Kapolres Sulastri Sukijang: Ketika Gedung Berdiri, Pengabdian Harus Semakin Berarti

 

Editorial Redaksi

Ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar berdirinya sebuah gedung.

Sebuah gedung mungkin dibangun dari beton, besi dan semen. Tetapi sebuah institusi dibangun dari kepercayaan. Dan kepercayaan masyarakat tidak pernah lahir dari megahnya bangunan, melainkan dari bagaimana orang-orang di dalamnya menjalankan amanah.

Minggu, 6 September 2026, Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukijang, SH, S.I.K.MM, menandai sebuah langkah penting. Gedung Satuan Reserse Narkoba, Gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Balai Kerohanian dan Klinik Polres Buru diresmikan.

Pada saat yang sama, pembangunan Gedung Sipropam dimulai dengan peletakan batu pertama.

Sekilas, ini hanyalah sebuah agenda peresmian fasilitas.

Namun jika dilihat lebih dalam, ada pesan yang jauh lebih besar: pembenahan kepolisian tidak boleh berhenti pada pembangunan ruang kerja, tetapi harus berlanjut pada pembangunan kualitas manusia yang bekerja di dalamnya.

Sebab ruang pemeriksaan yang lebih baik tidak otomatis melahirkan penegakan hukum yang lebih baik.

Gedung yang lebih nyaman tidak dengan sendirinya melahirkan pelayanan yang lebih humanis.

Klinik yang lebih representatif tidak otomatis membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan polisi.

Dan gedung Propam yang lebih memadai tidak akan berarti apa-apa jika integritas tidak ditempatkan sebagai fondasi utama.

Karena itu, setiap gedung yang berdiri hari ini sesungguhnya membawa sebuah pertanyaan besar untuk hari esok:

Apakah pelayanan juga akan ikut berdiri lebih tegak?

Beton Boleh Berdiri, Integritas Jangan Runtuh

Polisi adalah wajah negara yang paling sering bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Ketika warga datang membawa persoalan, ketika korban mencari keadilan, ketika seorang anak membutuhkan perlindungan, ketika masyarakat membutuhkan rasa aman, mereka tidak datang kepada tembok.

Mereka datang kepada manusia berseragam.

Maka yang paling penting bukan seberapa besar sebuah kantor, tetapi seberapa besar kepedulian yang lahir dari dalamnya.

Gedung Satresnarkoba harus menjadi rumah bagi perang melawan narkotika yang semakin merusak masa depan generasi muda.

Klinik harus menjadi ruang pelayanan yang menghadirkan kepedulian terhadap kesehatan personel.

Balai Kerohanian harus menjadi tempat menumbuhkan ketenangan batin, moralitas dan toleransi.

SPPG harus menjadi bagian dari kerja kemanusiaan dalam memastikan pemenuhan gizi masyarakat.

Dan Gedung Sipropam harus menjadi simbol bahwa pengawasan internal bukan sekadar struktur organisasi, tetapi penjaga marwah institusi kepolisian itu sendiri.

Di sinilah makna pembangunan menjadi jauh lebih dalam.

Sebab setiap batu yang diletakkan bukan hanya membangun dinding, tetapi seharusnya ikut membangun karakter.

Propam dan Harapan Publik

Peletakan batu pertama Gedung Sipropam patut dibaca sebagai pesan penting.

Di tengah tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan akuntabilitas aparat, keberadaan pengawasan internal yang kuat menjadi sangat penting.

Propam bukan sekadar ruangan untuk memeriksa personel yang melakukan pelanggaran.

Propam adalah salah satu benteng untuk memastikan bahwa kewenangan tidak disalahgunakan, bahwa disiplin tetap dijaga dan bahwa hukum berlaku secara adil di dalam maupun di luar institusi.

Masyarakat tentu tidak meminta polisi menjadi sempurna.

Tetapi masyarakat berhak berharap polisi mau memperbaiki diri ketika terjadi kesalahan.

Karena institusi yang kuat bukanlah institusi yang tidak pernah dikritik.

Institusi yang kuat adalah institusi yang mampu menerima kritik, melakukan evaluasi dan menjadikan kesalahan sebagai jalan menuju perbaikan.

Melayani Bukan Sekadar Slogan

Ada kalimat yang sederhana tetapi sangat dalam: pelayanan kepada masyarakat.

Kalimat itu mudah diucapkan, tetapi berat untuk diwujudkan.

Pelayanan berarti mendengar sebelum menjawab.

Pelayanan berarti membantu sebelum diminta berkali-kali.

Pelayanan berarti tidak membedakan masyarakat berdasarkan status sosial, jabatan maupun kedekatan.

Pelayanan berarti menghadirkan hukum dengan wajah yang tegas, tetapi tetap manusiawi.

Karena bagi masyarakat kecil, satu laporan yang ditangani dengan sungguh-sungguh bisa berarti harapan.

Satu korban yang didengar bisa berarti keadilan.

Satu polisi yang memilih jujur ketika memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan kewenangan bisa berarti kehormatan bagi seluruh institusi.

Itulah sebabnya pembangunan fasilitas harus diikuti dengan pembangunan budaya kerja.

Gedung baru membutuhkan mental baru.

Dari Namlea untuk Pengabdian

Polres Buru bukan hanya sekumpulan gedung dan seragam.

Ia adalah bagian dari denyut kehidupan masyarakat Pulau Buru.

Di jalan-jalan Namlea, di desa-desa, di pesisir, di pedalaman, masyarakat membutuhkan polisi yang hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan rasa aman, perlindungan dan kepastian.

Karena itu, fasilitas yang semakin baik semestinya menjadi energi baru bagi seluruh personel.

Jangan sampai masyarakat melihat gedung semakin megah, tetapi pelayanan tetap terasa jauh.

(Mus Latuconsina)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!