Probolinggo, Mediaistana.com
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo mencetak tenaga kerja terampil lewat pelatihan kompetensi kejuruan batik tulis. Pelatihan 20 hari kerja itu digelar di LPK Ronggo Mukti, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, dan diikuti 16 peserta dari berbagai kecamatan.
Program ini dibiayai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026. Tujuannya meningkatkan kompetensi masyarakat sekaligus menekan angka pengangguran terbuka di Kabupaten Probolinggo.
Pelatihan ditinjau langsung Ketua Dekranasda Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, SE., MM. Turut hadir Wakil Ketua II Dekranasda Rita Erik Ugas Irwanto, Sekretaris Dekranasda Galuh Hudan Syarifuddin, dan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Probolinggo Nurhadi Wijayanto, Selasa (2/6/2026).
Kehadiran rombongan disambut Kepala Disnaker Saniwar, Ketua DWP Disnaker Ismawati Saniwar, Ketua TP PKK Kraksaan Wiwin Puja Kurniawan, Lurah Sidomukti Supardi, serta Owner Batik Tulis Ronggo Mukti Mahrus Ali dan Eva Sari.
Dalam kesempatan itu, Ning Marisa bersama Kepala Disnaker Saniwar dan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Nurhadi Wijayanto menyerahkan simbolis peralatan pelatihan dan kartu BPJS Ketenagakerjaan. Ini bentuk dukungan dan perlindungan bagi peserta selama pelatihan.
Kepala Disnaker Saniwar menyebut pelatihan ini upaya Pemkab menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang saat ini 2,92%. Alhamdulillah perkembangan peserta sangat baik. Semangat mereka luar biasa. Sebagian besar lulusan sekolah yang belum bekerja, jadi ini bekal penting, ungkapnya.
Saniwar menambahkan ke depan pelatihan akan pakai sistem jemput bola. Sistem ini biar lebih dekat dengan masyarakat dan menjangkau wilayah yang minat batiknya tinggi.
Harapan kami peserta terserap kerja, baik di perusahaan batik maupun buka usaha mandiri. Pelatihan ini tidak hanya tingkatkan kompetensi, tapi juga dorong lahirnya wirausaha baru, jelasnya.
Ning Marisa mengapresiasi semangat peserta yang sudah belajar hampir 2 pekan. Ia menegaskan membatik bukan sekadar menggambar, tapi karya seni bernilai tinggi, sarat filosofi dan warisan budaya.
Batik dikerjakan manual. Butuh kesabaran, ketelitian, keuletan. Selembar kain punya cerita dan nilai seni tinggi. Saya harap ilmu ini dikembangkan jadi bekal usaha. Banggalah pakai dan lestarikan batik sebagai warisan bangsa, pungkasnya.