Jangan Biarkan Pancasila Berhenti di Dinding Kelas
Oleh: Selamet Untung Suropati
Medan (MediaIstana) – Ada ironi yang terus berulang setiap tahun. Kita begitu fasih mengucapkan Pancasila, tetapi belum tentu fasih menjalankannya. Kita dapat menghafal lima sila dengan sempurna, mengikuti upacara dengan khidmat, memasang lambang Garuda di ruang-ruang publik, bahkan berpidato panjang tentang nasionalisme. Namun, di luar seremoni itu, masih mudah kita temukan penghinaan terhadap sesama, perundungan terhadap yang lemah, intoleransi, ketidakjujuran, korupsi, politik kebencian, kesenjangan, dan hilangnya kepedulian sosial.
Lalu, di mana Pancasila ketika semua itu terjadi?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menuduh siapa pun. Justru sebaliknya, ia merupakan cermin untuk kita semua.Sebab persoalan terbesar Pancasila hari ini barangkali bukan karena bangsa Indonesia tidak mengenalnya. Kita mengenalnya. Kita menghafalnya. Kita mengucapkannya.
Persoalannya adalah: apakah kita benar-benar menghidupinya?
Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak sekadar menjadi kalender merah dalam ingatan kebangsaan. Ia harus menjadi momentum evaluasi moral: apakah nilai-nilai yang dirumuskan para pendiri bangsa masih menjadi kompas dalam kehidupan kita, atau perlahan berubah menjadi sekadar simbol yang indah tetapi kehilangan daya gugah?
Pancasila Tidak Kekurangan Upacara, tetapi Kekurangan Keteladanan, Kita tidak kekurangan kegiatan bertema Pancasila.
Seminar digelar. Spanduk dipasang. Upacara dilaksanakan. Lomba diadakan. Pidato kebangsaan disampaikan.Namun, pembumian Pancasila tidak boleh berhenti pada banyaknya kegiatan. Pancasila tidak akan menjadi kuat hanya karena semakin banyak orang membicarakannya.Pancasila menjadi kuat ketika nilai-nilainya menjadi kebiasaan.
Seorang guru yang memperlakukan seluruh murid secara adil sedang mengamalkan Pancasila.Orang tua yang mengajarkan anak menghormati teman yang berbeda latar belakang sedang membumikan Pancasila.
Anak muda yang menolak melakukan perundungan sedang menjaga kemanusiaan.Tetangga yang membantu warga yang kesulitan sedang menghidupkan gotong royong.
Pemimpin yang mau mendengar kritik dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat sedang menjalankan semangat permusyawaratan.
Dengan demikian, pembumian Pancasila sesungguhnya tidak selalu membutuhkan panggung besar.Ia membutuhkan keteladanan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Ketika Identitas Lebih Cepat daripada Empati
Tantangan Pancasila hari ini semakin kompleks. Kita hidup dalam masyarakat yang sangat mudah terhubung, tetapi sekaligus mudah terbelah.
Media sosial mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga mempercepat penyebaran prasangka.
Perbedaan pilihan dapat berubah menjadi permusuhan. Perbedaan keyakinan dapat diseret menjadi pertentangan sosial. Perbedaan pendapat dapat berkembang menjadi penghinaan personal.Kita sering lupa bahwa demokrasi tidak pernah menjanjikan keseragaman.
Demokrasi justru mengajarkan bagaimana manusia yang berbeda dapat hidup dalam satu ruang kebangsaan.
Karena itu, seseorang tidak kehilangan haknya sebagai warga negara hanya karena pendapatnya berbeda dengan kita.
Berbeda bukan berarti bermusuhan. Berdebat bukan berarti membenci. Mengkritik bukan berarti menghancurkan.
Di sinilah sila kedua dan sila ketiga menemukan relevansinya.
Kemanusiaan dan persatuan tidak boleh menjadi slogan yang hanya terdengar ketika upacara. Keduanya harus menjadi etika dalam kehidupan sosial, termasuk dalam ruang digital.
Kita perlu mengajarkan kepada generasi muda bahwa kemampuan menahan diri ketika memiliki kekuasaan untuk menghina orang lain juga merupakan bentuk kecerdasan.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang rakyatnya pintar berbicara, tetapi bangsa yang rakyatnya mampu menjaga adab ketika berbeda.
Pancasila dan Tantangan Generasi Digital
Ada tantangan yang tidak boleh kita abaikan: anak-anak kita tumbuh dalam ekosistem digital yang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita mendidik mereka.
Mereka berhadapan dengan berbagai macam konten setiap hari. Mereka melihat kekerasan verbal, budaya mempermalukan orang lain, glorifikasi kemewahan, kebencian, dan berbagai bentuk perilaku yang terkadang bertentangan dengan nilai kehidupan bermasyarakat.
Maka pendidikan Pancasila tidak boleh hanya mengajarkan definisi.
Anak tidak cukup diberitahu bahwa sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.
Mereka harus mengalami bagaimana rasanya dihargai.
Mereka harus belajar bahwa teman yang berbeda tetap harus dihormati.
Mereka harus memahami bahwa mengejek kekurangan fisik seseorang bukan candaan.
Mereka harus mengetahui bahwa menyebarkan foto atau informasi seseorang tanpa mempertimbangkan dampaknya dapat melukai orang lain.
Mereka harus dibiasakan menyelesaikan konflik melalui dialog.
Inilah pembelajaran Pancasila yang sesungguhnya.
Pancasila harus dirasakan sebelum dihafalkan.
Sekolah Harus Menjadi Laboratorium PancasilaDi sinilah dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar.Sekolah jangan hanya menjadi tempat anak memperoleh nilai akademik. Sekolah harus menjadi laboratorium kehidupan kebangsaan.
Di sekolah, anak belajar bahwa setiap manusia memiliki martabat.
Di sekolah, anak belajar bahwa perbedaan kemampuan bukan alasan untuk merendahkan.
Di sekolah, anak belajar bahwa kemenangan bukan segala-galanya.
Di sekolah, anak belajar bahwa musyawarah lebih baik daripada memaksakan kehendak.
Dan yang paling penting, anak belajar bahwa kesalahan tidak selalu harus dibalas dengan penghukuman; terkadang ia membutuhkan pembinaan, dialog dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Karena itu, ketika seorang siswa melakukan kesalahan, jangan terlalu cepat memberinya label “anak nakal”.
Boleh jadi yang kita lihat sebagai kenakalan adalah pesan yang belum mampu ia sampaikan.
Boleh jadi di balik perilaku agresif terdapat persoalan yang membutuhkan pendampingan.
Boleh jadi anak yang sulit diatur sedang mencari perhatian, penerimaan, atau ruang untuk didengar.
Pendekatan pendidikan yang beradab sejalan dengan semangat kemanusiaan dalam Pancasila.
Mendidik bukan sekadar membuat anak patuh. Mendidik adalah membantu manusia muda tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Jangan Mengajarkan Persatuan dengan Cara Memusuhi Perbedaan
Kita juga harus berhati-hati dalam berbicara tentang persatuan.Persatuan bukan berarti membungkam perbedaan.
Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama.Persatuan bukan berarti kritik harus disingkirkan.
Justru bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Dalam masyarakat demokratis, kritik merupakan bagian dari kehidupan publik. Yang perlu dibangun bukan budaya anti-kritik, melainkan budaya kritik yang beradab.
Kritik harus diarahkan kepada gagasan, kebijakan atau tindakan, bukan berubah menjadi penghinaan terhadap martabat manusia.
Di sinilah Pancasila memberikan jalan tengah: tegas terhadap persoalan, tetapi tetap beradab terhadap manusia.
Keadilan Sosial Jangan Menjadi Slogan
Sila kelima adalah salah satu bagian paling konkret dari Pancasila.Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan pidato tentang keadilan. Rakyat ingin merasakan keadilan dalam kehidupan nyata.
Anak dari keluarga sederhana membutuhkan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.Masyarakat membutuhkan pelayanan publik yang manusiawi.
Pekerja membutuhkan penghargaan terhadap martabat dan jerih payahnya.Kelompok yang rentan membutuhkan perlindungan.
Masyarakat di daerah membutuhkan kesempatan yang tidak terlalu jauh tertinggal dari mereka yang tinggal di pusat-pusat pertumbuhan.Pancasila akan terasa hidup ketika keadilan bukan hanya menjadi konsep dalam dokumen negara, tetapi hadir dalam pengalaman sehari-hari masyarakat.
Keadilan sosial bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan martabat manusia.Pancasila Membutuhkan Manusia yang BerkarakterPada akhirnya, persoalan Pancasila adalah persoalan manusia.
Kita dapat membuat sebanyak mungkin regulasi tentang Pancasila. Kita dapat membuat berbagai program penguatan ideologi. Kita dapat memasukkan pendidikan Pancasila ke dalam berbagai kegiatan.
Tetapi tanpa manusia yang memiliki keteladanan, semua itu berisiko menjadi administrasi tanpa transformasi.
Karena itu, pembumian Pancasila harus dimulai dari karakter.Kejujuran harus kembali menjadi kebanggaan.Amanah harus kembali menjadi kehormatan.Gotong royong harus kembali menjadi budaya.Musyawarah harus kembali menjadi kebiasaan.Menghormati perbedaan harus kembali menjadi karakter.Dan kepedulian kepada sesama harus kembali menjadi ukuran kemuliaan manusia.
Dalam perspektif keagamaan, nilai tersebut bukan sesuatu yang asing. Ajaran agama mengajarkan manusia untuk berlaku adil, berbuat baik, menjaga persaudaraan, menolong sesama dan menjauhi kezaliman.
Karena itu, bagi masyarakat Indonesia yang religius, pengamalan Pancasila semestinya tidak dipahami sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama. Justru nilai ketuhanan dapat menjadi sumber energi moral untuk melahirkan kehidupan kebangsaan yang lebih manusiawi.
Sudah waktunya kita mengubah cara memandang Hari Lahir Pancasila.Jangan hanya bertanya apakah anak-anak kita hafal lima sila.Tanyakan pula: apakah mereka mampu menghormati temannya?
Jangan hanya bertanya apakah mereka mengetahui makna persatuan.
Tanyakan apakah mereka mampu bekerja sama dengan orang yang berbeda?
Jangan hanya mengajarkan musyawarah.
Berikan mereka kesempatan untuk bermusyawarah.
Jangan hanya berbicara tentang keadilan.
Tunjukkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pendidikan Pancasila yang paling kuat bukanlah ceramah yang panjang, melainkan keteladanan yang terlihat setiap hari.
Pada akhirnya, Pancasila tidak membutuhkan generasi yang sekadar pandai mengucapkannya.
Pancasila membutuhkan generasi yang jujur ketika tidak ada yang melihat, adil ketika memiliki kekuasaan, santun ketika berbeda pendapat, peduli ketika orang lain kesulitan, dan berani membela kebenaran tanpa merendahkan manusia lain.Itulah pekerjaan besar kita.
Hari Lahir Pancasila bukan hanya tentang bagaimana kita mengenang masa lalu. Ia adalah pertanyaan tentang masa depan:
Bangsa seperti apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita?Jika kita ingin mewariskan Indonesia yang kuat, maka kita harus mewariskan lebih dari sekadar simbol.Kita harus mewariskan karakter.
Jika kita ingin Pancasila tetap hidup, maka jangan biarkan ia hanya menjadi tulisan di dinding sekolah, lambang di ruang kantor, atau hafalan dalam upacara.
Turunkan Pancasila dari dinding ke kehidupan. Dari pidato ke tindakan. Dari hafalan menjadi keteladanan. Dari simbol menjadi peradaban.
Sebab Pancasila tidak akan kehilangan makna karena zaman berubah.Pancasila akan kehilangan makna apabila manusianya berhenti mengamalkannya.Mari membumikan Pancasila—bukan dengan banyaknya kata yang kita ucapkan, tetapi dengan banyaknya kebaikan yang kita kerjakan. ( Su16)
Penulis : Selamet Untung Suropati
Anggota Gerakan Pembumian Pancasila Sumatera Utara / Pemerhati Pendidikan