Ketika Seragam Pulang, Pengabdian Tetap Tinggal: Catatan untuk AKBP Sulastri Sukijang

 

Ada manusia yang datang ke suatu tempat hanya untuk menjalankan tugas.

Ada pula manusia yang, setelah pergi, meninggalkan sesuatu yang tidak ikut dibawa oleh kendaraan dinas: kenangan tentang pengabdian.Begitulah waktu bekerja.

Ia datang tanpa mengetuk pintu, tinggal sebentar di rumah kehidupan, lalu pergi meninggalkan jejak yang baru terasa ketika seseorang telah beranjak dari tempatnya berdiri.

Kurang lebih dua tahun enam bulan dua puluh dua hari, AKBP Sulastri Sukidjang menjalani pengabdian sebagai Kapolres Buru.

Hari-hari itu bukan sekadar hitungan angka.

Di dalamnya ada malam-malam panjang, persoalan yang datang silih berganti, telepon yang berdering ketika orang lain sedang tidur, keputusan yang harus diambil ketika pilihan sama-sama memiliki risiko, serta tanggung jawab untuk memastikan bahwa tanah yang luas ini tetap memiliki rasa aman bagi masyarakatnya.

Buru bukan halaman yang selalu tenang.Di sini, hukum bertemu dengan kepentingan.Demokrasi bertemu dengan perbedaan.Pembangunan bertemu dengan hak masyarakat.Ekonomi bertemu dengan kebutuhan hidup.

Dan keamanan sering kali berdiri di tengah semuanya, seperti seorang penjaga yang tidak boleh kehilangan keseimbangan.

Dalam perjalanan itulah, tujuh persoalan besar menjadi bagian dari catatan pengabdiannya.

Pencurian kubah masjid, misalnya.

Belum genap seminggu mengenakan amanah sebagai Kapolres Buru, persoalan itu sudah mengetuk pintu. Respons cepat dilakukan dan pelaku berhasil ditangkap.Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah satu perkara.

Tetapi bagi masyarakat, hukum yang bergerak cepat adalah pesan bahwa negara hadir.

Kemudian datang persoalan konflik pertanahan terkait pembangunan jaringan SUTET PLN, yang menghubungkan kepentingan pembangunan antara Kabupaten Buru dan Buru Selatan.

Tanah bukan sekadar sebidang ukuran di atas peta.Tanah bagi manusia adalah tempat tinggal, sejarah, warisan, dan terkadang harga diri.

Karena itu, penyelesaian konflik tanah tidak cukup hanya dengan melihat batas-batas administratif. Di sana diperlukan komunikasi, kesabaran, koordinasi, serta kemampuan mempertemukan kepentingan yang berbeda.

Lalu datang musim demokrasi.Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi hingga DPRD Kabupaten.Kemudian Pilkada.

Dan bahkan dua kali Pemungutan Suara Ulang. Demokrasi sering terlihat sederhana dari kejauhan: rakyat datang, memilih, lalu pulang.

Tetapi di balik satu suara yang dimasukkan ke kotak suara, ada ribuan orang yang bekerja memastikan perbedaan pilihan tidak berubah menjadi pertengkaran.

Polisi berdiri di sana bukan untuk menentukan siapa yang menang.

Polisi berdiri untuk memastikan setiap orang memiliki ruang yang sama untuk menggunakan haknya dengan aman.

Dan Buru melewati seluruh tahapan itu.

Kemudian Gunung Botak kembali menjadi cerita panjang. Pertambangan ilegal.Sebuah persoalan yang tidak pernah hanya berbicara tentang emas.Di sana ada kemiskinan dan harapan.

Ada pekerjaan dan kebutuhan hidup.Ada lingkungan dan masa depan.Ada hukum dan kepentingan.Ada negara dan masyarakat.

Gunung Botak mengajarkan satu hal: bahwa persoalan publik jarang memiliki satu warna.

Karena itulah penyelesaiannya membutuhkan lebih dari sekadar ketegasan.Ia membutuhkan komunikasi, koordinasi dan kolaborasi.

Begitu pula berbagai perkara lainnya—korupsi, tindak pidana tertentu, narkotika, dan tindak pidana umum.

Satu demi satu menjadi bagian dari pekerjaan yang mungkin tidak semuanya diketahui masyarakat.

Sebab sebagian besar pekerjaan kepolisian memang berlangsung jauh dari sorotan kamera.Ada perkara yang hanya diketahui penyidik.

Ada korban yang hanya ingin mendapatkan keadilan.Ada keluarga yang menunggu kepastian.Ada anggota polisi yang bekerja tanpa tepuk tangan.

Dan mungkin di situlah makna pengabdian sesungguhnya.Bekerja bukan karena ingin dikenang, tetapi karena ada amanah yang harus ditunaikan.

Kini waktu berkata lain.Seragam itu akan meninggalkan Buru.Jabatan itu akan berpindah.

Kantor yang setiap hari menjadi tempat bekerja akan memiliki pemimpin baru.

Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ikut dipindahkan oleh mutasi: jejak manusia di dalam ingatan manusia lainnya.

AKBP Sulastri Sukidjang akan kembali bertugas di Polda Maluku.

Dari Buru, ia pergi dengan membawa kenangan tentang masyarakat yang pernah ia layani dan anggota Polres Buru yang pernah berdiri bersamanya menghadapi berbagai persoalan.

Namun sebelum pergi, ada satu sikap yang justru menunjukkan bahwa seorang pemimpin memahami dirinya sebagai manusia.

Ia meminta maaf.Kepada Forkopimda.Kepada tokoh masyarakat.Kepada tokoh agama.

Kepada tokoh adat.Kepada seluruh masyarakat Kabupaten Buru.Dan kepada insan pers.

Sebab selama menjalankan tugas, mungkin ada kata yang terasa kurang tepat, sikap yang tidak sengaja melukai perasaan, atau keputusan yang tidak semua orang dapat pahami.

Kepada para jurnalis, permohonan maaf itu juga menjadi bagian penting dari perpisahan.

Sebab polisi dan pers berada di dua sisi yang berbeda dari satu kepentingan yang sama: kepentingan publik.

Polisi menjaga keamanan.Pers menjaga agar suara publik tidak tenggelam.

Keduanya bisa berbeda cara pandang, tetapi perbedaan itu seharusnya tidak menghapus rasa hormat.

Sebab kritik bukan musuh.Berita bukan permusuhan.Dan perbedaan pandangan bukan alasan untuk memutuskan komunikasi.

Justru dalam sebuah negara demokrasi, institusi yang kuat adalah institusi yang mampu mendengar suara yang tidak selalu menyenangkan.

Maka permohonan maaf AKBP Sulastri kepada insan pers bukan sekadar kalimat seremonial di penghujung masa jabatan.

Ia adalah pengakuan sederhana bahwa setiap manusia yang memegang amanah tetap memiliki keterbatasan.

Tidak ada pemimpin yang mampu membuat seluruh orang selalu puas.

Tidak ada keputusan yang selalu diterima semua pihak.Tidak ada perjalanan yang sepenuhnya bebas dari kekurangan.

Tetapi ada sesuatu yang selalu dapat dipertanggungjawabkan: niat untuk bekerja dan kesediaan untuk memperbaiki diri.

Dan kini, kepada Kapolres Buru yang baru, ada sebuah pesan yang dititipkan.

Jagalah saudara-saudara di Kabupaten Buru.

Jangan hanya menjaga mereka dari kejahatan, tetapi juga jagalah rasa percaya mereka kepada hukum.

Layani masyarakat dengan hati.Dengarkan sebelum menjawab.Datang sebelum diminta.Dan jangan pernah membiarkan jarak antara institusi dan masyarakat menjadi terlalu jauh.

Karena masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang kuat.Masyarakat juga membutuhkan polisi yang dekat.

Polisi yang ketika datang tidak membuat rakyat merasa takut, tetapi merasa bahwa negara sedang datang untuk melindungi.

Itulah mungkin warisan yang paling indah dari sebuah jabatan:bukan kursi yang pernah diduduki,bukan ruangan yang pernah ditempati,

bukan pangkat yang pernah disandang.Melainkan rasa aman yang pernah diberikan kepada orang lain.

Maka ketika suatu hari nama Buru kembali disebut dalam perjalanan AKBP Sulastri Sukidjang, semoga yang terbayang bukan hanya sebuah kabupaten di kepulauan Maluku.

Semoga yang hadir adalah wajah-wajah manusia.Wajah anggota polisi yang pernah bekerja bersamanya.Wajah tokoh masyarakat yang pernah berdialog dengannya.

Wajah tokoh agama dan tokoh adat yang pernah membuka pintu komunikasi.Wajah wartawan yang pernah bertanya dengan tajam.Wajah masyarakat yang mungkin pernah datang membawa keluhan.

Dan mungkin juga wajah mereka yang pernah berbeda pandangan dengannya.Sebab begitulah kehidupan bekerja.Kita tidak selalu meninggalkan tempat dengan cerita yang sempurna.

Tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk meninggalkan ketulusan.

Hari ini AKBP Sulastri Sukidjang berpamitan.

Namun sesungguhnya, yang berpamitan hanyalah jabatan dan tempat tugas.

Pengabdian tidak pernah mengenal kata pindah.Ia hanya berganti alamat.Dari Buru menuju Polda Maluku.Dari satu amanah menuju amanah berikutnya.

Selamat jalan, AKBP Sulastri Sukidjang.Terima kasih untuk dua tahun enam bulan dua puluh dua hari.Terima kasih telah pernah berdiri di tanah Buru.

Terima kasih telah berjalan bersama anggota Polres Buru.Dan terima kasih telah menjadi bagian dari cerita masyarakat di pulau ini.

Buru tidak meminta seorang Kapolres untuk menjadi manusia tanpa salah.

Buru hanya berharap, siapa pun yang datang membawa amanah, selalu ingat bahwa di balik seragam itu ada hati manusia—dan di balik setiap pintu rumah masyarakat, ada harapan agar negara tetap hadir.

Pergilah dengan doa.

Bertugaslah dengan kehormatan.

Dan biarkan waktu yang kelak bercerita bahwa pernah ada seorang perempuan bernama Sulastri Sukidjang, yang selama dua tahun enam bulan dua puluh dua hari, pernah menjaga sebagian halaman negeri ini dengan segenap kemampuan yang ia punya.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, seragam akan berganti, tetapi kebaikan yang pernah ditanam di hati manusia tidak mengenal mutasi.

(Mus Latuconsina)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!