi bekal tersendiri dalam menghadapi tantangan tersebut. Setelah lebih dari satu dekade menyaksikan naik turunnya sektor pertambangan di Pulau Buru, ia kembali dengan perspektif yang lebih matang dan pemahaman yang lebih luas.

Kehadiran PT Global Emas Bupolo di Kali Anhoni pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah investasi baru. Ia juga menjadi simbol bahwa peluang pembangunan daerah tidak selalu lahir dari sesuatu yang benar-benar baru. Terkadang peluang itu justru muncul dari kemampuan melihat kembali apa yang pernah ditinggalkan, lalu mengelolanya dengan cara yang lebih baik.

Pulau Buru sendiri telah melalui perjalanan panjang dalam sejarah pertambangannya. Ada keberhasilan yang memberi manfaat ekonomi. Ada pula persoalan yang meninggalkan pelajaran berharga. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses pembelajaran menuju tata kelola pertambangan yang lebih baik.

Dalam perjalanan tersebut, Mansyur Latakka adalah salah satu nama yang tetap hadir dalam setiap babak perubahan. Dari investasi besar yang pernah tertahan, hingga rencana pengolahan tailing dan ekstraksi logam emas melalui PT Global Emas Bupolo, perjalanan itu menunjukkan satu hal yang sederhana namun penting: pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lingkungan yang akan diwariskan kepada anak cucu di masa depan.

Karena pada akhirnya, yang sering menentukan keberhasilan bukanlah siapa yang paling cepat memulai, melainkan siapa yang mampu menghadirkan keseimbangan antara investasi, manfaat sosial, dan kelestarian lingkungan.

Dan mungkin, itulah yang sedang diperjuangkan hari ini di Kali Anhoni—sebuah upaya untuk membuktikan bahwa pertambangan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan demi masa depan Pulau Buru dan Maluku yang lebih baik.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!