Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Seandainya takdir bisa kuulangi, maka aku akan mengisi hidupku di waktu yang lebih tepat.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan luka yang sangat dalam. Banyak manusia merasa hidupnya terlambat. Terlambat mencintai, terlambat memahami, terlambat menghargai, dan akhirnya terlambat menyadari bahwa sesuatu yang paling berharga ternyata pernah hadir begitu dekat.
Kita sering berkata:
“Ternyata aku baru siap ketika waktunya sudah selesai.” “Ternyata aku baru sadar dia begitu mencintaiku ketika dia telah pergi.” “Ternyata dia tidak seperti yang aku pikirkan.” Namun semua kesadaran itu datang ketika pintu waktu telah tertutup.
Di situlah manusia mulai menyalahkan waktu.
Padahal sesungguhnya waktu tidak pernah jahat. Waktu hanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak menunggu siapa pun, tetapi juga tidak pernah meninggalkan siapa pun.
Kitalah yang sering berjalan terlalu sibuk sampai lupa menikmati apa yang sedang ada di hadapan kita.
Kita lebih rela kehilangan cinta daripada kehilangan waktu. Karena cinta yang pergi masih bisa dikenang, tetapi waktu yang hilang tidak akan pernah kembali walau hanya satu detik.
Maka persoalan terbesar manusia sebenarnya bukan tentang kehilangan seseorang, melainkan kehilangan kesadaran saat bersama seseorang.
Karena itu, jangan melawan waktu. Sadari bahwa kita hidup bersama waktu, berjalan bersama waktu, bahkan mengalami diri kita sendiri di dalam waktu itu. Kita bukan korban waktu. Kita adalah bagian dari perjalanan waktu itu sendiri.
Lalu bagaimana agar cinta tetap hidup walaupun hanya lima menit, tetapi terasa seperti lima puluh tahun?
Jawabannya adalah hadir sepenuhnya.
Saat bersama seseorang, jangan hanya hadir dengan tubuhmu. Hadirlah dengan hati, perhatian, dan kesadaranmu. Sebab banyak hubungan terasa singkat bukan karena waktunya sedikit, tetapi karena jiwanya tidak benar-benar hadir.
Sebaliknya, ada orang yang hidup bersama puluhan tahun tetapi terasa kosong. Karena mereka hanya hidup berdampingan, bukan hidup bersama.
Ingatlah juga bahwa setiap kejadian dalam hidup hanyalah seperti syair lagu yang sedang kita nyanyikan. Hari ini mungkin tentang bahagia, besok mungkin tentang kehilangan. Hari ini tentang cinta, esok mungkin tentang perpisahan.
Tidak perlu menggenggam semuanya terlalu erat.
Karena semua yang datang memiliki alasan, dan semua yang pergi juga membawa pelajaran. Hidup bukan tentang mempertahankan semua hal agar tetap tinggal, tetapi belajar menerima bahwa setiap pertemuan memiliki waktunya sendiri.
Namun ada satu hal yang lebih tinggi daripada semua itu: Belajarlah merasakan kebahagiaan tanpa alasan. Mencintai tanpa syarat. Menangis tanpa harus kehilangan. Dan bersyukur tanpa harus menunggu sempurna.
Ketika seseorang mampu sampai pada titik itu, maka ia tidak lagi takut ditinggalkan waktu. Karena kebahagiaannya tidak bergantung pada apa yang datang dan pergi.
Waktu akan tetap berjalan.
Tetapi jiwamu tidak lagi tertinggal di belakang.
Dan mungkin benar… Jika hari ini kamu masih bertanya tentang hidup, tentang cinta, tentang kehilangan, itu berarti waktu belum selesai bersamamu.
Karena selama manusia masih mau memahami dirinya sendiri, selama itu pula waktu masih memberi kesempatan untuk bertumbuh.
Namlea, Jumat, (29/5/2026)