Langkah Nahdlatul Ulama di tingkat daerah selalu menghadirkan dinamika yang menarik, terutama ketika sosok-sosok dengan akar sejarah kuat mulai tampil ke permukaan. Salah satunya adalah Imran Barges, yang kini masuk dalam bursa calon pimpinan Nahdlatul Ulama Kabupaten Buru dengan mengusung tema besar: berkhidmat di jalan dakwah.
Bagi Imran, NU bukan sekadar organisasi, melainkan bagian dari denyut nadi kehidupannya. Darah NU yang mengalir dalam dirinya bukanlah ungkapan simbolik semata. Ia tumbuh dari warisan nilai dan perjuangan, di mana sang kakek tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Pulau Buru. Jejak pengabdian itu bahkan meluas hingga ranah politik, ketika kakeknya pernah menjadi perwakilan DPRD Maluku Tengah dari Partai Nahdlatul Ulama pada masanya.
Warisan sejarah ini bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab moral. Dalam konteks hari ini, ketika tantangan dakwah semakin kompleks—baik dari sisi sosial, budaya, maupun perkembangan zaman—dibutuhkan figur yang tidak hanya memahami tradisi, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam langkah nyata. Imran Barges tampaknya ingin menempatkan dirinya di titik itu: menjadi jembatan antara nilai-nilai klasik NU dan kebutuhan umat di era modern.
Tema berkhidmat di jalan dakwah yang diusungnya pun mencerminkan semangat pengabdian yang tidak berorientasi pada kekuasaan, melainkan pelayanan. Dakwah, dalam pengertian NU, bukan hanya soal ceramah di mimbar, tetapi juga kehadiran nyata di tengah masyarakat—menyelesaikan persoalan, merawat harmoni, dan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah tetap hidup dan relevan.
Kabupaten Buru, dengan keragaman sosial dan dinamika keagamaannya, membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua elemen. Dalam hal ini, latar belakang keluarga, pengalaman sosial, serta kedekatan emosional dengan NU menjadi modal penting yang dimiliki Imran Barges.
Namun, seperti halnya proses organisasi yang sehat, bursa calon pimpinan bukanlah sekadar tentang siapa yang memiliki garis keturunan atau sejarah panjang, melainkan siapa yang paling siap mengemban amanah ke depan. Publik NU di Buru tentu akan menilai bukan hanya dari masa lalu, tetapi juga dari visi, kapasitas, dan komitmen nyata.
Jika Imran Barges mampu menjawab harapan itu, maka kehadirannya bukan sekadar melanjutkan jejak leluhur, tetapi juga menorehkan babak baru dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di Pulau Buru—sebuah perjalanan yang tetap setia pada khidmat, dakwah, dan pengabdian kepada umat.