MAMUJU – Lembaga Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GEBRAK) Sulawesi Barat melontarkan kritik keras terhadap proses rekrutmen Polri di wilayah Sulbar. Meski Polri kerap menggaungkan narasi seleksi bersih dan bebas calo, GEBRAK menilai praktik di lapangan masih menyisakan celah sistemik yang rawan penyimpangan.
Ketua GEBRAK Sulbar, Idham, menegaskan bahwa peringatan berulang setiap tahun mengenai seleksi bersih justru menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap praktik gratifikasi masih menjadi ancaman nyata.
Jika sistem rekrutmen memang sudah benar-benar kedap intervensi, isu calo tidak perlu jadi peringatan berulang. Artinya, masih ada celah sistemik yang harus dibenahi, bukan sekadar imbauan normatif,” tegas Idham dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Salah satu poin krusial yang disoroti GEBRAK adalah dugaan adanya oknum anggota yang memfasilitasi hingga melatih Calon Siswa (Casis) dengan modus bimbingan belajar (bimbel) atau pelatihan khusus. Praktik ini dinilai menciptakan konflik kepentingan dan membuka ruang bagi “klaim keberhasilan” yang menyesatkan.
Logikanya begini, jika satu oknum membawa 10 Casis, hampir mustahil tidak ada yang lolos. Saat ada yang lulus, oknum tersebut mengklaim itu hasil binaannya untuk menarik peserta lain. Ini jaringan informal yang merusak profesionalitas seleksi,” ujar Idham..
Sebagai bentuk kontrol sosial, Idham memberikan ultimatum kepada pimpinan Polda Sulbar untuk segera menertibkan anggotanya yang diduga menjadi fasilitator maupun joki berkedok pelatih.
Kami memberikan peringatan tegas kepada Kapolda. Jika tidak ada tindakan nyata dalam waktu dekat untuk menertibkan bimbel bimbel ilegal tersebut, maka kami pastikan GEBRAK Sulbar akan menggelar aksi massa mapolda sulbar,” pungkas Idham.
Bagi GEBRAK, integritas Polri dipertaruhkan dalam proses rekrutmen ini. Mereka menuntut bukti nyata, bukan sekadar slogan atau pernyataan seremonial di media massa.