Oleh: Muz Latuconsina
Kita hidup di zaman di mana judul lebih sakral daripada isi. Kalimat tebal di bagian atas dianggap wakil kebenaran, sementara paragraf-paragraf di bawahnya dibiarkan yatim tak dibaca. Cukup satu baris, lalu emosi bekerja. Marah, bangga, tersinggung, atau merasa paling tercerahkan—semuanya lahir tanpa pernah bertemu konteks.
Pembaca judul adalah makhluk IQ rendah yang paling rajin di media sosial. Mereka cepat bereaksi, cepat menyimpulkan, dan paling cepat merasa paham. Tak perlu waktu lama, sebab membaca isi dianggap membuang energi. Judul sudah cukup untuk menghakimi, membela, bahkan memaki.
Ironisnya, merekalah yang paling lantang berbicara soal kebenaran. Padahal yang mereka pegang bukanlah gagasan, melainkan potongan kalimat yang sengaja dipancing agar menggugah emosi. Mereka lupa bahwa judul hanyalah umpan, bukan hidangan. Dan umpan memang dirancang bukan untuk memberi makan, melainkan untuk memancing.
Di tangan pembaca judul, satire berubah jadi doktrin, guyonan menjelma ancaman, dan edukasi dicurigai sebagai propaganda. Akal sehat tersingkir oleh kecepatan, nalar kalah oleh notifikasi. Mereka tidak sedang membaca—mereka sedang bereaksi.
Editorial ini tidak memohon agar semua orang menjadi cendekia. Cukup menjadi manusia yang bersedia menuntaskan bacaan. Karena membaca sampai selesai adalah bentuk paling sederhana dari tanggung jawab berpikir.
Jika isi saja enggan disentuh, jangan heran bila mudah disentuh oleh siapa pun yang pandai memainkan judul.(SH)