Terima Kasih Gubernur Maluku, Ketika Laut Kembali Menyapa Wetar: Arti Kemerdekaan yang Sesungguhnya

 

Editorial Redaksi

Ada kemerdekaan yang dirayakan dengan upacara, kibaran Merah Putih dan lantunan lagu kebangsaan. Tetapi ada pula kemerdekaan yang dirasakan jauh lebih sederhana: ketika sebuah kapal kembali merapat ke dermaga, membawa harapan, kebutuhan pokok, tenaga kesehatan, dan kesempatan bagi masyarakat untuk terhubung dengan dunia luar.

Bagi masyarakat Wetar Utara, sandarnya KM Sabuk Nusantara 104 di Pelabuhan Eray pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar peristiwa transportasi. Ia adalah simbol bahwa negara masih hadir di wilayah terluar, terpencil dan selama ini harus bergulat dengan kerasnya jarak serta keterbatasan infrastruktur.

Kerinduan yang sekian lama tersimpan akhirnya menemukan jawabannya di dermaga.

Air mata Kepala Desa Eray Lamberthus Managa ketika menyaksikan kapal kembali singgah, barangkali menjadi gambaran paling jujur tentang betapa mahalnya arti sebuah konektivitas bagi masyarakat kepulauan.

Bagi masyarakat di kota besar, sebuah kapal mungkin hanya sarana transportasi.

Tetapi bagi masyarakat Wetar Utara, kapal adalah urat nadi kehidupan.

Kapal membawa sembako. Kapal membawa hasil bumi. Kapal menghubungkan keluarga. Kapal membuka akses pendidikan dan perdagangan. Bahkan dalam keadaan darurat, kapal dapat menjadi jalan penyelamatan bagi pasien yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit di luar pulau.

Karena itu, ketika Pdt. Deasy Tayanne menyebut bahwa penderitaan masyarakat selama terputusnya rute tersebut terasa di berbagai sektor—kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi—sesungguhnya ia sedang berbicara tentang wajah nyata kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan.

Kemerdekaan Harus Terasa Sampai ke Dermaga Terjauh

Indonesia bukan hanya Jakarta, Surabaya, Ambon atau kota-kota besar lainnya.

Indonesia juga adalah Eray.

Indonesia adalah Wetar.

Indonesia adalah pulau-pulau kecil yang berdiri di garis terluar Nusantara, tempat masyarakatnya setiap hari menjaga kehidupan sekaligus menjaga batas geografis Republik Indonesia.

Karena itu, pembangunan konektivitas di kawasan 3T tidak boleh dilihat sebagai sekadar proyek transportasi. Ia adalah bagian dari kewajiban negara menghadirkan keadilan.

Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika bendera Merah Putih berkibar di halaman kantor pemerintahan.

Kemerdekaan juga harus terasa ketika seorang ibu hamil dapat memperoleh akses rujukan dengan aman.

Ketika seorang pasien gawat darurat memiliki jalan untuk mendapatkan pertolongan.

Ketika harga kebutuhan pokok tidak melambung hanya karena biaya transportasi.

Ketika seorang anak di pulau terluar merasa bahwa masa depannya tidak kalah hanya karena ia dilahirkan jauh dari pusat pemerintahan.

Di situlah makna pembangunan menemukan wajah kemanusiaannya.

Pemimpin Diukur dari Jejak, Bukan Sekadar Kata

Apresiasi masyarakat Wetar kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa patut ditempatkan dalam perspektif yang sehat.

Seorang pemimpin memang tidak cukup hanya berbicara tentang pembangunan. Masyarakat membutuhkan tindakan yang dapat dirasakan.

Jika aspirasi masyarakat diteruskan kepada pemerintah pusat, kemudian menghasilkan kembali beroperasinya konektivitas laut perintis, maka masyarakat berhak melihatnya sebagai sebuah langkah positif.

Ungkapan seorang tokoh masyarakat bahwa “pemimpin itu pembuktian kata-kata, bukan retorika” menjadi pesan yang sangat kuat.

Sebab politik pada akhirnya bukan tentang seberapa indah sebuah janji diucapkan.

Politik adalah tentang seberapa banyak persoalan rakyat yang dapat diselesaikan.

Dan bagi masyarakat Wetar Utara, satu kapal yang kembali datang mungkin jauh lebih berarti daripada seribu kata tentang pembangunan.

Jangan Biarkan Wetar Kembali Terisolasi

Namun kebahagiaan ini jangan berhenti sebagai seremoni.

Kembalinya KM Sabuk Nusantara 104 harus menjadi awal dari konsistensi pelayanan transportasi bagi masyarakat Wetar Utara.

Masyarakat tentu berharap rute ini tidak kembali hilang tanpa kepastian. Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat perlu memastikan keberlanjutan pelayanan, memperhatikan kondisi dermaga, keselamatan pelayaran, kebutuhan masyarakat serta kepastian jadwal.

Sebab persoalan konektivitas di Maluku bukan persoalan sehari dua hari.

Maluku adalah provinsi kepulauan. Laut bukan pemisah, melainkan jalan raya yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya.

Karena itu, kebijakan transportasi laut harus dibangun dengan perspektif kepulauan.

Jangan sampai masyarakat baru diperhatikan ketika sebuah kapal berhenti beroperasi, kemudian kembali dilayani setelah penderitaan mereka menjadi sorotan.

Pemerintahan yang baik seharusnya hadir sebelum masalah menjadi krisis.

Wetar Bukan Pinggiran Indonesia

Ada satu kalimat dari Kepala Puskesmas Eray Grace Hobataman yang layak direnungkan: kehidupan di pelosok bukan ancaman, tetapi kebanggaan.

Benar.Wetar bukan halaman belakang Indonesia.Wetar adalah bagian dari wajah Indonesia.

Masyarakat yang tinggal di sana bukan warga kelas dua. Mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, transportasi dan kehidupan ekonomi yang layak.

Justru karena mereka tinggal di wilayah terluar, perhatian negara harus semakin kuat.

Mereka bukan sekadar penghuni pulau.

Mereka adalah bagian dari garda depan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Laut Mengajarkan Kita Arti Persatuan

Pada akhirnya, kisah KM Sabuk Nusantara 104 yang kembali menyinggahi Eray mengajarkan sebuah hal sederhana:

Persatuan Indonesia harus dibangun dengan konektivitas yang nyata.

Jangan biarkan jarak geografis berubah menjadi jarak keadilan.

Jangan biarkan laut yang luas membuat rakyat merasa jauh dari negaranya sendiri.

Dan jangan biarkan masyarakat di pulau-pulau terluar hanya menjadi penonton ketika pembangunan berlangsung di pusat-pusat pertumbuhan.

Biarlah kapal-kapal terus berlayar.

Biarlah dermaga-dermaga kembali ramai.

Biarlah sembako, pendidikan, pelayanan kesehatan, perdagangan dan harapan bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya.

Sebab ketika sebuah kapal merapat di Eray, sesungguhnya yang sedang merapat bukan hanya sebuah kapal.

Yang sedang merapat adalah harapan.

Dan ketika masyarakat Wetar menyambutnya dengan air mata dan sukacita, sesungguhnya mereka sedang mengatakan kepada Indonesia:

“Kami jauh dari pusat kekuasaan, tetapi kami tidak pernah jauh dari Indonesia.”

Itulah kemerdekaan yang harus terus dijaga.

Kemerdekaan yang bukan hanya dikibarkan di tiang bendera, tetapi dirasakan sampai ke dermaga paling jauh di negeri kepulauan ini.

 

(Mus Ltc)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!