Ada perang yang berakhir puluhan tahun lalu. Namun bagi sebuah negara, pengabdian para prajuritnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Di tanah Maluku, sebuah misi kemanusiaan kembali membuka lembaran sejarah Perang Dunia II. Pemerintah Amerika Serikat melalui Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA) mengirim tim untuk menelusuri jejak 20 prajurit Amerika Serikat yang diyakini gugur di wilayah Maluku pada masa Perang Dunia II.
Mereka datang bukan untuk mencari kemenangan perang.
Mereka datang untuk mencari manusia.
Untuk mencari sisa-sisa prajurit yang puluhan tahun lalu meninggalkan rumah, keluarga, dan tanah kelahirannya demi menjalankan tugas kepada negaranya.
Misi tersebut membawa sekitar 10 orang anggota tim ke Maluku. Selain melakukan pencarian di Pulau Buru dan Ambon, tim juga akan bergerak ke sejumlah lokasi lain di wilayah Maluku yang memiliki kaitan dengan sejarah hilangnya atau gugurnya para prajurit tersebut.
Di antara anggota tim yang menjalankan misi ini terdapat Nicola, Dan, serta Sabrina. Mereka membawa tugas yang mungkin secara teknis terlihat seperti pekerjaan pencarian biasa. Tetapi di balik setiap langkah mereka, terdapat beban sejarah dan kemanusiaan yang jauh lebih besar.
Target mereka adalah menemukan jejak para prajurit tersebut dalam waktu sekitar satu bulan.
Namun medan yang mereka hadapi bukan perkara sederhana.
Sebagian informasi mengenai lokasi keberadaan para prajurit itu selama ini bertahan melalui cerita masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Kesaksian dari orang-orang tua menjadi salah satu mata rantai penting untuk menghubungkan masa lalu dengan pencarian hari ini.
Masalahnya, waktu tidak pernah berhenti.
Sebagian besar orang yang dahulu mengetahui cerita tersebut kini telah meninggal dunia. Ingatan yang pernah hidup bersama mereka ikut terkubur, sementara generasi berikutnya hanya menerima potongan-potongan cerita dari orang tua dan leluhur mereka.
Di situlah pencarian ini menjadi lebih dari sekadar operasi menemukan tulang-belulang.
Ini adalah usaha menyambungkan kembali ingatan manusia yang terputus oleh waktu.
Ada sesuatu yang menggetarkan dari cara sebuah negara memperlakukan prajuritnya yang telah gugur.
Puluhan tahun telah berlalu. Dunia telah berubah. Generasi telah berganti. Tetapi Amerika Serikat masih berusaha mencari mereka.
Pesannya sederhana: seorang prajurit tidak boleh hilang begitu saja dari ingatan negaranya.
Mereka yang pergi berperang mungkin tidak pernah mengetahui apakah kelak jasad mereka akan ditemukan.
Namun negara mereka datang kembali, bahkan setelah puluhan tahun, untuk menjemput mereka secara terhormat.
Janji kepada keluarga tidak berhenti ketika perang berakhir.
Justru setelah perang selesai, pencarian terhadap mereka yang belum kembali menjadi bagian dari penghormatan negara.
Di Maluku, misi itu menemukan ruang yang sangat manusiawi. Sebab tanah ini bukan hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah besar Perang Dunia II.
Buru, Ambon, dan sejumlah wilayah lain di Maluku menjadi saksi bahwa perang pernah meninggalkan luka yang panjang dan jejak manusia yang belum sepenuhnya ditemukan.
Karena itu, pencarian 20 prajurit Amerika tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai misi pemerintah asing di wilayah Maluku.
Ini adalah perjumpaan antara sejarah Amerika dan sejarah Maluku.
Orang-orang Maluku yang masih menyimpan cerita dari generasi sebelumnya kini menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan identitas mereka yang hilang.
Dan ketika sebuah tulang-belulang ditemukan kelak, yang ditemukan bukan sekadar sisa tubuh manusia.
Di sana mungkin ada nama.
Ada keluarga.
Ada seorang anak yang pernah menunggu ayahnya pulang.
Ada seorang ibu yang mungkin sepanjang hidupnya bertanya-tanya di mana anaknya terakhir berada.
Ada seorang istri yang mungkin tidak pernah mendapatkan kepastian.
Dan ada sebuah negara yang akhirnya dapat berkata kepada keluarganya:
“Kami telah menemukan orang yang selama ini kami cari.”
Inilah sisi lain dari sebuah negara besar.
Kekuatan sebuah negara bukan hanya terlihat dari persenjataan, ekonomi, atau pengaruh politiknya. Kekuatan juga terlihat dari bagaimana negara itu memperlakukan mereka yang telah mengorbankan hidupnya.
Misi DPAA di Maluku mengingatkan kita bahwa pengabdian tidak memiliki tanggal kedaluwarsa dan penghormatan tidak mengenal batas waktu.
Perang Dunia II boleh tinggal dalam buku sejarah.
Tetapi bagi keluarga dari mereka yang belum ditemukan, perang itu mungkin belum pernah benar-benar selesai.
Dan kini, puluhan tahun kemudian, langkah-langkah kecil para pencari di tanah Maluku membawa harapan besar: bahwa 20 prajurit yang pernah pergi demi negaranya itu suatu hari dapat ditemukan, diidentifikasi, dan dipulangkan dengan kehormatan.
Sebab pada akhirnya, setiap prajurit memiliki satu hak yang sama:untuk tidak dilupakan.
(Mus Latuconsina)