Catatan Ekonomi Bisnis. Oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Di dunia bisnis, ada satu prinsip yang selalu berlaku: tidak semua peluang besar datang dua kali.
Sebagian daerah membutuhkan puluhan tahun untuk menunggu hadirnya investasi berskala raksasa yang mampu mengubah wajah perekonomian. Sebagian lagi bahkan tidak pernah mendapat kesempatan itu.
Maluku hari ini sedang berdiri di depan sebuah momentum sejarah bernama Blok Masela.
Banyak orang masih melihat Masela sebatas proyek gas alam. Sebagian melihatnya sebagai angka investasi. Sebagian lagi melihatnya sebagai proyek energi nasional.
Padahal sesungguhnya, Masela jauh lebih besar dari itu.
Masela adalah ujian tentang sejauh mana Maluku mampu mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Selama puluhan tahun, struktur ekonomi Maluku bergerak dalam ruang yang relatif terbatas. Pertumbuhan ekonomi masih banyak ditopang sektor primer, konsumsi pemerintah, dan aktivitas perdagangan tradisional. Akibatnya, ruang penciptaan lapangan kerja berkualitas dan investasi produktif masih belum berkembang secara maksimal.
Blok Masela berpotensi mengubah peta tersebut.
Investasi yang masuk bukan hanya soal pembangunan fasilitas migas. Di belakangnya ada kebutuhan logistik, pelabuhan, transportasi, konstruksi, perhotelan, katering, pergudangan, jasa keuangan, teknologi, pendidikan vokasi, hingga ribuan peluang usaha lain yang akan mengikuti.
Dalam bahasa ekonomi, inilah yang disebut multiplier effect atau efek berganda.
Setiap satu rupiah yang berputar di sektor utama dapat melahirkan beberapa kali lipat aktivitas ekonomi di sektor pendukung.
Karena itu, pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi apakah Masela akan memberikan manfaat bagi Maluku.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Siapa yang akan menikmati manfaat itu?
Apakah pelaku usaha Maluku akan menjadi pemain utama?
Ataukah hanya menjadi penonton yang menyaksikan peluang besar lewat begitu saja?
Pertanyaan ini menjadi sangat relevan karena sejarah pembangunan di berbagai daerah menunjukkan satu kenyataan yang sering terjadi. Ketika investasi besar masuk, yang menikmati manfaat terbesar sering kali adalah mereka yang paling siap.
Bukan yang paling dekat dengan lokasi proyek.
Bukan yang paling banyak berbicara.
Tetapi yang paling siap secara modal, sumber daya manusia, jaringan usaha, dan kapasitas bisnis.
Karena itu, diskusi yang digelar Kadin Maluku bersama Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie bukan sekadar forum seremonial. Diskusi tersebut sesungguhnya merupakan alarm bagi dunia usaha Maluku.
Waktunya tidak banyak.
Jika pengusaha daerah ingin terlibat dalam rantai pasok Masela, maka persiapan harus dimulai sekarang.
Peningkatan kapasitas usaha harus dilakukan sekarang.
Kemitraan strategis harus dibangun sekarang.
Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja harus dimulai sekarang.
Karena ketika proyek telah berjalan penuh, ruang untuk mengejar ketertinggalan akan semakin sempit.
Kehadiran Blok Masela juga harus menjadi momentum lahirnya kelas baru pengusaha Maluku. Pengusaha yang tidak hanya berorientasi pada proyek jangka pendek, tetapi mampu membangun bisnis berkelanjutan yang kompetitif di tingkat nasional bahkan internasional.
Pada titik inilah peran Kadin menjadi sangat penting sebagai jembatan antara pemerintah, investor, dan pelaku usaha lokal.
Maluku tidak boleh mengulangi kesalahan yang pernah terjadi di banyak daerah kaya sumber daya alam, di mana kekayaan keluar dari daerah sementara nilai tambah dan kesejahteraan justru dinikmati pihak lain.
Masela harus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah.
Masela harus menjadi sekolah bisnis bagi generasi muda Maluku.
Masela harus menjadi pintu masuk industrialisasi baru di kawasan timur Indonesia.
Namun semua itu hanya akan terwujud apabila dunia usaha Maluku berani naik kelas.
Sebab pada akhirnya, sejarah ekonomi suatu daerah tidak ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan masyarakatnya memanfaatkan peluang yang ada.
Dan hari ini, peluang itu bernama Blok Masela.