Probolinggo, Mediaistana.com
Kabupaten Probolinggo kembali menegaskan posisinya sebagai role model nasional dalam penerapan pembelajaran kelas rangkap atau multigrade. Hal itu terlihat dari kunjungan lapangan puluhan peserta Training of Facilitator (ToF) pembelajaran kelas rangkap tingkat nasional ke sejumlah sekolah di Kecamatan Sukapura, Kamis (16/4/2026).
Sebanyak 70 peserta dari 25 provinsi dan 7 kabupaten/kota di Indonesia melakukan observasi langsung ke enam sekolah penyelenggara kelas rangkap. Keenam sekolah itu yakni SDN Ngadisari 1, SDN Ngadisari 2, SDN Ngadirejo, SDN Sapikerep 3, SDN Sukapura 3, dan SDN Wonokerto 2.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia di bidang pendidikan, yang bekerja sama dengan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi enam tim dan masing-masing didampingi tim INOVASI. Mereka melakukan observasi pembelajaran di kelas, berdiskusi dengan guru dan kepala sekolah, serta memberikan umpan balik sebagai bagian dari penguatan kapasitas fasilitator nasional.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani menegaskan, keberhasilan suatu kebijakan pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas implementasinya di lapangan. Program yang baik harus diiringi dengan implementasi yang kuat. Dan implementasi yang kuat hanya dapat terwujud melalui kolaborasi, ujarnya.
Menurut Nunuk, sinergi antara pemerintah dan mitra pembangunan seperti INOVASI menjadi faktor kunci untuk memastikan transformasi pendidikan benar-benar dirasakan hingga ke ruang kelas. Kolaborasi ini memastikan perubahan terjadi di ruang-ruang kelas, bukan hanya di atas kertas, tambahnya.
Direktur Guru Pendidikan Dasar Kemendikdasmen Rachmadi Widdiharto mengapresiasi dedikasi para guru yang tetap melaksanakan pembelajaran kelas rangkap di tengah berbagai keterbatasan. Kami sangat mengapresiasi komitmen para guru. Meski sarana dan prasarana terbatas, mereka tetap memberikan layanan pendidikan terbaik bagi siswa, ungkapnya.
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen Laksmi Dewi menilai pelatihan ini memberikan wawasan sekaligus praktik nyata dalam pengelolaan kelas rangkap. Ini pelatihan yang sangat baik dan dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya untuk sekolah dengan keterbatasan, tetapi juga bagi sekolah yang ingin mengoptimalkan potensi pembelajaran, tegasnya.
Deputy Program Director-Education Policy, Performance and Learning INOVASI Ingga Danta Vistara menambahkan, pembelajaran kelas rangkap merupakan solusi strategis menjawab tantangan pendidikan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan guru dan jumlah siswa. Pembelajaran kelas rangkap bukan sekadar solusi keterbatasan, tetapi strategi untuk memastikan setiap anak mendapat layanan pendidikan yang berkualitas dan sesuai kebutuhannya, terangnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono mengatakan, program multigrade telah diterapkan sejak 2018 dan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Penerapan kelas rangkap ini menjadi solusi atas kondisi geografis, keterbatasan jumlah guru, serta ketimpangan distribusi tenaga pendidik di daerah, katanya.
Hary optimistis program multigrade di Kabupaten Probolinggo telah berjalan baik dan mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan. Program ini mampu mengakomodasi keterbatasan yang ada sehingga layanan pendidikan menjadi lebih optimal. Kami berharap praktik baik ini dapat direplikasi di berbagai daerah agar kualitas pendidikan nasional semakin merata, harapnya.
Kegiatan kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran bagi peserta, tetapi juga bentuk pengakuan atas keberhasilan Kabupaten Probolinggo dalam mengembangkan inovasi pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan di tengah berbagai keterbatasan.