Oleh: Muz Latuconsina
Dua ratus delapan tahun telah berlalu sejak kelahiran seorang putri Maluku yang namanya terpatri abadi dalam sejarah perjuangan bangsa. Martha Christina Tiahahu bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan nyala api keberanian yang terus hidup, menerangi perjalanan generasi demi generasi. Lahir pada 2 Januari 1818, ia mengajarkan bahwa cinta kepada tanah air tidak mengenal usia, dan pengorbanan demi martabat bangsa tidak pernah sia-sia.
Di usia yang sangat muda, Martha Christina Tiahahu berdiri tegak melawan penindasan, menyatukan keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan pada tanah Maluku. Perjuangannya adalah cermin nasionalisme yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan; dari cinta yang tulus pada negeri, bukan ambisi pribadi. Ia menjadi simbol bahwa perempuan dan generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga harga diri bangsa.
Memperingati 208 tahun perjuangannya, kita diajak untuk tidak sekadar mengenang, tetapi meneladani. Nilai keberanian, persatuan, dan pengabdian yang diwariskan Martha Christina Tiahahu harus terus dihidupkan dalam semangat generasi muda Maluku—dalam belajar, berkarya, dan berkontribusi bagi daerah dan Indonesia. Nasionalisme hari ini mungkin tidak lagi diwujudkan di medan perang, tetapi dalam ketekunan membangun, menjaga persatuan, dan merawat jati diri budaya.
Semoga semangat Martha Christina Tiahahu terus mengalir dalam darah anak-anak Maluku, menguatkan langkah menuju masa depan yang berdaulat, bermartabat, dan berkeadilan. Dari Maluku untuk Indonesia, perjuangan itu tidak pernah berhenti—ia hanya berganti wajah dan zaman.
2 Januari 1818 – 2 Januari 2026
(Syam.AS)