Oleh: Syamsul Sampulawa, Sp.
Seith kampung nelayan di tepian Teluk Kaiely kini memasuki babak baru dalam perjalanan sejarahnya. Penetapan ini bukan sekadar simbol administratif, melainkan pengakuan atas identitas yang telah lama hidup dalam denyut keseharian masyarakatnya. Laut bagi warga Seith bukan hanya bentang alam, tetapi ruang hidup yang menyatu dengan tradisi, sumber penghidupan, dan sahabat setia yang menemani perjalanan generasi demi generasi.
Langkah ini patut dipandang sebagai keputusan strategis yang sarat makna. Penetapan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan diiringi dengan rencana pembangunan berbagai fasilitas pendukung—mulai dari dermaga yang representatif, tempat pelelangan ikan yang modern, hingga sistem penyimpanan hasil tangkapan dan peningkatan akses infrastruktur. Semua ini menjadi sinyal bahwa pembangunan yang dirancang tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi diarahkan pada perubahan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Namun demikian, pembangunan fisik hanyalah satu sisi dari upaya memajukan Desa Seith. Hal yang jauh lebih penting adalah menjaga ruh kampung nelayan itu sendiri. Kekuatan utama desa ini terletak pada kedekatannya dengan sumber daya laut yang melimpah. Jika dikelola secara bijak dan berkelanjutan, potensi tersebut dapat menjadi fondasi ekonomi yang kokoh. Nelayan tidak lagi sekadar menjadi penangkap ikan, tetapi dapat bertransformasi menjadi pelaku usaha yang mengelola, mengolah, dan memasarkan hasil laut dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Selain potensi ekonomi, Desa Seith juga memiliki kekayaan sosial yang tidak ternilai. Budaya gotong royong, solidaritas komunitas, serta pengetahuan lokal dalam membaca tanda-tanda alam merupakan modal penting yang sering terabaikan dalam perencanaan pembangunan modern. Padahal, justru nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan sejati masyarakat pesisir dalam menghadapi berbagai perubahan.
Di sisi lain, potensi wisata bahari Desa Seith juga patut diperhitungkan. Keindahan pesisir, kehidupan nelayan yang autentik, serta kekayaan kuliner laut membuka peluang besar untuk pengembangan sektor pariwisata. Dengan pengelolaan yang tepat, desa ini dapat berkembang menjadi destinasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Sebagai penulis sekaligus Ketua Koperasi Merah Putih Desa Seith, Samsul Sampulawa menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Buru, Ikram Umasugi. Ucapan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan tulus atas perhatian, kepedulian, dan komitmen nyata pemerintah daerah dalam menetapkan serta mendorong pembangunan Desa Seith sebagai kampung nelayan. Dukungan tersebut dirasakan sebagai langkah penting yang membuka jalan bagi kemajuan desa, sekaligus memberikan harapan baru bagi masyarakat pesisir.
Rasa bangga pun dirasakan oleh seluruh masyarakat Desa Seith. Penetapan ini menjadi pengakuan atas jati diri mereka sebagai komunitas pesisir yang tangguh dan kaya akan nilai tradisi. Lebih dari itu, berbagai manfaat nyata diharapkan segera dirasakan, mulai dari meningkatnya kesejahteraan nelayan, terbukanya lapangan usaha baru, kemudahan akses pemasaran hasil laut, hingga berkembangnya sektor pariwisata yang mampu menggerakkan ekonomi desa secara menyeluruh.
Pada akhirnya, penetapan Desa Seith sebagai kampung nelayan adalah sebuah harapan besar. Harapan akan terwujudnya keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian. Harapan bahwa pembangunan tidak mengikis identitas, melainkan memperkuatnya. Dan harapan bahwa laut, sebagai sumber kehidupan, tetap dijaga sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.
Di Desa Seith, masa depan sedang dirajut dengan penuh harap. Tantangannya adalah memastikan setiap langkah pembangunan tetap berpijak pada harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai yang telah lama mengakar. Sebab hanya dengan cara itulah, kemajuan sejati dapat dicapai tanpa kehilangan jati diri.