Oleh: H. Akmil Djapa, (Wakapolres Buru)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bulan Ramadhan kembali hadir menyapa umat Islam dengan segala keutamaannya. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan bulan pendidikan jiwa—bulan yang melatih kesabaran, menumbuhkan empati, dan menguatkan kepedulian sosial. Di tengah dinamika kehidupan yang kian kompleks, Ramadhan menjadi momentum refleksi sekaligus aksi untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih nyata.
Hakikat puasa sejatinya tidak berhenti pada dimensi ritual. Ketika kita merasakan lapar dan dahaga sejak fajar hingga terbenamnya matahari, sesungguhnya kita sedang diajak untuk memahami realitas yang setiap hari dihadapi oleh saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Dari rasa lapar itu lahir empati. Dari empati itulah tumbuh dorongan untuk berbagi.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa harta yang diinfakkan di jalan Allah bukanlah kerugian, melainkan investasi abadi. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah menggambarkan pahala sedekah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada tiap tangkai terdapat seratus biji. Ini adalah simbol betapa besar balasan atas setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Bahkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 92 ditegaskan bahwa kebajikan yang sempurna tidak akan diraih sebelum seseorang menginfakkan sebagian harta yang ia cintai. Artinya, berbagi bukan tentang memberi dari sisa, tetapi memberi dari yang berharga.
Lebih jauh, berbagi di bulan Ramadhan tidak semata berbentuk materi. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134, Allah menyebutkan bahwa ciri orang bertakwa adalah mereka yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, serta memaafkan kesalahan orang lain. Ini menunjukkan bahwa berbagi juga berarti berbagi maaf, berbagi kesabaran, dan berbagi ketulusan. Nilai-nilai inilah yang justru memperkuat ikatan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat berbagi menjadi fondasi penting dalam membangun harmoni sosial. Ketika masyarakat saling peduli, saling membantu, dan saling menguatkan, maka stabilitas dan ketenteraman akan lebih mudah terwujud. Ramadhan menghadirkan peluang emas untuk mempererat solidaritas sosial—melalui kegiatan berbagi takjil, santunan anak yatim, bantuan kepada fakir miskin, hingga dukungan moral bagi mereka yang sedang menghadapi ujian hidup.
Teladan terbaik tentu datang dari Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai sosok paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan. Keteladanan ini mengajarkan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari kepeduliannya terhadap sesama.
Karena itu, Ramadhan seharusnya tidak berlalu hanya sebagai rutinitas tahunan. Ia harus meninggalkan jejak dalam perilaku sosial kita. Jangan biarkan bulan penuh berkah ini berlalu tanpa ada tangan yang kita genggam untuk dibantu, tanpa ada air mata yang kita hapus dengan kepedulian.
Akhirnya, marilah kita menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat ibadah personal sekaligus memperluas ibadah sosial. Semoga setiap sedekah yang kita keluarkan, setiap maaf yang kita berikan, dan setiap kebaikan yang kita lakukan menjadi cahaya penerang, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.