Krisis Air Bersih Pulau Maratua Kian Mendesak, Proyek Embung Teluk Alulu dan Payung-Payung Menjadi Penantian Masyarakat.
Krisis air bersih yang telah berlangsung puluhan tahun di Pulau Maratua kembali menjadi sorotan serius masyarakat. Kebutuhan dasar yang belum terpenuhi sampai saat iniĀ dinilai semakin mendesak, sementara proyek embung yang diharapkan menjadi solusi agar menyimpan air bersih hingga kini belum memberikan manfaat nyata bagi warga.
Diketahui, selama ini masyarakat Maratua hampir sepenuhnya bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Dimana untuk mendapatkan sumber air tawar sangat sulit. Sehingga warga harus menunggu hujan yang jadwalnya tidak menentu, sementara kebutuhan air setiap hari bagi masing masing keluarga cukup besar, mulai dari air minum, memasak, mandi, hingga sanitasi.
Kondisi krisis air bersih ini membuat warga berada dalam situasi rentan, terutama saat musim kemarau berkepanjangan. Tidak sedikit keluarga yang terpaksa menghemat air secara ekstrem, bahkan membeli air dengan biaya tinggi demi mencukupi kebutuhan dasar.
Harapan besar sempat muncul ketika pemerintah membangun proyek embung sebagai alternatif penampungan air hujan. Namun hingga saat ini, embung yang berada di Kampung Teluk Alulu dan Kampung Payung- payung disebut telah berjalan bertahun tahun tanpa penyelesaian yang jelas dan belum dapat difungsikan secara optimal.
Kondisi ini memicu kekecewaan masyarakat karena keberadaan embung dinilai hanya menjadi bangunan fisik tanpa dampak langsung bagi pemenuhan kebutuhan air bersih.
āSejak awal kami sangat berharap embung ini menjadi jawaban dari krisis air bersih yang kami alami selama ini. Nilai proyeknya besar, harapan kami juga besar” ungkap Aho salah satu warga Maratua ke Media Istana.
‘ Sudah bertahun tahun belum ada manfaat yang kami rasakan. Jangan sampai embung di Teluk Alulu dan Payung ini berakhir mangkrak dan menjadi proyek gagal, ”Ā tegas Aho.
Diketahui,secara geografis, Pulau Maratua merupakan pulau terluar yang letaknya sangat jauh dari daratan besar dan dikelilingi perairan laut dengan kedalaman ratusan meter. Kondisi ini membuat ketersediaan sumber air tawar alami sangat terbatas. Berbagai upaya pencarian mata air telah dilakukan selama bertahun tahun, namun hasilnya tidak signifikan.
āAir yang kami temukan di dalam tanah sangat minim. Kami menduga itu bukan mata air murni, melainkan hanya endapan air laut yang bercampur air hujan di dalam tanah,ā ujar salah satu tokoh masyarakat Maratua kepada awak media ini.
Persoalan tersebut diperparah oleh abrasi pantai yang dari tahun ke tahun terus menggerus daratan pulau. Penyusutan garis pantai ini tidak hanya mengancam permukiman warga, tetapi juga semakin memperkecil potensi cadangan air tawar.
Tokoh masyarakat itu menegaskan bahwa kondisi geografis Maratua, keterbatasan sumber air alami, serta ancaman abrasi pantai harus menjadi catatan penting dan pertimbangan serius dalam perencanaan pembangunan bertahap di wilayah pulau terluar.
āIni bukan sekadar soal proyek, tapi soal keberlangsungan hidup masyarakat. Penyelesaian embung harus dipandang sebagai kebutuhan strategis,ā ujarnya.
Masyarakat Maratua pun mendesak perhatian serius dari Bupati Berau dan wakil rakyat daerah pemilihan ( dapil ) pesisirĀ agar persoalan air bersih lebih diperhatikan agar tidak terus menerus ada keluhan dari masyarakat Pulau Maratua.
Warga berharap pembangunan embung di Kampung Teluk Alulu dan Kampung Payung – payung segera dituntaskan dan benar benar difungsikan.
Menanggapi hal tersebut, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Berau menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan proyek embung hingga benar benar berfungsi dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Ā Sejumlah pemerhati sosial menilai persoalan air bersih di Maratua harus menjadi prioritas lanjutan pembangunan daerah. Mereka menegaskan bahwa masyarakat Maratua telah lebih dulu merasakan manfaat nyata dari keberhasilan program penerangan listrik.
Ā Listrik yang kini menjangkau seluruh kampung di Pulau Maratua ditegaskan warga sebagai keberhasilan nyata pemerintahan Bupati Berau “SRI JUNIARSIH” hasil dari komitmen kuat pemerintah daerah bersama PLN dalam menghadirkan keadilan energi hingga wilayah terluar.
Ā āDulu listrik hanya mimpi bagi kami. Sekarang semua kampung sudah terang. Anak anak bisa belajar di malam hari, usaha warga hidup. Ini keberhasilan Ibu Bupati Sri Juniarsih yang kami rasakan langsung,ā ujar RH, warga Kampung Payung – payung
Ā Warga menilai keberhasilan menghadirkan listrik menjadi bukti bahwa pembangunan di pulau terluarĀ Kabupaten Berau bukan hal mustahil jika ada kemauan politik yang kuat.
āKalau listrik bisa diwujudkan oleh pemerintah daerah, kami yakin air bersih juga bisa. Tinggal bagaimana embung ini benar benar diseriusi,ā kata YTĀ warga Kampung Teluk Alulu.
Masyarakat Maratua menilai keberhasilan penerangan listrik di bawah kepemimpinan Bupati Berau “SRI JUNIARSIH”sebagai tonggak penting pembangunan wilayah pesisir dan pulau terluar.
Kini, warga berharap hal yang sama, keduaĀ proyek embung tersebut dapat di fungsikan dengan baik agar masyarakat bisa menikmati dan tidak ada keluhan lagi.
Kebutuhan dasar yang belum terpenuhi ini dinilai semakin mendesak, sementara proyek embung yang diharapkan menjadi solusi hingga kini belum memberikan manfaat nyata bagi warga.
Diketahui, selama ini masyarakat Maratua hampir sepenuhnya bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.
Warga harus menunggu hujan yang jadwalnya tidak menentu, sementara kebutuhan air setiap hari bagi masing masing keluarga cukup besar, mulai dari air minum, memasak, mandi, hingga sanitasi.
Kondisi tersebut membuat warga berada dalam situasi rentan, terutama saat musim kemarau berkepanjangan.
Tidak sedikit keluarga yang terpaksa menghemat air secara ekstrem, bahkan membeli air dengan biaya tinggi demi mencukupi kebutuhan dasar.
Harapan besar sempat muncul ketika pemerintah membangun proyek embung sebagai alternatif penampungan air hujan.
Namun hingga saat ini, embung yang berada di Kampung Teluk Alulu dan Kampung Payung – payung disebut telah berjalan bertahun tahun tanpa penyelesaian yang jelas dan belum dapat difungsikan secara optimal.
Kondisi ini memicu kekecewaan masyarakat karena keberadaan embung dinilai hanya menjadi bangunan fisik tanpa dampak langsung bagi pemenuhan kebutuhan air bersih.
āSejak awal kami sangat berharap embung ini menjadi jawaban dari krisis air bersih yang kami alami selama ini. Nilai proyeknya besar, harapan kami juga besar”
“Tapi sudah bertahun tahun belum ada manfaat yang kami rasakan. Jangan sampai embung di Teluk Alulu dan Payung – payung ini berakhir mangkrak dan menjadi proyek gagal,ā tegas Aho, warga Maratua.
Diketahui, secara geografis, Pulau Maratua merupakan pulau terluar yang letaknya sangat jauh dari daratan besar dan dikelilingi perairan laut dengan kedalaman ratusan meter.
Kondisi ini membuat ketersediaan sumber air tawar alami sangat terbatas. Berbagai upaya pencarian mata air telah dilakukan selama bertahun tahun, namun hasilnya tidak signifikan.
āAir yang kami temukan di dalam tanah sangat minim. Kami menduga itu bukan mata air murni, melainkan hanya endapan air laut yang bercampur air hujan di dalam tanah,ā ujar salah satu tokoh masyarakat Maratua kepada awak media ini.
Persoalan tersebut diperparah oleh abrasi pantai yang dari tahun ke tahun terus menggerus daratan pulau. Penyusutan garis pantai ini tidak hanya mengancam permukiman warga, tetapi juga semakin memperkecil potensi cadangan air tawar.
Tokoh masyarakat itu menegaskan bahwa kondisi geografis Maratua, keterbatasan sumber air alami, serta ancaman abrasi pantai harus menjadi catatan penting dan pertimbangan serius dalam perencanaan pembangunan bertahap di wilayah pulau terluar.
āIni bukan sekadar soal proyek, tapi soal keberlangsungan hidup masyarakat. Penyelesaian embung harus dipandang sebagai kebutuhan strategis,ā ujarnya.
Masyarakat Maratua pun mendesak perhatian serius dari Bupati Berau dan perwakilan rakyat daerah pemilihan pesisir agar persoalan air bersih tidak terus berlarut.
Warga berharap pembangunan embung di Kampung Teluk Alulu dan Kampung Payung segera dituntaskan dan benar benar difungsikan.
Menanggapi hal tersebut, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Berau menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan proyek embung hingga benar benar berfungsi dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Sejumlah pemerhati sosial menilai persoalan air bersih di Maratua harus menjadi prioritas lanjutan pembangunan daerah. Mereka menegaskan bahwa masyarakat Maratua telah lebih dulu merasakan manfaat nyata dari keberhasilan program penerangan listrik.
Listrik yang kini menjangkau seluruh kampung di Pulau Maratua ditegaskan warga sebagai keberhasilan nyata pemerintahan Bupati Berau “SRI JUNIARSIH” hasil dari komitmen kuat pemerintah daerah bersama PLN dalam menghadirkan keadilan energi hingga wilayah terluar.
āDulu listrik hanya mimpi bagi kami. Sekarang semua kampung sudah terang. Anak anak bisa belajar di malam hari, usaha warga hidup. Ini keberhasilan Ibu Bupati Sri Juniarsih yang kami rasakan langsung,ā ujar RH, warga Kampung Payung – payung
Warga lainnya menilai keberhasilan menghadirkan listrik menjadi bukti bahwa pembangunan di pulau terluar bukan hal mustahil jika ada kemauan politik yang kuat.
āKalau listrik bisa diwujudkan oleh pemerintah daerah, kami yakin air bersih juga bisa. Tinggal bagaimana embung ini benar benar diseriusi,ā kata YT warga Kampung Teluk Alulu.
Masyarakat Maratua menilai keberhasilan penerangan listrik di bawah kepemimpinan Bupati Berau “SRI JUNIARSIH”sebagai tonggak penting pembangunan wilayah pesisir dan pulau terluar.
Kini, warga berharap hal yang sama, kedua proyek embung tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat pulau maratua, agar krisis air bersih yang telah lama membelenggu segera teratasi.
Aroel Mandang