Saumlaki,mediaistana.com -Dugaan manipulasi opini publik mencoreng dinamika politik di Saumlaki setelah tuduhan penolakan hibah bangunan untuk Asrama Mahasiswa Latdalam memicu polemik terbuka dan menyeret nama Yorim Resa Fodratkosu.
Isu yang membenturkan kepentingan fasilitas publik mahasiswa dengan manuver elit ini dinilai Resa sebagai skenario sistematis yang sengaja dirancang untuk merusak reputasi dan membunuh karir politiknya.
Menanggapi klaim yang beredar luas, Resa secara tegas membantah pernah memblokir atau menolak usulan hibah bangunan kos-kosan untuk dijadikan asrama mahasiswa.
”Hal tersebut tidak pernah dibicarakan sama sekali,” tegas Resa saat mengklarifikasi duduk perkara yang memicu keresahan warga Desa Latdalam tersebut.
Ia menekankan bahwa wacana tersebut sengaja diembuskan di tengah jalan guna menciptakan persepsi negatif seolah-olah dirinya menghambat fasilitas pendidikan warga.
”Jangan baru setelah proses eksekusi berjalan, hal-hal seperti ini baru dibicarakan. Itu berbahaya jika dinilai sebagai penggiringan opini liar yang sengaja dibangun belakangan,” ujar Resa.
Konflik ini kian meruncing sebelah pihak
Resa mengungkapkan adanya upaya penyelesaian non-litigasi yang mendadak menemui jalan buntu akibat penolakan pihak lawan.
Kuasa Hukum Resa, Garlos Falirat, membeberkan bahwa sebelum perkara melangkah ke ranah hukum, pihaknya telah menyodorkan opsi restorative justice kepada Jefri Yaran.
Namun, tawaran penyelesaian secara kekeluargaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Jefri Yaran yang memilih membawa sengketa ini ke meja hijau.
”Hal ini ada bukti rekaman dan telah didengarkan oleh sebagian besar masyarakat Desa Latdalam. Jadi jangan menggiring opini dan berupaya menjatuhkan karir politik seseorang,” tegas Falirat.
Merasa publik disusupi narasi fiktif, Resa melayangkan tantangan terbuka agar klaim kesepakatan hibah tersebut dibuktikan secara sah dan transparan.
Ia menilai rekayasa informasi seperti ini tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga membodohi masyarakat yang membutuhkan kepastian fasilitas asrama mahasiswa.
”Saya sangat menyesalkan adanya opini liar yang berusaha menyesatkan publik. Bisa beliau buktikan, kapan dan di mana hal yang beliau maksud itu pernah dibicarakan dan diatur secara resmi?” sindir Resa.
Resa menyayangkan cara-cara politik yang tidak elegan dan dinilainya mengorbankan fakta demi kepentingan narasi sepihak.
”Hebat ya, hidupmu kelihatan penuh warna, sampai-sampai kenyataan saja kalah menarik dibanding ceritamu. Aku kagum dengan imajinasimu,” kata Resa menohok.
Ia pun meminta pihak-pihak yang memproduksi opini tersebut untuk menyadari bahwa kebohongan publik tidak akan bertahan lama di mata warga.
”Melanjutkan cerita yang sudah ketahuan ending-nya itu pasti melelahkan ya? Istirahatlah. Aku diam bukan karena percaya, aku cuma menghargai usahamu yang sedang mengarang bebas,” tambahnya.
Di sisi lain, Jefri Yaran tetap berkukuh pada gagasannya bahwa ia telah mengusulkan hibah bangunan kos-kosan demi kepentingan mahasiswa Desa Latdalam namun berujung pada penolakan.
Ketiadaan titik temu di antara kedua belah pihak kini menjadikan fasilitas publik sebagai objek benturan klaim factual yang belum terverifikasi secara formal.
Skandal saling klaim ini tidak lagi sekadar perselisihan personal, melainkan alarm keras bagi masyarakat Latdalam untuk mencermati kebenaran fakta di balik janji dan isu fasilitas publik.
Ketika fasilitas mahasiswa tersandera oleh kepungan narasi politik yang saling bertolak belakang, transparansi dan pembuktian hukum menjadi satu-satunya pertaruhan untuk menyelamatkan integritas publik.