Arahkan pandanganmu ke depan, Nak.
Jangan terlalu lama menoleh ke belakang, sebab perjalanan hidup selalu meminta kita untuk melangkah, bukan terus-menerus tinggal di masa lalu.
Dan jangan pernah lepaskan tangan Papa.
Selama tanganmu masih menggenggam tangan Papa, percayalah, kamu tidak sendirian. Kamu akan tetap aman dalam lindungan Papa. Kamu tidak akan tersesat, karena kamu tahu siapa yang sedang menggenggam tanganmu.
Kamu bisa melangkah karena kamu mengenal Papa sebagai ayahmu.
Kamu berani berjalan karena kamu percaya.
Dan kamu percaya karena kamu telah merasakan kasih sayang yang tidak selalu hadir dalam kata-kata, tetapi nyata dalam setiap penjagaan.
Mungkin, sesungguhnya, hidup ini sesederhana itu.
Jika saja kita mau menggantungkan hidup kepada Sang Pemilik Hidup. Jika saja kita mau menggenggam-Nya erat-erat di dalam hati, mengenal-Nya, mempercayai-Nya, lalu menyerahkan seluruh perjalanan kepada-Nya dengan ketulusan yang utuh.
Berserah bukan berarti berhenti berusaha.
Berserah adalah tetap melangkah setelah melakukan yang terbaik, lalu percaya bahwa ada tangan yang jauh lebih kuat daripada tangan kita yang sedang menjaga.
Ketika kamu jatuh, ada tangan yang mengangkatmu.
Ketika kamu lelah, ada kasih yang menggendongmu.
Ketika beban terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri, ada cinta yang menguatkan dan menghiburmu.
Dan ketika suatu hari kamu berada di puncak kebahagiaan, jangan hanya menikmatinya untuk dirimu sendiri.
Ubahlah bahagiamu menjadi cahaya bagi orang lain.
Jadikan keberhasilanmu sebagai jalan untuk menolong.
Jadikan kekuatanmu sebagai tempat bersandar bagi mereka yang sedang lemah.
Sebab mungkin itulah hakikat perjalanan manusia: bukan sekadar menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi penunjuk jalan bagi sesama.
Nak, hidup tidak selalu menjanjikan jalan yang lurus. Akan ada persimpangan, kehilangan, air mata, kegagalan, dan hari-hari ketika kamu bertanya ke mana harus melangkah.
Tetapi selama kamu mengenal siapa yang menggenggam tanganmu, kamu tidak perlu takut pada jalan yang panjang.
Peganglah tangan-Nya lebih erat ketika dunia terasa tidak pasti.
Sebab selama Dia ada di dalam hatimu, kamu boleh kehilangan banyak hal dalam perjalanan, tetapi jangan pernah kehilangan arah.
Dan jika suatu hari tangan Papa tak lagi mampu menggenggam tanganmu, ingatlah satu hal:
Tangan Tuhan tidak pernah melepaskanmu.
Melangkahlah, Nak.
Dengan iman di dada, kasih di hati, dan Tuhan sebagai arah.
Sebab pada akhirnya, kita tidak benar-benar tahu ke mana seluruh perjalanan ini akan membawa kita.
Tetapi kita tahu kepada siapa kita menyerahkan perjalanan ini.
(Muhamad Daniel Rigan)
Anyer, Banten, 8 Oktober 2026