Editoria oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF
Langkah politik yang diambil M. Rum Soplestuny setelah menakhodai DPD Partai Golkar Kabupaten Buru periode 2025–2030 mencerminkan satu hal yang kerap menjadi penentu hidup-matinya partai politik di daerah: konsistensi visi yang ditopang oleh kerja berjenjang dan terukur.
Pernyataan Soplestuny bukan sekadar daftar target elektoral, melainkan sebuah peta jalan politik yang mencoba menjembatani realitas hari ini dengan ambisi masa depan. Dalam konteks politik lokal yang dinamis seperti di Buru, upaya memperkuat konsolidasi internal bukan hanya penting—melainkan mutlak. Partai yang gagal merawat struktur dan kadernya akan mudah tergerus oleh perubahan arus politik yang cepat.
Target kemenangan pada Pemilu 2029 menjadi poros utama strategi tersebut. Namun lebih dari sekadar memenangkan kontestasi, ada pesan yang tersirat: Golkar ingin kembali menegaskan relevansinya, baik sebagai kekuatan politik lokal maupun sebagai bagian dari mesin politik nasional. Dukungan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden juga menunjukkan bahwa arah politik daerah tidak bisa dilepaskan dari konfigurasi kekuatan di tingkat pusat.
Yang menarik, Soplestuny tidak berhenti pada horizon lima tahunan. Ia sudah menatap kemungkinan Pemilu 2031, sebuah langkah yang menunjukkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan strategi. Target meraih kursi DPRD Provinsi dari wilayah Buru dan Buru Selatan menjadi indikasi bahwa ekspansi politik tidak hanya bersifat horizontal (menambah kursi), tetapi juga vertikal (menaikkan level representasi).
Di tingkat kabupaten, target peningkatan kursi dari tiga menjadi minimal lima bukan sekadar angka. Ia adalah simbol dari kepercayaan publik yang harus diperjuangkan. Dalam politik, angka kursi adalah cerminan legitimasi. Dan legitimasi hanya bisa diperoleh melalui kerja nyata, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan membaca kebutuhan publik.
Lebih jauh lagi, dorongan untuk mengusung kader dalam Pilkada 2031 memperlihatkan keinginan membangun kemandirian politik. Partai tidak ingin sekadar menjadi kendaraan, tetapi juga menjadi produsen pemimpin. Ini adalah langkah strategis yang, jika dijalankan dengan serius, dapat memperkuat identitas dan daya tawar Golkar di panggung politik daerah.
Namun demikian, ambisi besar selalu datang dengan tantangan besar. Konsolidasi internal sering kali terbentur ego sektoral, sementara target elektoral kerap terganjal realitas sosial-ekonomi masyarakat yang kompleks. Tanpa kerja konkret di akar rumput, semua target tersebut berisiko menjadi sekadar retorika.
Pada akhirnya, publik tidak akan menilai dari seberapa tinggi target yang dicanangkan, tetapi dari seberapa nyata perubahan yang dirasakan. Jika Partai Golkar di bawah kepemimpinan M. Rum Soplestuny mampu menerjemahkan visi ini menjadi kerja politik yang inklusif dan berdampak, maka target kemenangan berjenjang hingga 2031 bukanlah hal yang mustahil—melainkan keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.