
Stop Bullying, Karena Sekolah Bukan Penjara
Oleh: Jitro Atti
Mahasiswa MPBI UNIKAMA
NTT, 8/06/26. Kasus Rino membuka mata kita: bullying bukan sekadar “bercanda kelewatan”. Itu adalah kejahatan sunyi yang membunuh perlahan. Rino dibully karena “bodoh, hitam, miskin”. Lebih ironis, gurunya ikut menyebut dia “malas”. Hasilnya? Anak yang dulu aktif jadi pendiam, takut sekolah, nangis tiap hari, hingga tidak naik kelas. Ini bukan kenakalan remaja. Ini kegagalan kita sebagai manusia.
1. Bully Itu Membunuh Karakter, Bukan Fisik
Satu kata “bodoh” yang diulang tiap hari bisa lebih tajam dari pisau. Korban bully tidak mati berdarah, tapi mati harapan. Rino adalah bukti. Dia tidak gagal karena bodoh, tapi gagal karena sistem sekolah membiarkan dia dibunuh secara mental. Stop bilang “biar mentalnya kuat”. Tidak ada anak yang harus dikuatkan dengan cara disakiti.
2. Guru Bisa Jadi Bandar Bully
Yang paling berbahaya bukan teman yang menghina, tapi guru yang ikut menghina. Ketika figur otoritas menyebut murid “malas” di depan kelas, itu lampu hijau bagi 1 kelas untuk ikut merundung. Ruang kelas berubah jadi pengadilan, dan papan tulis jadi daftar dosa anak. Kalau pemimpin di kelas saja jadi bandar bully, mau harap apa dari muridnya? Stop normalisasi guru toxic. Verbal abuse dari guru adalah pidana, bukan metode didik.
3. Diam Adalah Dosa Sosial
Rino hancur bukan cuma karena pelaku, tapi karena saksi yang diam. Teman sekelas yang lihat, ketawa, atau pura-pura tidak tahu, kalian bagian dari masalah. Di era HP, merekam dan menyebar video teman nangis itu bukan konten lucu. Itu bukti digital bahwa kita gagal jadi manusia. Stop jadi penonton. Laporkan, bela, atau minimal jangan ikut ketawa.
4. “Tidak Naik Kelas” Bukan Solusi
Menghukum korban bully dengan tidak naik kelas sama dengan menghukum orang yang kakinya patah karena ditabrak. Kasus Rino adalah puncak kebodohan sistem. Sekolah harusnya memulihkan, bukan menghukum. Permendikbud 46/2023 sudah jelas: korban kekerasan tidak boleh kena sanksi akademik. Kalau sekolahmu masih begitu, sekolah itu yang tidak layak naik kelas.
Penutup: Jadi Teladan, Bukan Bandar
Stop bullying dimulai dari diri sendiri. Kalau kamu pemimpin kelas, OSIS, atau ketua geng, jadilah teladan yang melindungi, bukan bandar yang memprovokasi. Kalau kamu guru, jadilah tempat aman, bukan hakim yang menghakimi. Kalau kamu teman, jadilah perisai, bukan penonton.
Sekolah harus jadi rumah kedua, bukan penjara dengan seragam. Karena setiap anak berhak pulang dengan senyum, bukan trauma. Stop bullying hari ini, atau kita akan panen generasi yang patah besok.
#StopBullying #SekolahAman #SaveRino #PemimpinJadiTeladan