Media Istana,
Tanjung Redeb,
2 Maret 2026
Di kawasan Kecamatan Sambaliung, berdiri sebuah kompleks pemakaman yang tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para leluhur, tetapi juga menyimpan serangkaian cerita panjang perjalanan masyarakat keturunan Guang Dong di Bumi Berau. Pemakaman Guang Dong Berau, yang lebih dikenal dengan sebutan 巫劳广东总坟 (Makam Umum Guang Dong Wulau), kini menjadi bukti nyata hubungan erat antara sejarah lokal dan jejak budaya Tionghoa yang telah mengakar selama lebih dari satu abad.
Perjalanan Panjang dari Negeri Tirai Bambu ke Bumi Berau
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika jalur sungai menjadi urat nadi perdagangan dan mobilitas di Kalimantan, ribuan orang dari provinsi Guang Dong di Tiongkok berlayar menuju Berau. Mereka datang bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga membangun kehidupan baru di tanah yang masih alami dan penuh potensi. Sebagian dari mereka akhirnya menjadikan daerah ini sebagai rumah kedua, dan ketika waktu tiba untuk mereka kembali ke pangkuan alam, mereka ditempatkan di pemakaman yang kini dikenal sebagai Makam Umum Guang Dong Wulau.
Dikelola secara teratur oleh Persatuan Sosial Guang Dong Berau, makam ini menjadi wadah penghormatan bagi para pendahulu yang telah berkontribusi pada perkembangan ekonomi dan sosial daerah. Meskipun sebagian nisan telah tergerus oleh waktu, beberapa prasasti masih dapat dibaca dengan jelas seperti milik Kam Bun Seng yang wafat pada 10 Desember 1902 dan Liem Dan Tuij di Kecamatan Gunung Tabur, yang meninggal pada 20 November 1901 yang menjadi saksi bisu akan usia panjang situs ini.
Arsitektur yang Mengandung Makna Budaya
Setiap sudut kompleks pemakaman menyimpan filosofi dan simbolisme khas budaya Tionghoa. Nisan yang terbuat dari batu granit kokoh atau kayu yang telah mengeras oleh waktu menunjukkan keragaman latar belakang para leluhur, mulai dari pedagang sukses hingga pekerja yang gigih berjuang. Ornamen ukiran makhluk mitologis seperti naga dan macan tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga dipercaya sebagai penjaga yang melindungi roh leluhur dari gangguan negatif.
Di bagian tengah kompleks terdapat altar khusus yang menjadi pusat aktivitas ritual. Setiap tahun menjelang Hari Qingming (Festival Pemakaman), keluarga keturunan dan anggota persatuan berkumpul di sini untuk melakukan upacara tradisional—membawa makanan khas, bunga, dan uang kuburan yang dibakar sebagai bentuk penghormatan. Tradisi ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi antar keluarga, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai luhur dari leluhur kepada generasi muda.
Keturunan yang Terus Merawat Jejak Leluhur
Meskipun tidak semua nama keturunan dapat dilacak secara rinci, komunitas keturunan Guang Dong di Berau kini telah menyebar ke berbagai pelosok daerah, bahkan hingga luar provinsi. Banyak di antaranya yang tetap aktif dalam kegiatan persatuan, menjaga hubungan dengan akar budaya mereka, dan berperan dalam memelihara makam ini.
Anggota pengurus Persatuan Sosial Guang Dong Berau menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian. Mereka secara berkala mengadakan kegiatan pembersihan dan perbaikan ringan pada makam, serta mendokumentasikan setiap prasasti agar tidak hilang oleh waktu. Beberapa di antaranya juga aktif berbagi cerita sejarah kepada generasi muda, agar mereka tidak melupakan perjuangan para leluhur yang telah membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik saat ini.
Upaya Pelestarian untuk Masa Depan
Melihat nilai sejarah dan budaya yang tinggi, pemerintah Kabupaten Berau bersama Persatuan Sosial Guang Dong Berau tengah menggagas langkah-langkah pelestarian yang lebih terstruktur. Rencana untuk mendaftarkan makam ini sebagai situs cagar budaya daerah sedang dalam tahap persiapan, yang diharapkan dapat memberikan perlindungan lebih serta menjadi daya tarik wisata sejarah di masa depan.
“Kita berharap makam ini tidak hanya dikenal oleh komunitas kita sendiri, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Berau sebagai bagian dari warisan budaya yang patut kita banggakan,” ungkap salah satu pengurus persatuan saat ditemui di lokasi makam.
Secara silsilah, keturunannya merupakan bagian dari peranakan Tionghoa Berau yang memiliki akar dari berbagai daerah di Guang Dong seperti Kanton, Hakka, atau Teochew. Seiring waktu, mereka berintegrasi dengan masyarakat lokal seperti etnis Berau Melayu, Dayak, dan Banjar, membentuk hubungan perkawinan dan kerja sama yang erat. Hal ini membuat silsilah mereka mencakup campuran darah dan budaya kedua kelompok etnis.
Meskipun silsilah keluarga spesifik belum ditemukan secara luas namun sumber yang ditemukan, Persatuan Sosial Guang Dong Berau berperan dalam mengelola hubungan antar keturunan, menjaga tradisi leluhur, dan melestarikan jejak sejarah para pendahulu. Banyak keturunannya kini tinggal di berbagai wilayah Kabupaten Berau dan menjaga tradisi kuno seperti upacara Qingming untuk menghormati leluhur yang dimakamkan di sini.
Beberapa poin terkait keturunannya adalah:
– Pengurus Persatuan Sosial Guang Dong Berau: Mereka adalah perwakilan keturunan yang aktif menjaga pemakaman dan hubungan antar keluarga, meskipun nama pengurus saat ini belum tercatat secara rinci di sumber yang diakses.
– Masyarakat lokal Berau: Banyak keturunannya tinggal di wilayah Kabupaten Berau khususnya Tarakan, Tanjung Redeb, dan sekitarnya, bekerja di berbagai sektor seperti perdagangan, perikanan, pertambangan, dan jasa. Mereka juga aktif dalam memelihara tradisi seperti upacara Qingming dan merayakan Tahun Baru Imlek bersama komunitas.
– Keterkaitan dengan tokoh lokal: Beberapa keturunan juga terintegrasi dengan kalangan elit lokal, meskipun tidak ada catatan khusus tentang tokoh publik yang secara eksplisit mengaku sebagai keturunan dari pemakaman ini selain informasi umum tentang komunitas Tionghoa Guang Dong di Berau.
Aroel Mandang