

MEDIAISTANA.COM — JAKARTA, 21 AGUSTUS 2026 — Mahkamah Agung Republik Indonesia memasuki usia ke-81 tahun pada tahun ini. Sebagai wujud syukur sekaligus upaya mempererat hubungan emosional dengan masyarakat luas, lembaga peradilan tertinggi di tanah air menggelar pagelaran seni budaya agung: Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon Semar Kuning, yang digelar pada Jumat, 21 Agustus 2026, pukul 20.00 WIB, di lingkungan Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta.
Kegiatan ini bukan sekadar perayaan seremonial ulang tahun. Lebih dari itu, pagelaran ini menjadi simbol bahwa di balik dinding-dinding gedung peradilan yang megah dan proses hukum yang terstruktur, terdapat nilai-nilai luhur budaya bangsa yang senantiasa menjadi landasan: keadilan, kebijaksanaan, kepatutan, dan kepedulian terhadap rakyat — persis seperti pesan yang tersirat dalam setiap lakon pewayangan yang telah mengakar di hati masyarakat Indonesia selama berabad-abad.
KETUA MAHKAMAH AGUNG MEMIMPIN RANGKAIAN PERAYAAN
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H., menjadi tokoh sentral dalam peringatan HUT ke-81 ini. Di bawah kepemimpinannya, Mahkamah Agung terus berupaya membangun citra peradilan yang tidak hanya berwibawa dan independen, tetapi juga dekat dengan masyarakat, memahami realitas kehidupan rakyat, dan menjadikan kearifan lokal sebagai pelengkap dalam menegakkan keadilan yang hidup dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Usia 81 tahun bukan sekadar angka. Itu adalah catatan perjalanan panjang lembaga peradilan negara yang lahir beriringan dengan perjuangan kemerdekaan bangsa, tumbuh bersama dinamika kehidupan bernegara, dan terus bertransformasi untuk menjawab tantangan zaman. Peringatan ini bukan sekadar merayakan masa lalu, melainkan merefleksikan tanggung jawab masa depan: bagaimana menjaga kemurnian hukum, mempercepat pelayanan peradilan, dan memastikan keadilan benar-benar terjangkau oleh setiap warga negara, tanpa terkecuali.
SEMAR KUNING: PESAN KEBUDAYAAN DAN KEADILAN YANG MENGHUBUNGKAN HATI RAKYAT
Pemilihan lakon Semar Kuning bukanlah kebetulan. Dalam dunia pewayangan Jawa, Semar adalah sosok yang paling tua, paling bijaksana, bukan raja, bukan ksatria berdarah bangsawan — melainkan sosok pelayan rakyat yang justru menjadi tempat kembali bagi para pangeran yang tersesat. Ia adalah simbol kebenaran yang sederhana, kebijaksanaan yang tidak memamerkan kekuasaan, dan keadilan yang berpihak pada kebenaran di atas segalanya. Semar Kuning secara khusus menggambarkan momen di mana kebijaksanaan rakyat yang terabaikan akhirnya diakui dan dihargai, serta keadilan yang sempat tertunda akhirnya terwujud.
Bagi Mahkamah Agung, lakon ini mengandung pesan mendalam: hukum dan keadilan sejatinya tidak lahir dari kemegahan gedung atau kerumitan prosedur semata, melainkan dari kebenaran yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Seperti Semar yang selalu hadir di sisi rakyat kecil, lembaga peradilan harus hadir untuk mendengarkan, memahami, dan menegakkan keadilan bagi siapa saja yang membutuhkannya — tanpa memandang status, kedudukan, atau kekayaan.
GELARAN SENI BUDAYA YANG MEGAH DAN BERKUALITAS TINGGI
Pagelaran malam ini menjadi panggung pertemuan para maestro seni pewayangan tanah air yang namanya sudah diakui di dalam dan luar negeri. Tiga dalang ternama bersatu untuk menyajikan lakon Semar Kuning dengan kedalaman makna dan keindahan pertunjukan yang luar biasa:
– Ki Sri Kuncoro (Brimob) — Dalang yang dikenal dengan gaya pementasan yang dinamis dan penuh semangat
– Prof. Dr. Dr. KPH. Yanto S.K., S.H., M.H. — Dalang yang menggabungkan kearifan budaya dengan wawasan keilmuan yang luas
– Ki Sigit Arianto, S.Sn. — Dalang muda berprestasi yang membawa napas baru dalam seni pewayangan
Mereka didukung oleh sederet seniman dan bintang tamu yang menghiasi panggung: Cak Percil CS yang menghadirkan canda dan renungan, serta Dimas Tedjo yang memperindah alur cerita dengan kehadirannya. Kehadiran para seniman ini menjadikan pagelaran bukan sekadar hiburan, melainkan pertunjukan budaya tingkat tinggi yang menjunjung tinggi warisan leluhur bangsa.
HADIAH PEMBUKA HATI: DOORPRIZE YANG MENGINSPIRASI KEHIDUPAN
Sebagai wujud terima kasih dan penghargaan kepada masyarakat yang hadir, panitia menyediakan hadiah doorprize yang unik dan bermakna. Bukan sekadar barang mewah semata, hadiah-hadiah tersebut justru menginspirasi gaya hidup sehat dan mandiri: sepeda gunung dan sepeda motor. Sebuah pesan halus bahwa kemajuan dan kemerdekaan sejati adalah ketika setiap orang mampu bergerak maju, mandiri, dan menjaga kesejahteraan diri maupun lingkungan.
MAHKAMAH AGUNG DAN MASYARAKAT: SATU HATI DALAM MENEGAKKAN KEADILAN
Di tengah perayaan yang penuh kehangatan dan keagungan budaya ini, terselip pesan yang sangat mendalam: Mahkamah Agung bukanlah lembaga yang berdiri sendiri terpisah dari kehidupan rakyat. Hukum tidak boleh menjadi sesuatu yang asing, jauh, atau menakutkan bagi masyarakat. Sebaliknya, hukum harus menjadi pelindung, penuntun, dan tempat mencari keadilan — persis seperti peran Semar dalam kisah pewayangan.
Dalam usia yang ke-81 ini, Mahkamah Agung di bawah pimpinan Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H. terus berikhtiar untuk:
– Mempercepat penyelesaian perkara sehingga keadilan tidak tertunda
– Meningkatkan akses peradilan bagi masyarakat di seluruh pelosok tanah air
– Menjaga kemandirian peradilan dari pengaruh kekuasaan mana pun
– Menyelaraskan penegakan hukum dengan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya bangsa agar keadilan terasa adil di hati rakyat
SEMAR KUNING DAN HARAPAN BARU
Ketika bayang-bayang wayang kulit menari di balik kelir, ketika suara gamelan mengiringi setiap gerak dan tutur, masyarakat yang hadir tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni. Mereka sedang menyaksikan cermin diri mereka sendiri — tentang perjuangan mencari kebenaran, tentang harapan pada keadilan, dan tentang keyakinan bahwa kebaikan pada akhirnya akan menang.
Semar Kuning mengajarkan: tidak peduli seberapa tinggi kekuasaan, seberapa megah gedung, seberapa rumit aturan — yang paling abadi adalah kebenaran yang sederhana, keadilan yang berpihak pada rakyat, dan kebijaksanaan yang lahir dari hati.
Selamat Ulang Tahun yang ke-81, Mahkamah Agung Republik Indonesia. Semoga semakin muda dalam semangat, semakin teguh dalam kebenaran, dan semakin dekat di hati rakyat.
Redaksi Mediaistana.com
David E.S.E.
Jakarta, 21 Agustus 2026