Probolinggo, Mediaistana.com
Mutasi di tubuh Polri itu unik. Selalu ada dua rasa : yang ditinggal merasa kehilangan, yang disambut merasa beruntung. Hal yang sama terjadi pada Iptu Dj Setyowadi, S.H., Kanit Reskrim Polsek Kraksaan yang kini mendapat amanah baru sebagai Kapolsek Sukapura di lereng Gunung Bromo.
Lelaki kelahiran Surabaya ini meninggalkan Kraksaan dengan satu catatan penting: “JEJAK”. Jejak seorang penegak hukum yang tegas saat menuntaskan kasus, tapi humanis saat bertemu warga. Di ruang penyidikan ia garang. Di jalanan ia membaur, ngobrol tanpa jarak, tanpa sekat dengan masyarakat.
Sosok seperti ini jarang, bos. Ditakuti pelaku kejahatan dan di segani, tapi dirindukan warga. Kedekatannya dengan “orang bawah” di Kraksaan bukan sekadar seremonial. Warga kenal dia dari sapaan, bukan cuma dari pangkat di pundak.
Karena itu wajar kalau kepergiannya bikin banyak pihak merasa kehilangan. Salah satunya Farida, warga Kota Kraksaan. “Kami kehilangan sosok yang dekat dengan kami dan jauh di mata dekat di hati,” ucapnya. tapi itu cermin paling jujur. Masyarakat tidak butuh polisi sempurna di atas kertas. Mereka butuh polisi yang hadir dan mau mendengar.
Sekarang giliran Sukapura yang menyambut. Kawasan wisata Bromo punya tantangan sendiri: keramaian wisatawan, dinamika pedagang, sampai konflik sosial. Berat? Pasti. Tapi rekam jejak Iptu Dj Setyowadi memberi harapan. Tegas untuk hukum, humanis untuk manusia.
Mutasi memang keniscayaan. Kursi boleh berganti, tapi jejak kebaikan tidak ikut pindah. Ia tetap tinggal di Kraksaan sebagai cerita. Dan semoga menjadi bekal kuat saat menapaki tugas baru di Sukapura.
Selamat bertugas di tempat baru, Pak. Kraksaan kehilangan, Sukapura beruntung.