Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Dunia ini tidak selalu ramah. Ia berjalan dengan ritme yang tak bisa kita kendalikan—musim berganti tanpa menunggu kesiapan kita, siang menyerah pada malam tanpa meminta izin, dan suka kerap berpindah menjadi duka dalam satu tarikan napas kehidupan.
Di antara perubahan itu, manusia berjalan dengan langkah yang tak selalu mantap. Ada hari ketika segalanya terasa ringan, seolah hidup tersenyum tanpa beban. Namun ada pula masa ketika setiap langkah terasa berat, seperti bumi menahan kaki untuk terus maju. Susah dan senang datang silih berganti, sakit dan sehat hadir bergantian, menemani setiap aktivitas yang kita jalani tanpa pernah benar-benar memberi jeda.
Namun di tengah ketidakpastian itu, ada satu hal yang menjadi pegangan paling sunyi sekaligus paling kuat: doa. Doa yang tidak selalu terdengar oleh manusia, tetapi selalu sampai kepada-Nya. Doa yang sederhana, namun penuh harap agar hati tetap teguh, tidak mudah berpaling, tidak mudah goyah oleh kerasnya keadaan.
“Jangan jauhkan aku dari rasa-Mu,” menjadi bisikan jiwa yang paling jujur. Sebab dalam setiap jatuh dan bangun, dalam setiap luka dan sembuh, manusia hanya ingin satu hal: tetap terhubung dengan Sang Pemberi kehidupan. Bukan sekadar melewati dunia, tetapi tetap merasakan kehadiran-Nya di setiap detik yang berlalu.
Sebab pada akhirnya, bukan dunia yang selalu harus baik kepada kita, melainkan hati yang tetap belajar untuk setia—meski dunia terus berubah tanpa henti.