Catatan Editorial
Di tengah zaman ketika jabatan sering diperebutkan dan kekuasaan kadang menjadi alasan orang saling berhadap-hadapan, ada sosok yang justru memperlihatkan bahwa kepemimpinan adat tidak selalu harus berdiri di atas pertentangan.
Ia adalah A. Aziz Hentihu, SE, Raja Adat Leisela Pulau Buru yang dikukuhkan adat sebagai Raja Leisela dalam acara adat besar di Wamlana ibu kota petuanan Leisela pada tahun 2014, sosok ini dikenal publik sebagai sosok yang tegas dalam sikap, tetapi tetap egaliter dalam pergaulan.
Leisela memiliki cerita yang berbeda.
Di negeri adat ini, kepemimpinan Raja tidak tumbuh dari kegaduhan perebutan jabatan. Tidak ada dualisme kepemimpinan yang berkepanjangan. Tidak pula terdengar pertarungan untuk sekadar mengejar sebuah gelar.
Sebab bagi masyarakat adat, Raja bukan sekadar nama di atas sebuah jabatan.
Raja adalah simbol sejarah, marwah, garis keturunan lurus/nasab/geneulogi, sekaligus penjaga keseimbangan ruang kehidupan masyarakat adat.
Di situlah sosok Aziz Hentihu menarik untuk dikenal dan dibicarakan.
Ia bukan orang yang asing dengan dunia kepemimpinan. Pengalamannya telah ditempa melalui perjalanan panjang di ruang publik. Ia pernah dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Buru dari PPP selama dua periode, kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku selama satu periode.
Namun, jabatan politik bukan satu-satunya ruang pengabdiannya.
Aziz Hentihu, alumni Universitas Airlangga Surabaya ini juga tercatat aktif dalam berbagai organisasi, puluhan organisasi pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bermula dari HMI, ketua Eksponen 98 Jatim, KNPI Kota Ambon, KNPI Maluku, Ketuan DPC PPP Buru, Persatuan Tinju Maluku, ICMI Maluku, Wakil Ketua DPRD Buru, Ketua DPW PPP Maluku, DPRD Maluku, Presidium KAHMI Maluku, Waketum Kadin Maluku.
Dan saat ini ia menjabat sebagai Komisaris PT. Maluku Energi Abadi (MEA) Maluku, Badan Usaha Milik Daerah Provinsi Maluku yang Beroperasi pada bidang Migas, Pertambangan dan lain-lain.
Dari rekam jejak ini juga yang menciptakan Raja Leisela, Aziz Hentihu memiliki jaringan sangat luas di aras politik elit Maluku dan Nasional.
Dari sana ia belajar bahwa memimpin bukan sekadar berdiri di depan, tetapi juga tahu kapan harus mendengar, kapan harus mengekspresikan Keputusan.
Mungkin karena itulah karakter kepemimpinannya terasa berbeda.Tegas, tetapi tidak harus keras.Berwibawa, tetapi tidak harus menjaga jarak.
Memiliki kedudukan, tetapi tidak merasa lebih tinggi.Itulah makna egaliter yang melekat pada sosoknya.
Egaliter bukan berarti kehilangan ketegasan.
Justru seorang pemimpin yang egaliter memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. Ia bisa duduk bersama rakyat, mendengarkan orang kecil, berbicara dengan tokoh masyarakat, dan tetap berdiri tegak ketika prinsip harus dipertahankan.
Dalam konteks adat, karakter seperti ini menjadi penting.
Sebab negeri adat bukan sekadar wilayah. Ia adalah ruang tempat sejarah diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalamnya terdapat nama leluhur, tanah pusaka, hubungan kekerabatan, tradisi, dan nilai-nilai yang tidak boleh diperlakukan seperti kepentingan sesaat.
Karena itu, seorang Raja Petuanan Adat sejatinya bukan hanya pemegang simbol kekuasaan adat.
Ia adalah penjaga marwah adat.
Dan di Leisela, kepemimpinan adat yang berjalan tunggal dan tanpa kegaduhan perebutan jabatan menjadi sebuah pesan penting: bahwa adat akan tetap kokoh ketika kepemimpinan mampu menjaga persatuan, cinta kasih dan kasih sayang. Termasuk walaupun Raja Leisela tidak pernah digaji tetapi tetap berusaha untuk berbagi dengan hati, ini juga adalah janji dan titah yang dipegang turun-temurun dari generasi pemimpin – pemimpin Leisela sebelumnya.
Aziz Hentihu tentu bukan manusia tanpa kekurangan. Tetapi perjalanan panjangnya di dunia politik, organisasi, dan kehidupan sosial menunjukkan satu hal: ia telah cukup lama berada di tengah masyarakat untuk memahami bahwa jabatan apapun akan berakhir, tetapi nama baik dan warisan kepemimpinan akan terus dikenang karena baginya pemimpin adalah pelayan.
Pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat seseorang karena berapa lama ia duduk pada sebuah jabatan.
Sejarah lebih sering mengingat bagaimana ia menggunakan kursi itu untuk menjaga martabat orang-orang yang dipimpinnya.
Leisela hari ini memiliki kisahnya sendiri.
Sebuah negeri adat yang tidak seharusnya diukur hanya dari siapa yang memegang gelar Raja, tetapi dari sejauh mana seorang Raja mampu merawat persaudaraan, mengajari cinta kasih, menjaga marwah leluhur, dan memastikan agar adat tidak berubah menjadi arena perebutan kepentingan.
Sebab Raja yang besar bukanlah Raja yang paling banyak ditakuti.
Raja yang besar adalah mereka yang mampu membuat rakyat merasa dihargai, masyarakat merasa memiliki, dan adat tetap berdiri tegak meski zaman terus berubah.
Dan dari perjalanan panjang A. Aziz Hentihu, Leisela menunjukkan kepada kita bahwa ketegasan dan kerendahan hati tidak harus dipertentangkan.
Keduanya justru bisa hidup dalam diri seorang pemimpin.
Tegas menjaga prinsip.Egaliter dalam pergaulan.Berwibawa dalam kepemimpinan.Dan tetap berpijak pada akar adat.
Itulah wajah kepemimpinan yang semestinya diwariskan kepada generasi berikutnya.