Catatan Drs. Muz Latuconsina, MF.
Tidak semua kekayaan daerah tersimpan di perut bumi. Sebagian justru tumbuh di dalam jiwa manusia.
Jika Gunung Botak dikenal karena emasnya, maka Maluku dikenal karena suara-suara indah yang lahir dari tanahnya. Dari generasi ke generasi, negeri para raja ini seolah tidak pernah kehabisan penyanyi, pemusik, pencipta lagu, dan seniman yang mampu menggetarkan hati banyak orang.
Karena itu, rencana pembentukan Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) di Kabupaten Buru bukanlah sekadar agenda organisasi. Ia adalah ikhtiar untuk merawat salah satu kekayaan terbesar yang dimiliki daerah ini: bakat seni masyarakatnya.
Maluku sejak lama dikenal sebagai gudang penyanyi Indonesia. Nama-nama besar lahir dari negeri ini dan menghiasi panggung musik nasional. Bahkan Kota Ambon telah mendapatkan pengakuan dunia sebagai Kota Musik yang tergabung dalam jejaring kota kreatif UNESCO. Sebuah pengakuan yang tidak lahir karena kebetulan, melainkan karena musik telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Maluku.
Di rumah-rumah sederhana, di pesisir pantai, di perbukitan, di gereja, di masjid, di sekolah, hingga di acara-acara adat, musik selalu hadir sebagai bahasa yang menyatukan.
Nada dan irama tumbuh bersama kehidupan masyarakat.
Kabupaten Buru pun memiliki potensi yang sama. Banyak anak muda memiliki suara emas, kemampuan bermusik, dan bakat menciptakan lagu. Namun sering kali potensi itu berjalan sendiri tanpa wadah yang mampu mengarahkan, membina, dan membuka jalan menuju panggung yang lebih besar.
Di sinilah pentingnya kehadiran PAPPRI.
Organisasi ini diharapkan menjadi rumah bagi para seniman. Tempat bertemunya ide, kreativitas, pengalaman, dan semangat untuk terus berkarya. Sebab bakat yang besar tanpa pembinaan sering kali hanya menjadi potensi yang tidak pernah berkembang secara maksimal.
Lebih dari itu, seni bukan hanya soal hiburan. Seni adalah identitas. Lagu-lagu daerah menyimpan sejarah. Musik menyimpan cerita tentang kampung halaman, tentang laut, tentang gunung, tentang cinta, dan tentang kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika seorang anak muda Buru menciptakan lagu, sesungguhnya ia sedang menulis cerita tentang daerahnya. Ketika seorang penyanyi tampil di atas panggung, sesungguhnya ia sedang membawa nama daerahnya untuk dikenal lebih luas.
Karena itu, membangun seni sesungguhnya adalah membangun peradaban.
Kehadiran PAPPRI di Kabupaten Buru diharapkan menjadi pintu lahirnya lebih banyak talenta yang mampu bersaing di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Sebab tidak ada alasan bagi anak-anak Bupolo untuk hanya menjadi penonton ketika mereka memiliki bakat yang mampu membuat dunia mendengar.
Sudah saatnya potensi seni daerah mendapatkan ruang yang lebih besar. Sudah saatnya para pemusik, penyanyi, dan pencipta lagu memiliki rumah yang mampu melindungi sekaligus mengembangkan karya mereka.
Karena sebuah daerah akan dikenang bukan hanya dari apa yang dihasilkannya dari tanah, tetapi juga dari apa yang lahir dari jiwanya.
Dan musik adalah salah satu jiwa paling indah yang dimiliki Maluku.
Kika emas mampu membuat orang datang ke Buru, maka seni dan musiklah yang akan membuat dunia mengenang Buru untuk waktu yang sangat lama.