MEDIAISTANA.COM – TANGERANG, 16 Agustus 2026 — Di tengah hiruk-pikuk persiapan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tahun, semangat nasionalisme membara di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Warga dari RW 01, dengan lingkungan RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, RT 05, hingga RT 06 bergotong-royong menghias jalanan, memasang bendera Merah Putih, dan menyiapkan berbagai perlombaan untuk memeriahkan hari paling bersejarah bangsa ini.
Namun di balik semarak perayaan itu, ada pesan mendalam yang disampaikan warga — termasuk Aan Alfian, warga Jalan Ki Hajar Dewantor, Gondrong, Cipondoh, Kota Tangerang. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar memasang bendera dan mengikuti lomba. Kemerdekaan adalah tentang kebebasan dari penindasan, kebebasan dari pemerasan, dan keadilan yang dirasakan setiap warga — tanpa pandang status, tanpa pandang kekuatan.
SEMARAK KEMERDEKAAN MENGALIR DI SETIAP JALAN GONDRONG
Beberapa hari menjelang 17 Agustus, suasana di Gondrong berubah total. Dari ujung jalan Ki Hajar Dewantor hingga ke gang-gang kecil di seluruh lingkungan RW 01, bendera Merah Putih berkibar serempak. Anak-anak berlatih baris-berbaris, ibu-ibu menyusun panitia lomba, bapak-bapak memasang umbul-umbul.
Di setiap lingkungan — RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, RT 05, dan RT 06 — warga tampak bersatu. Tidak ada perbedaan. Semua bekerja sama, menyumbang tenaga dan pikiran, memastikan perayaan kemerdekaan ke-81 ini berjalan meriah dan berkesan. Ini adalah wajah kemerdekaan yang sesungguhnya: persatuan di tengah keberagaman, gotong-royong tanpa pamrih.
Namun ketika Aan Alfian, warga yang lahir di Palembang 25 Agustus 1989, ditanya tentang arti kemerdekaan baginya, senyumnya berubah menjadi serius.
“Kita merayakan kemerdekaan ke-81. Bendera berkibar, jalanan dihias, anak-anak tertawa. Tapi saya bertanya: apakah semua warga benar-benar merdeka? Apakah warga kecil di Gondrong ini sudah bebas dari ketakutan? Sudah bebas dari pemerasan? Sudah bebas menuntut hak tanpa takut dibalas?”
KEMERDEKAAN YANG BELUM SELESAI
Bagi Aan Alfian dan banyak warga di Gondrong, kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun ini bukan sekadar perayaan. Ini juga momen untuk merenungkan: apakah kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan sudah benar-benar sampai ke rumah-rumah rakyat kecil?
Mereka melihat bahwa di tengah semangat nasionalisme yang tinggi, masih ada bayang-bayang yang menghantui: dugaan pungutan liar yang masih berkeliaran, penertiban yang terasa tidak adil, laporan yang menggantung tanpa jawaban.
“Kemerdekaan bukan hanya soal tidak dijajah bangsa asing. Kemerdekaan adalah ketika kita bisa berusaha di negeri sendiri tanpa harus membayar upeti kepada siapa pun. Kemerdekaan adalah ketika kita bisa melapor kepada negara tanpa takut dibalas. Kemerdekaan adalah ketika hukum berlaku sama untuk semua orang — baik yang berkuasa maupun yang tidak punya apa-apa,” ujar Aan.
Dan di sinilah letak pesan kemerdekaan yang paling tajam: selama masih ada warga yang merasa dijajah oleh ketidakadilan di negeri sendiri, maka perjuangan kemerdekaan belum usai. Selama masih ada rakyat yang takut berbicara karena ancaman pungli, maka kemerdekaan itu belum sempurna. Selama hukum terasa lunak kepada yang kuat dan keras kepada yang lemah — maka kemerdekaan itu belum benar-benar milik semua rakyat.
SEMARAK PERAYAAN, TAPI TUNTUTAN TETAP JELAS
Warga RW 01, dari RT 01 hingga RT 06, tetap akan merayakan HUT RI ke-81 dengan penuh semangat. Mereka akan mengibarkan Sang Saka Merah Putih, bernyanyi lagu kebangsaan, dan bersuka cita sebagai warga negara yang merdeka.
Tapi di balik sukacita itu, ada tuntutan yang tidak bisa diabaikan oleh Pemerintah Kota Tangerang, Kecamatan Cipondoh, Satpol PP, dan Polsek Cipondoh:
Semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam keadilan nyata. Bukan hanya di atas panggung perayaan, tapi di jalanan, di pasar, di GOR Gondrong — di mana rakyat kecil berjuang setiap hari.
Hukum harus berlaku sama untuk semua orang. Tidak boleh ada warga yang merasa lebih berkuasa dari hukum. Tidak boleh ada warga yang merasa hukum tidak berpihak padanya.
Laporan dan keluhan warga harus ditindaklanjuti. Kemerdekaan berarti negara hadir untuk rakyat, bukan membiarkan rakyat menunggu tanpa jawaban.
Bebaskan rakyat dari ketakutan. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika warga bisa hidup tenang, berusaha tenang, dan berbicara tenang — tanpa rasa takut kepada siapa pun.
KEMERDEKAAN ADALAH TUGAS BERSAMA
81 tahun kemerdekaan Indonesia. Bukan waktu yang singkat. Sudah cukup waktu bagi negara ini untuk memastikan bahwa setiap warganya benar-benar merdeka — merdeka dari penindasan, merdeka dari pemerasan, merdeka dari ketidakadilan.
Aan Alfian mewakili warga Gondrong RW 01, dari RT 01 hingga RT 06, menyampaikan pesan ini kepada seluruh negeri:
“Kita merayakan kemerdekaan. Tapi jangan sampai kemerdekaan itu hanya menjadi kata-kata di lagu dan bendera di tiang. Kemerdekaan harus dirasakan. Harus terasa di hati setiap warga. Jika rakyat kecil masih merasa dijajah oleh ketidakadilan di negeri sendiri — maka kemerdekaan itu belum selesai. Dan tugas kita semua, sebagai warga negara yang merdeka, adalah menyelesaikannya bersama-sama.”
Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Semoga kemerdekaan ini semakin nyata, semakin adil, dan semakin dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia — tanpa terkecuali.
📅 Tanggal: 16 Agustus 2026 — Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81
📍 Lokasi: Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
👤 Sumber: Aan Alfian, Warga Jl. Ki Hajar Dewantor, Gondrong, RW 01 (RT 01–RT 06)
MEDIAISTANA.COM
RED : DAVID E,S.E.