Tanimbar,mediaistana.com -Dua versi berbeda tentang penyebab kematian Pratu Samuel Wuarlela/Sangadji di perbatasan RI-Malaysia memicu desakan keras keluarga kepada Panglima TNI. Mereka menuntut pemeriksaan empat saksi kunci dan transparansi penuh atas dugaan rekayasa informasi.
Keluarga mencium kejanggalan setelah menerima dua dokumen yang saling bertabrakan. Laporan awal menyebut almarhum tewas akibat kecelakaan lalu lintas, namun dokumen administrasi berikutnya tiba-tiba berubah menjadi “meninggal karena sakit”.
Perubahan narasi inilah yang memantik amarah pihak keluarga. Mereka menilai ada upaya manipulasi informasi yang mencoreng kebenaran dan menghina kehormatan prajurit.
“Anak kami berangkat atas nama negara, maka institusi wajib menjelaskan bagaimana dia mati. Ini soal kehormatan prajurit dan kepercayaan rakyat kepada TNI,” ujar perwakilan keluarga, Chayas Wuarlela.
Keluarga menolak menerima penjelasan simpang siur atas gugurnya seorang prajurit penjaga benteng NKRI. Mereka menuntut Panglima TNI turun tangan membongkar misteri yang menyelimuti kematian Pratu Samuel.
Empat Saksi Kunci yang Wajib Diperiksa
Keluarga secara spesifik mendesak pemeriksaan maraton terhadap empat orang yang dinilai memegang informasi penting. Mereka adalah Pratu Subhi, Prada Gede, Beni warga Desa Long Api, dan Riki Vernando perawat IGD RS Adi Pratama Krayan.
Pratu Subhi disebut sebagai personel pertama yang menerima informasi awal dari warga bernama Beni. Bersama Prada Gede, ia lantas bergerak ke lokasi kejadian.
Namun, apa yang sebenarnya dilihat kedua prajurit di tempat kejadian perkara masih menjadi tanda tanya besar. Kondisi fisik Pratu Samuel saat pertama kali ditemukan hingga bagaimana laporan itu diteruskan ke satuan belum terungkap jelas.
Misteri juga menyelimuti ruang medis. Keluarga menuntut pemeriksaan ketat terhadap perawat IGD yang menangani almarhum di detik-detik terakhir.
Catatan penanganan medis mengindikasikan adanya benturan keras di bagian kepala Pratu Samuel. Temuan ini bertolak belakang dengan klaim bahwa ia meninggal karena sakit.
“Kami tidak ingin membuat kesimpulan sendiri. Kami hanya meminta semuanya diperiksa berdasarkan bukti medis dan dokumen yang ada. Keterangan mereka harus diuji dan dicocokkan dengan fakta lapangan serta rekam medis,” tegas Chayas.
Lima Tuntutan Mutlak ke Panglima TNI
Keluarga melayangkan lima tuntutan mutlak yang ditujukan langsung ke meja Panglima TNI. Pertama, audit total laporan satuan untuk mengusut akar munculnya dua versi penyebab kematian.
Kedua, pemeriksaan empat saksi kunci secara resmi dan mendalam. Ketiga, transparansi kronologi resmi mulai dari TKP, evakuasi, penanganan medis IGD, hingga proses administrasi.
Keempat, visum atau autopsi ulang secara independen jika diperlukan untuk mengungkap kebenaran medis. Kelima, akses penuh terhadap seluruh berkas dan Berita Acara Penanganan IGD RS Krayan diberikan kepada keluarga.
Keluarga menilai kelima tuntutan ini adalah harga mati untuk menjawab pertanyaan publik. Sebab, kematian seorang prajurit di garis depan tidak layak diselimuti kabar simpang siur.
Kebenaran Tidak Boleh Ikut Dikuburkan
Pratu Samuel telah gugur di ujung batas negeri. Ia tidak akan pernah kembali untuk menceritakan sendiri apa yang dialaminya.
Keluarga di Tanimbar kehilangan anak mereka untuk selamanya. Namun, mereka menolak kehilangan kebenaran atas kematiannya.
Kini bola panas berada di tangan Panglima TNI. Keluarga menanti ketegasan institusi tertinggi militer untuk membuktikan bahwa seorang prajurit boleh gugur, tetapi kebenaran atas kematiannya haram dikuburkan.
Pertanyaan publik kini menggantung: apakah TNI bersedia membuka seluruh fakta, atau justru membiarkan misteri ini terus menyelimuti perbatasan negeri?*(Tim)