Beranda blog Halaman 710

Pesawat ATR Hilang Kontak, Memuat 11 Orang, Ini Nama Kru dan Penumpang Yang Ada , Simak Selengkapnya👇

0

Pesawat ATR rute Jogyakarta-Makassar hilang kontak di Maros.

– Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak ketika berada di wilayah pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada hari Sabtu (17/1/2026).

Pesawat ini dikabarkan membawa total 11 orang yang terdiri dari 8 kru dan tiga penumpang. Pesawat ini dalam perjalanan dari Jogyakarta ke Kota Makassar.

Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muh Arif Anwar, pesawat itu sedang dalam status disewa oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Pesawat ini dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1) siang.

“Kami menerima info dari Airnav Makassar bahwa telah hilang kontak satu pesawat jenis ATR 400 milik IAT (Indonesia Air Transport) yang dioperasikan oleh atau disewa oleh KKP seperti itu,” kata Muh Arif.

“Jumlah penumpang 11 orang, terdiri dari 8 kru dan 3 penumpang yang ikut di atas on board,” tambahnya.

Sesuai data manifes, 8 orang kru pesawat yang bertugas dalam penerbangan itu sebagai berikut:

1. Capt. Andy Dahananto

2. Sic Fo. Yudha Mahardika

3. Xcu Capt. Sukardi

4. Foo. Hariadi

5. Eob. Franky D Tanamal

6. Eob. Junaidi

7. Fa. Florencia Lolita

8. Fa. Esther Aprilita.

Sedangkan identitas 3 orang penumpang yang sebagai berikut:

1. Deden

2. Ferry

3. Yoga

Hingga sekarang pihak berwenang masih melakukan upaya maksimal untuk melacak keberadaan pesawat itu.

Muh Arif menjelaskan, Basarnas Makassar sudah mengerahkan personel ke titik kontak terakhir pesawat IAT itu berdasarkan data koordinat yang dikirim oleh Airnav Makassar. Ia menjelaskan, lokasi terakhir pesawat terdeteksi berada di daerah Taman Nasional Bantimurung.

“Tim kami sudah sampai di sana dan telah membuat satu posko SAR gabungan di daerah Bantimurung,” katanya.

Selain pengerahan tim darat, Basarnas juga sudah meminta bantuan kepada TNI AU untuk mengerahkan Helikopter Caracal.

Helikopter ini diharapkan bisa membantu proses observasi dari udara untuk mempercepat penemuan lokasi pesawat di medan pegunungan. (*)

Ibrahim Wael Apresiasi Kepedulian PT HAM, Harap Pembangunan Jalan Waiasel–Kaiely Dilanjutkan

0

Tokoh adat Petuanan Kaiely, Ibrahim Wael, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada PT Harmoni Alam Manise (PT HAM) atas kepeduliannya terhadap pembangunan infrastruktur jalan di wilayah pesisir Kabupaten Buru, khususnya jalan penghubung Kaiely–Anhoni sepanjang hampir 15 kilometer.

Ibrahim Wael menilai pembangunan jalan tersebut merupakan bukti nyata kehadiran dan kepedulian perusahaan terhadap kebutuhan masyarakat yang selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan akses transportasi. Jalan yang dibangun menggunakan dana pribadi perusahaan itu kini menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga, sekaligus membuka keterisolasian wilayah Kaiely dan sekitarnya.

“Saya atas nama masyarakat Desa Kaiely mengucapkan terima kasih kepada PT HAM atas kepeduliannya. Jalan ini sangat membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dan membuka akses menuju pusat pelayanan,” ujar Ibrahim Wael, Sabtu (17/1)

Lebih lanjut, Ibrahim Wael juga menyampaikan harapan besar agar PT Harmoni Alam Manise dapat melanjutkan kontribusinya dengan membangun jalan lanjutan dari belakang Pom Bensin Desa Waiasel menuju Negeri Kaiely. Menurutnya, ruas jalan tersebut sangat strategis karena akan semakin memperlancar arus transportasi masyarakat, distribusi hasil kebun dan laut, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.

“Pembangunan jalan dari Waiasel ke Kaiely sangat kami harapkan. Jika terwujud, maka akses masyarakat akan semakin terbuka dan kesejahteraan bisa meningkat,” tambahnya.

Ibrahim Wael menegaskan bahwa masyarakat Petuanan Kaiely siap mendukung dan menjaga setiap pembangunan yang dilakukan demi kepentingan bersama. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merawat jalan yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Pembangunan jalan Kaiely–Anhoni oleh PT Harmoni Alam Manise kini menjadi simbol kolaborasi antara dunia usaha dan masyarakat adat. Kepedulian tersebut tidak hanya menghadirkan infrastruktur fisik, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi masa depan masyarakat Kaiely dan Batabual.(Tim)

Ucapan Terima Kasih Tokoh Adat atas Kepedulian PT HAM Bangun Jalan Kaiely-Anhoni

0

Tokoh adat Petuanan Kaiely, Onyong Wael, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada PT Harmoni Alam Manise (HAM) atas pembangunan jalan penghubung dari Kaiely ke Anhoni sepanjang hampir 15 kilometer. Jalan yang dibangun dengan dana pribadi perusahaan ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat, yang selama 26 tahun sejak pemekaran kabupaten, belum pernah tersentuh aspal.

Dalam pernyataannya, Onyong Wael menyampaikan bahwa perhatian dan kepedulian PT Harmoni Alam Manise bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi juga membuka pintu kesempatan bagi masyarakat pesisir Kecamatan Kaiely dan Batabual untuk lebih mudah mengakses ibu kota Kabupaten Buru. “Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada PT Harmoni Alam Manise. Jalan ini bukan hanya memudahkan aktifitas sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol harapan dan kemajuan bagi masyarakat kami,” ujar Onyong, Kamis, (15/1)

Perwakilan PT Harmoni Alam Manise, menegaskan bahwa pembangunan jalan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. “Kami ingin memastikan masyarakat pesisir dapat mengakses layanan publik, pendidikan, dan ekonomi dengan lebih mudah. Jalan sepanjang 15 kilometer ini diharapkan menjadi penghubung yang membawa perubahan nyata, sekaligus membuka keterisolasian wilayah Kaiely dan Batabual,” ujarnya.

Pembangunan jalan Kaiely–Anhoni menjadi contoh nyata bagaimana kepedulian sosial dan tanggung jawab perusahaan dapat bersinergi dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat kini bisa merasakan manfaat langsung dari jalan yang telah lama dinanti, membuka peluang ekonomi, sosial, dan budaya yang lebih luas, serta mempererat keterhubungan antarwilayah.

Dengan semangat kebersamaan, Onyong Wael menekankan pentingnya menjaga dan merawat jalan ini agar dapat terus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas. Jalan yang dulunya hanya menjadi mimpi kini telah menjadi kenyataan, berkat kepedulian PT Harmoni Alam Manise yang tulus.(AS)

Data Lamban, Derita Korban Banjir Makin Berat, Kepala Daerah Harus Bertanggung Jawab

0

 

ACEH -Mediaistana.com 

Sabtu 17 Januari 2026
Lambannya proses pendataan terhadap korban terdampak banjir, menunjukkan lemahnya kinerja birokrasi dan tata kelola pemerintah ditingkat gampong dan daerah sangat buruk

Ketua Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh, Masri, sangat menyayangkan atas lambannya proses pendataan terhadap korban yang terdampak, lambannnya kerja pemerintah gampong dan daerah ikut memperpanjang penderitaan korban bencana banjir.

“Ini sudah 50 hari pasca banjir, akan tetapi data saja masih belum siap, seharusnya pemerintah sudah bisa menyalurkan bantuan dana panik yang sangat dibutuhkan oleh para korban, ini menunjukkan betapa bobroknya birokrasi dan tata kelola pemerintahan ditingkat gampong dan daerah,” kata Masri.

Menurut Masri, Selain terlambat dalam proses pendataan, banyak keluhan korban banjir yang memdapatkan perlakuan diskrimimatif, adanya tebang pilih dari petugas pendataan ditingkat gampong.

“Ada beberapa laporan dari warga, mengeluh karena mendapatkan perlakuan diskriminatif dari petugas yang melakukan pendataan di tingkat gampong, bahkan proses pendataan dilakukan di atas meja tanpa turun langsung melihat kondisi kerusakan rumah, sehingga ada beberapa korban yang mengalami rumahnya rusak parah, namun dalam pendataan rusak sedang dan ringan atau sebaliknya,,” ujar Masri

Masri juga menambahkan, lambatnya pendataan ada indikasi terjadinya praktek manipulasi data korban, sehingga dikhawatirkan penerima bantuan tidak tepat sasaran.

“Tidak tertutup kemingkinan adanya indikasi terjadinya praktek manipulasi data korban, dan ini yang paling kita khawatirkan, sebab berpotensi terjadi konflik di masyarakat,” tambah Masri.

Masri menegaskan, akibat Lambannya pendataan secara valid terhadap data korban, Keuchik, Kepala Daerah Bupati/Walikota harus bertanggung jawab, sebab itu menyangkut nasib korban banjir.

“Atas keterlambatan data korban, Keuchik, Bupati/walikota, dan Camat harus bertanggung jawab,” tegas Masri

Aliansi Pers berharap kepada Aparat Penegak Hukum(APH) menindak tegas pihak pihak yang bermain melakukan manipulasi data, karena itu bentuk kejahatan, bukan hanya merugikan korban yang benar-benar terdampak, akan tetapi menyebabkan kerugian negara, tutup Masri(MN) 

Lawan Rasisme Salman (ASPRI BUPATI), Aliansi Wong Dermayu Siap Demo Gabungan

0

Lawan Rasisme Salman, (ASPRI BUPATI), Aliansi Wong Dermayu Siap Demo Gabungan

INDRAMAYU – mediaIstana.com
Aliansi Wong Dermayu Bersatu (AWDB) yang terdiri dari berbagai unsur masyarakat Indramayu siap turun ke jalan melawan pernyataan rasisme Salman.

Aksi demo gabungan yang terdiri dari LSM, Ormas, aktivis dan masyarakat Indramayu dijadwalkan berlangsung pada Senin lusa, (19/1).

“Kita sudah satu suara, akan turun ke jalan melawan kesombongan Stafsus Bupati Indramayu, Salman yang kami nilai sudah mengarah ke Rasis. Di Indramayu tidak ada tempat untuk manusia Rasis dan tidak beradab,”jelas Kordinator Umum (Kordum) AWDB, Asmawi Day didampingi Korlap demo, Tomi Susanto yang akrab dipanggil Tomsus.

Menurut Tomsus, saat ini AWDB sedang menyiapkan semua pendukung untuk kelancaran aksi Senin lusa, termasuk rapat teknis akhir yang dihadiri sejumlah unsur ketua baik dari LSM, Ormas, aktivis, mahasiswa dan perwakilan masyarakat Indramayu termasuk korban PHK dari pegawai outsorcing Diskominfo, di area Sport Center, Jumat kemarin (16/1).

“Sekarang kita sedang buat surat ijin tertulis atau tembusan demo untuk Polres Indramayu. Intinya, kita lawan kesombongan Salman, dan silahkan Stafsus Bupati Indramayu angkat kaki dari Indramayu,”tegas Tomsus.

Ditegaskan Tomi, dalam aksi nanti, pihaknya juga akan meminta kejelasan pihak vendor dalam hal ini PT BSM (Bintang Service Management) sebagai penyedia tenaga kerja yang dinilai semena-mena dan tidak prosuderal dalam memutus hubungan kerja para karyawannya, seperti yang menimpa pada Wanginah, Komar dan lainnya.

Salah satu korban PHK dari tenaga outsorcing PT BSM yang ditugaskan di Diskominfo, Wanginah (40) akan terus menyuarakan hak-haknya untuk keadilan. Menurutnya, pemutsan kerja sepihak dari penyedia jasa PT BSM dinilai tidak beres, banyak yang janggal dan ada intervensi dari pihak luar, termasuk sudah otoriter. Praktik kotor ini patut diluruskan untuk kebaikan para pekerja outsorcing ke depan.

Sebelumnya diberitakan, Stafsus Bupati Indramayu, Salman, menjadi sorotan publik menyusul pernyataannya yang dinilai rasis.

Kalimat bernada rasis itu Salman lontarkan saat bertemu dengan dua pegawai outsourcing Dinas Kominfo setempat yang dipecat tanpa alasan yang jelas.

Pertemuan berlangsung di pendopo setempat pada malam hari tanggal 10 Januari 2026. Salman tak sendiri, ia didampingi asisten pribadi Bupati Indramayu Lucky Hakim bernama Mansur.

Sedangkan dua tenaga outsourcing yang dipecat itu yakni Wanginah dan Komar.

Kedua mantan tenaga outsourcing itu sengaja datang ke pendopo untuk mengklarifikasi soal pemecatan. Sebab mereka mendengar, pemecatan itu atas pesanan Mansur dan Salman.

“Kami datang untuk meminta penjelasan, sebab kabar yang beredar, Mansur dan Salman menekan pimpinan kami di Diskominfo agar memberhentikan kami,” ungkap Wanginah, Jumat 16 Januari 2026.

Pertemuan berubah memanas ketika Salman dan Mansur membantah tudingan tersebut. Diluar dugaan, Salman malah melontarkan kalimat bernada rasis dihadapan Wanginah dan Komar.

“Saya Salman, berdarah Madura, bertulang putih dan bermata putih tidak akan pernah takut dengan siapapun. Sy tidak akan patuh pada perintah siapapun di Indramayu ini kecuali bupati Indramayu Lucky Hakim. Karena saya orangnya Lucky Hakim bukan orangnya siapapun” jelas Wanginah menirukan pernyataan Salman.

Iyons74

STIKIP Kutacane Wisuda 87 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026.

0

STIKIP Kutacane Wisuda 87 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026.Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Bahasa indonesia (STIKIP) Kutacane Tahun Akademik 2025/2026 berlangsung di Stikip Usman Sapri Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), Sabtu (17/januari/2026).

Acara Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Aceh Tenggara Kutacane berlangsung khidmat dan dibuka langsung oleh kepala (ATI ROSMITA S.S M Pd.) KETUA PRODI Stikip Kutacane dan dihadiri Ketua Yayasan Stikip Usman sapri Kutacane jajaran dosen Stikip usman Sapri Kutacane, Setdakab Agara dan mewakili, sebagai orasi ilmiah mewakili asisten satu para Mahasiswa wisuda, orang tua wali wisuda dan tamu undangan lainnya.

Adapun yang di wisudakan Tahun Angkatan lV Sekolah Tinggi Stikip usman sapri Kutacane yaitu 87 mahasiswa di 3 Program Studi, Pendidikan bahasa indonesia dan inggris 87 mahasiswa, Pendidikan bahasa inggris.

Seusai acara ditemui awak media salah satu wisudawan Mediaistana com.Mahasiswa Program Studi Bahasa indonesia angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026 terlihat senang dan bersyukur telah wisuda pada hari ini sabtu 17 januari 2026 mengatakan, “Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah S1 dan dapat wisuda hari ini terutama terimakasih kepada kedua orangtua saya karna berkat doa beliau saya hingga dapat saat ini dan para Dosen Stikip Kutacane” ungkapnya.

STIKIP Kutacane Wisuda 85 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026

0

STIKIP Kutacane Wisuda 85 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026.

Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Bahasa indonesia (STIKIP) Kutacane Tahun Akademik 2025/2026 berlangsung di Stikip Usman Sapri Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), Sabtu (17/januari/2026).

Acara Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Aceh Tenggara Kutacane berlangsung khidmat dan dibuka langsung oleh kepala (ATI ROSMITA S.S M Pd.) KETUA PRODI Stikip Kutacane dan dihadiri Ketua Yayasan Stikip Usman sapri Kutacane jajaran dosen Stikip usman Sapri Kutacane, Setdakab Agara dan mewakili, sebagai orasi ilmiah mewakili asisten satu para Mahasiswa wisuda, orang tua wali wisuda dan tamu undangan lainnya.

Adapun yang di wisudakan Tahun Angkatan lV Sekolah Tinggi Stikip usman sapri Kutacane yaitu 87 mahasiswa di 3 Program Studi, Pendidikan bahasa indonesia dan inggris 87 mahasiswa, Hukum Ekonomi Syariah 87 mahasiswa, Pendidikan bahasa inggris.

Seusai acara ditemui awak media salah satu wisudawan Mediaistana com.Mahasiswa Program Studi Bahasa indonesia angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026 terlihat senang dan bersyukur telah wisuda pada hari ini sabtu 17 januari 2026 mengatakan, “Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah S1 dan dapat wisuda hari ini terutama terimakasih kepada kedua orangtua saya karna berkat doa beliau saya hingga dapat saat ini dan para Dosen Stikip Kutacane” ungkapnya.

Babinsa Koramil Kokonao Jadikan Komsos Sebagai Media Jalin Silaturahmi Bersama Warga Binaan

0

Babinsa Koramil Kokonao Jadikan Komsos Sebagai Media Jalin Silaturahmi Bersama Warga Binaan

Jakarta -MEDIA ISTANA Timika – Guna menciptakan kedekatan bersama warga di wilayah binaan, Babinsa Koramil 1710-01/Kokonao, Kodim 1710/Mimika Sertu Federik Sada melaksanakan Komunikasi Sosial (Komsos) bersama masyarakat di Kp. Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kab. Mimika, Sabtu (17/01/2026).

Sertu Sada menjelaskan kegiatan Komsos adalah salah satu media Babinsa untuk mengenal warganya lebih dekat lagi dan sebagai sarana silaturahmi kepada warga binaannya agar warga menjadi lebih dekat dan akrab dengan Babinsa. Selain itu kegiatan Komsos ini bertujuan untuk mencari informasi dan mengetahui perkembangan situasi di wilayah desa binaan.

“Kegiatan Komsos ini dilakukan karena sudah menjadi tugas pokok sebagai seorang Babinsa yang senantiasa melaksanakan Komsos untuk mencari informasi dan sebagai sarana bersilaturahmi kepada warga supaya lebih dekat dan bisa menjalin kebersamaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sertu Sada menambahkan bahwa kegiatan Komsos juga dapat mencerminkan Kemanunggalan TNI khususnya Babinsa bersama masyarakat sehingga jika dilaksanakan secara rutin maka akan tercipta suasana yang harmonis dalam setiap pelaksanaan tugas Babinsa di lapangan. (Pendim 1710/Mimika)

Hamdan Bima

Pernikahan Beda Negara di Mandar: Antara Romantika, Kelengahan, dan Ancaman Tersembunyi

0

Pernikahan tak pernah lahir dari ruang hampa. Ia selalu diawali komunikasi, pertemuan, dan relasi yang terbangun secara sadar. Maka ketika data resmi Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat mencatat lonjakan pernikahan antara perempuan lokal Tanah Mandar dengan pria warga negara asing, publik berhak bertanya: apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Fenomena ini terkonsentrasi di wilayah Pambusuang, Bala, dan Campa. Angkanya meningkat dari tahun ke tahun. Anehnya, negara seolah tak merasa perlu bersikap waspada. Aparat pengawasan orang asing tampak memperlakukan fakta ini sebagai hal biasa—sekadar urusan pribadi, bukan isu strategis.

Di tengah euforia sebagian masyarakat yang menganggap pernikahan dengan warga asing sebagai simbol prestise sosial, negara justru berpotensi kehilangan kendali atas ruang sosial, budaya, dan keamanan wilayah.

Tanah Mandar bukan kawasan wisata bebas kontrol. Ia adalah wilayah adat dengan sejarah, nilai, dan struktur sosial yang rapuh bila disentuh oleh arus asing tanpa pengawasan ketat. Kehadiran warga negara asing—apalagi dalam jumlah meningkat—tidak bisa dilepaskan dari risiko kejahatan lintas negara.

Pertanyaannya tajam dan tak bisa dihindari:

Siapa mereka?

Apa aktivitas mereka sebelum dan sesudah pernikahan?

Bagaimana status izin tinggal, sumber penghidupan, dan jejaring sosialnya?

Ketika pengawasan longgar, spekulasi publik tumbuh subur. Bukan tanpa alasan. Sejarah kejahatan narkotika di berbagai daerah menunjukkan pola serupa: wilayah sunyi, pengawasan lemah, masyarakat lengah.

Maka wajar jika publik mempertanyakan: apakah mungkin wilayah Tanah Mandar disusupi aktivitas ilegal seperti penanaman ganja, produksi narkotika sintetis (inex dan ekstasi), atau distribusi lintas wilayah?

Sekali lagi, ini bukan tudingan, melainkan alarm dini atas potensi kejahatan yang kerap luput dari deteksi negara.

Lebih mengkhawatirkan, erosi budaya Mandar kini berjalan beriringan dengan derasnya pengaruh digital global. Tanpa kontrol, generasi muda berisiko kehilangan pijakan nilai, sementara negara terlambat membaca ancaman yang tumbuh perlahan namun sistematis.

Atas dasar itu, Kapolda Sulawesi Barat melalui jajaran Satuan Pengawasan Orang Asing perlu segera:

melakukan pendataan ulang seluruh pernikahan beda negara,

membuka audit administratif dan izin tinggal, serta

menjalankan penyelidikan tertutup berbasis intelijen.

Negara tidak boleh kalah oleh kelengahan sendiri.

Cinta boleh lintas batas. Namun keamanan, budaya, dan kedaulatan tidak boleh dinegosiasikan. Tanah Mandar bukan ruang abu-abu.

Ia bagian sah Republik Indonesia yang wajib dijaga—sebelum terlambat.

OPINI; KETUA GEBRAK SULBAR

 

RSUD Lala: Harapan Besar di Atas Pondasi Kejujuran dan Tanggung Jawab Direktur Baru

0

Oleh: Chairul Syam

Pembangunan Rumah Sakit Daerah Lala di Kecamatan Namlea bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah simbol harapan ribuan masyarakat Buru akan pelayanan kesehatan yang lebih layak, manusiawi, dan bermartabat. Dengan dukungan anggaran APBN yang nilainya lebih dari seratus miliar rupiah, negara sesungguhnya telah menunjukkan keberpihakannya: kesehatan adalah hak dasar yang tidak boleh ditunda.

Peletakan batu pertama oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, didampingi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Bupati Buru Ikram Umasugi, menjadi penanda kuat bahwa proyek ini berada dalam sorotan nasional. Momentum itu mengandung pesan jelas: pembangunan ini harus selesai tepat waktu, tepat mutu, dan tepat guna.

Namun harapan besar sering kali diuji oleh kenyataan di lapangan. Dalam perjalanan proyek, publik dikejutkan oleh fakta bahwa pada masa ketika progres seharusnya telah menyentuh angka 50 persen, realisasi pekerjaan justru baru mencapai 16,24 persen. Angka ini bukan sekadar statistik teknis, melainkan alarm bagi akuntabilitas dan keseriusan semua pihak yang terlibat.

Masyarakat tentu berhak bertanya: bagaimana mungkin proyek strategis dengan pengawasan berlapis dan dana besar bisa tertinggal sejauh itu? Pertanyaan ini penting, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan agar kesalahan tidak diwariskan, dan kegagalan tidak diulang.

Sejarah telah memberi pelajaran pahit. Rumah Sakit di Tatanggo masih menjadi ingatan kolektif tentang proyek kesehatan yang gagal dan terbengkalai. Banyak pihak meyakini, jika tidak terjadi perubahan arah dan kepemimpinan baru dalam pengelolaan proyek, bukan tidak mungkin Rumah Sakit Lala akan bernasib serupa—terbengkalai, kehilangan makna, dan jauh dari tujuan awalnya.

Di titik inilah publik menaruh harapan pada hadirnya kepemimpinan baru. Penunjukan direktur rumah sakit yang baru dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan pembenahan menyeluruh, memperkuat koordinasi, serta memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan berjalan sesuai rencana dan standar. Kepemimpinan yang segar diharapkan membawa semangat profesionalisme, keterbukaan, dan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan masyarakat.

Pergantian kepemimpinan rumah sakit pada akhirnya membuka jalan bagi perbaikan. Ini membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya soal beton dan besi, tetapi juga soal integritas, ketegasan, dan keberanian mengambil keputusan. Tanpa itu, sebesar apa pun anggaran, proyek hanya akan menjadi monumen kegagalan.

Dengan kepemimpinan direktur RSUD yang baru, optimisme itu kini menemukan pijakan yang lebih nyata. Progres pembangunan PHTC yang sebelumnya terhenti pada angka 16,23 persen kini diharapkan dapat digenjot secara signifikan hingga mencapai sekitar 90 persen penyelesaian, membuka jalan bagi Rumah Sakit Lala untuk naik kelas menuju rumah sakit tipe C. Jika komitmen, pengawasan, dan tata kelola dijalankan secara konsisten, rumah sakit ini bukan hanya dapat difungsikan untuk melayani masyarakat Kabupaten Buru, tetapi juga menjadi pusat rujukan bagi kabupaten-kabupaten tetangga.

Kini, masyarakat menaruh harapan baru. Rumah Sakit Lala harus menjadi simbol kebangkitan tata kelola pembangunan di daerah: transparan, profesional, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Publik tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran dan tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, rumah sakit ini bukan milik proyek, bukan milik pejabat, dan bukan milik kontraktor. Ia adalah milik rakyat—tempat di mana nyawa diselamatkan, harapan dipulihkan, dan kehadiran negara benar-benar dirasakan.

Semoga kabupaten buru, dengan kepemimpinan baru yang membawa arah dan harapan, kita belajar bahwa pembangunan yang berhasil selalu dimulai dari niat yang lurus dan diakhiri dengan tanggung jawab yang utuh.